GARA-GARA HANTU

Posted By Cerpen universal on Friday, May 8, 2020 | May 08, 2020

GARA-GARA HANTU

Pagi ini Maya bersekolah seperti biasa. Dengan berjalan kaki, ia pun berangkat. Embusan angin yang menerpa lembut kulitnya sama sekali tidak membuatnya segar. Akan tetapi, ia tahan rasa kantuk yang dirasakannya demi sekolahnya. Sebenarnya sih, tidak murni demi sekolahnya, melainkan demi bertemu dengan Radit – sahabat yang dari dulu ia suka. Mengingat Radit, membuatnya senyum-senyum sendiri. Namun, tiba-tiba terlintas di benaknya ingatan akan ulangan biologi nanti. Suasana hatinya yang tadi sedikit membaik, kini kembali lagi seperti semula – bad mood.

Setibanya di sekolah, Maya berjalan pelan menuju kelasnya yang ada di lantai tiga. Ia pun meletakkan tasnya, lalu menghampiri Radit.

“Hai…” sapa Maya.

“Lemas amat? Karena makhluk di belakangmu itu, ya? Tuh, dia sedang melambaikan tangan padaku,” balas Radit to the point sambil menunjuk ke arah belakang Maya.

Ketika Maya akan membuka mulut untuk membalas, Radit sudah berbicara lagi, “Sudah, tidak usah dipikirkan, lebih baik kita belajar untuk ulangan nanti.”


Begini… sudah dua hari Maya diikuti oleh sesosok makhluk halus. Radit yang memang punya sixth sense, mengaku melihatnya. Jujur, Maya tidak takut karena hantu tersebut tidak menampakkan diri di depannya, tapi ia sangat mengganggunya lewat suara yang sepertinya suara perempuan. Seperti saat tadi malam, hantu tersebut bukannya diam tapi malah bersenandung kecil – membuat Maya tidak bisa tidur. Alhasil, sekarang ia mengantuk berat dan kantung matanya membesar. Bahkan ia sempat ditegur oleh Pak Edwin – guru bahasa Prancis – karena terlihat tidak konsentrasi.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan. Bunyi bel juga sudah terdengar di penjuru SMA Negeri di Jakarta itu. Sekolah yang menerapkan sistem moving class itu membuat murid-muridnya bergegas meninggalkan kelas. Apalagi murid kelas XII IPA B yang akan ulangan biologi. Mereka dengan cepat menempati tempat yang menurut mereka strategis. Bahkan ada yang sampai bertengkar karena berebut tempat.

“Heh, aku duluan nih yang di sini!” seru si cowok.

“Kamu kan cowok, ngalah dong sama cewek!” balas si cewek tidak mau kalah.

“Peduli setan! Pokoknya-” Suara si cowok terhenti mendadak saat ia menyadari ternyata Bu Wuri dari tadi sudah masuk ke kelas dan sedang melototinya.

“Siapkan lembar jawaban pilihan ganda, sekarang!” Teriakan sang guru membuat murid-muridnya bergidik ngeri.


Sisa waktu hanya tersisa sepuluh menit. Namun, Maya baru mengerjakan sepuluh dari 25 soal yang tersedia. Menurutnya, tak mungkin ia bisa mengerjakan soal-soal itu dalam waktu yang amat singkat. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara yang samar-samar berbisik di telinganya, ‘Nomor lima jawabannya A, kalau nomor delapan itu C.’ Mendengar suara itu, Maya hanya bisa menghela napas.

“Diam kau, dasar hantu pengganggu,” tegasnya dengan suara lirih, “pergi sana!”

Tetapi, makhluk itu tetap saja mengoceh memberikan jawaban kepadanya.

Hal itu membuat Maya sangat jengkel dan dengan spontan ia berteriak, “BISAKAH KAU DIAM?!”

Sontak, teriakannya mengundang perhatian kelas termasuk Bu Wuri. ”Maya, temui saya di ruang BK jam istirahat.”

Walaupun suaranya terdengar tenang, tapi bisa dirasakan aura gelap membuncah berkoar di sekitarnya.

“Baik, Bu.”


Maya berjalan dengan gontai sekeluarnya dari ruangan BK. Sudah cukup, ia tidak mau dibebani oleh makhluk aneh menyebalkan itu lagi. Baru beberapa hari saja, sudah memberinya kesialan tertubi-tubi. Maya harus mencari cara untuk mengusir hantu itu. Tunggu dulu, kenapa ia tidak meminta tolong saja pada Radit? Radit ‘kan punya sixth sense, dia juga bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib seperti itu. Kemudian ia bergegas mencari Radit, dicarinya dari perpustakaan hingga kantin. Namun hasilnya nihil.

“Duh, ke mana ya si Radit?” tanya Maya entah pada siapa dan ia melanjutkan pencariannya yang tertuju pada satu tempat-gudang.

Dugaan Maya tepat, Radit ada disana.

“Sedang apa kau di sini? Aku mencarimu ke mana-mana.”

Pertanyaan Maya sama sekali tidak ditanggapi olehnya. Kelihatannya baru terjadi sesuatu pada Radit. Raut wajahnya terlihat aneh. Maya lalu mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Radit yang kemudian tersentak kaget.

“Hei, kau kenapa?” tanya Maya.

“Nanti saja kita bicarakan, sudah mau bel masuk,” balasnya sambil melangkah pergi meninggalkan Maya yang masih terpaku.

Bunyi bel menyadarkannya, kemudian ia melihat sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa. Ia berada di tempat yang terkenal paling horor di sekolahnya. Bulu kuduknya mulai merinding, keringat dingin turun membasahi dahinya, kakinya juga seakan-akan menempel di lantai saking sulitnya untuk digerakkan, dan tubuhnya mulai bergetar. Tiba-tiba ia merasa ada ‘sesuatu’ di belakangnya berjalan mendekatinya. Dan ia merasa ‘sesuatu’ itu menyentuh lengannya, dan menariknya perlahan. Maya memberanikan diri untuk berbalik, dan ternyata-

“Dasar payah.” Itu adalah Radit. Dia ternyata menunggu Maya di depan pintu gudang dari tadi.


Sekolah sudah bubar sekitar lima belas menit lalu. Sedangkan Maya masih menunggu Radit yang masih terdiam, seperti sedang berkonsentrasi.

“Apa yang ka-” Ucapan Maya terhenti karena Radit mengayunkan tangannya seakan memberi kode untuk diam.

Setelah beberapa saat, Radit angkat bicara, “Ini tentang hantu itu, saat kau dipanggil ke ruangan BK, dia menghampiriku.”

Maya menanggapinya dengan beberapa anggukan.

“Dia bilang dia mengikutimu karena disuruh oleh seseorang. Orang itu ingin mencelakaimu dengan menggunakannya sebagai mata-mata,” Radit mengambil napas perlahan kemudian melanjutkan, “Jadi intinya, kau harus membebaskan hantu itu dari majikannya.”

Kata-kata Radit tadi masih terngiang di pikiran Maya. Menurutnya, membantu membebaskan hantu itu adalah tidak adil setelah apa yang telah hantu itu perbuat.

“Harus sekarang, ya?”

“Aku tidak mau menolong kalau terjadi sesuatu padamu jika kita menundanya.”

“Semudah itu kau percaya pada hantu yang bahkan baru kau kenal?”

“Kalau tidak mau dibantu ya terserah.” Dia berdiri lalu memberinya secarik kertas, “ini alamat rumahnya,” tambahnya.

Sekarang, satu-satunya sahabatnya malah meninggalkannya.

Sinar senja di ufuk barat telah meredup-tergantikan oleh gelap malam yang mencengkeram. Kini ia sudah berada di depan rumah orang yang ingin mencelakainya. Jadi, tugasnya adalah mengambil benda – batu berwarna keperakan-dari rumah orang itu. Batu tersebut yang mengikat si hantu agar tetap bersama orang itu. Dengan hati-hati, ia memanjat pagar rumah orang itu kemudian turun dengan perlahan. Ia melesat ke arah pintu belakang rumah yang ternyata tidak terkunci. Tidak lupa ia melepas sepatu untuk menghindari suara.

Sampailah ia di ruang tengah rumah itu, terlihat pemiliknya sedang tertidur pulas di depan televisi. Ini adalah kesempatan emas bagi Maya. Kemudian ia membuka pintu kamar orang itu dan terlihat kotak perhiasan di atas meja. Tidak ingin berlama-lama, langsung saja ia buka dan buru-buru diambilnya batu keperakan itu. Ceroboh, Maya tidak sengaja menjatuhkan kotak itu. Lalu –

“Siapa di situ?” Suara laki-laki itu terdengar makin mendekat.

Dengan gesit, Maya mengumpat di bawah kolong tempat tidurnya. Jantungnya terasa berdetak dua kali lebih cepat. Ternyata, melakukan hal seperti ini lebih menguji adrenaline daripada harus berhadapan dengan Bu Wuri.

Terdengar bunyi pintu terbuka. Pria itu melihat ke sekitar kamarnya. Tidak ada apa-apa. Lalu pria itu melanjutkan tidurnya di atas kasur. Karena merasa ada yang janggal dari kasur tersebut, dia bangun dari tidurnya. Saat dia akan memeriksa bawah kolong, terdengar suara berisik dari dapur. Dia langsung saja melesat pergi keluar untuk memeriksa.

Maya yang sedari tadi berada di bawah kolong, tiba-tiba mendengar suara yang memanggilnya, suara yang tidak asing lagi di telinganya.

“May, Maya!” suara itu berasal dari arah jendela.

Maya memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya dan membuka jendela itu. Tidak disangka-sangka itu adalah Radit.

“Radit?” ucapnya seakan tidak percaya.

“Sudah, penjelasannya nanti saja. Ayo cepat!” serunya.

Mereka pun segera meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya Maya tidak bersekolah, jelas saja, badannya hampir remuk akibat kejadian kemarin. Dari pagi hingga siang ia hanya di tempat tidur, tidak melakukan apapun. Ibunya yang sudah mengetuk pintu kamarnya berkali-kali juga tidak dihiraukannya. Ia tidak peduli, pokoknya ia tidak mau keluar kamar seharian.
Tetapi… “Dek Maya, ada Radit tuh!”

Mendengar ibunya berkata seperti itu, membuat energinya berkumpul menjadi satu kembali.

“Ya, Mah,” katanya riang.

Di ruang tamu terlihat jelas Radit yang ditemani sang ibu sedang menyesap teh hangatnya.

“Dasar kamu, May. Kalau soal Radit saja langsung semangat begitu,” godanya, “Maya belum mandi dari pagi tuh, Dit.”

Kemudian, tawa pecah di antara keduanya – membuat telinga Maya sedikit panas, tapi ia tidak menggubris hal itu, ada yang ia ingin tanyakan kepada Radit.

“Tante tinggal dulu, ya,” tambahnya.

“Ya, Tante.”

Suasana canggung yang menyelimuti keduanya terhenti saat Maya bertanya, “Kenapa… kau menolongku kemarin? Bukankah katamu kau tidak mau?”

Mendengar pertanyaan kaku yang-menurutnya-konyol itu, Radit terkekeh pelan.

“Hei, aku serius!”

Lagi-lagi perkataan Maya hanya ditanggapi gelak tawa Radit. Namun, ia kelihatan berpikir sejenak lalu menghirup napas dalam-dalam sebelum berkata, “Mana mungkin aku membiarkan sahabat kecilku yang manis ini berada dalam bahaya.”

Hening.
Loading…
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.

Rasa hangat seketika menjalar ke hati perempuan berumur tujuh belas tahun itu setelah mendengar pernyataan jujur Radit – walaupun terdengar sedikit gombal. Maya melirik sepintas ke lawan bicaranya itu. Terlihat seringai tipis menghiasi bibir lelaki yang disukainya sejak dulu. Ah, wajahnya pasti sudah merekah bak kepiting rebus. Tapi dalam hati ia bersyukur, sebab ia bisa lebih dekat dengannya meski sebatas sahabat. Sekarang, Mayasari Anindhita sudah memantapkan hatinya, bahwa hubungannya dengan Raditya Bagaskara tidak akan berubah. Ya, ia mengalah demi persahabatan. Karena sahabat akan selalu di sampingmu di saat suka maupun duka-begitu kata ibunya.

‘Kau yakin hanya ingin menjadi sahabatnya saja?’ tanya si hantu.

Tunggu, HANTU?!
Blog, Updated at: May 08, 2020

0 komentar:

Post a Comment