DUNIA LAIN DI SEKOLAH
Berpindah-pindah tempat sesungguhnya adalah hal yang sangat memuakkan bagiku, meskipun terkesan memiliki sejuta pengalaman, hanya saja jenuh rasanya harus membiasakan hidup di lingkungan yang baru. “Ra, kamu pasti bakal betah sekolah di sini.” suara ibu seolah bertentangan dengan hal yang baru saja ku pikirkan. “iya, kamu harus betah di sini Ra, Nenek akan merasa senang sekali kalau kamu ada di sini.” sambung nenek.
Karena pekerjaan Ayah yang sering berpindah-pindah tugas, maka aku juga harus menjalani beban hidup yang ku rasa sangat mengesalkan, yaitu pindah rumah dan pindah sekolah. Merasa jemu dengan hal itu, akhirnya saat akan masuk SMA (Sekolah Menengah Atas) aku memilih untuk tinggal bersama nenekku saja dan sekolah di sana. Menjalani hari pertamaku sekolah, ku rasa tidak ada yang cukup membuatku tertarik di sini. Mungkin karena lingkungan baru, jadi aku masih merasa cukup asing. Hari terakhir MOPD (Masa Orientasi Siswa Baru) mengharuskan semua siswa untuk menginap di sekolah.
“Ayo semuanya kumpul cepat!” Suara itu terdengar jelas di telingaku, memaksa kakiku untuk sedikit berlari. Ku lihat banyak orang sudah berkumpul di sana. Hari sudah semakin sore akhirnya kami diizinkan untuk istirahat di kelas yang telah ditentukan. Ternyata kelasku dan beberapa siswa lainnya terletak di kelas paling belakang dekat lapangan basket. Ku lihat yang lain sudah tampak akrab dengan beberapa candaan saat menuju kelas. Semilir angin perlahan terasa menyapu tubuhku. Hingga akhirnya mataku menangkap sesosok bayangan. Aku tak begitu jelas melihatnya.
“Siapa dia?” Pikirku.
Lalu ku lihat seorang gadis seusiaku berjalan, di sebuah tempat, mungkin gudang atau entahlah, tapi itu terletak di dekat lapangan basket. Dia menatap ke arahku. Gadis dengan rambut panjang, memakai seragam SMA, tapi dia terlihat begitu pucat. “Apa mungkin dia juga sekelas denganku? Atau dia harusnya bergabung dengan temannya di kelas lain, hanya saja ia tersesat?” aku masih menatapnya. “Hei kamu, ayo cepat!” suara kakak kelas sesaat mengalihkan pandanganku. “Kak? Itu ada.” belum sempat melanjutkan kata-kataku, gadis itu sudah menghilang. “Kenapa? Ayo cepat waktu istirahat kalian singkat, nanti malam kalian masih banyak kegiatan!” ucapnya kemudian.
Aku mengikuti langkahnya dari belakang, sementara mataku masih sibuk menatap ke semua sisi mencari sosok gadis yang tadi ku lihat. Setelah melaksanakan salat isya, kembali lagi kami disibukkan dengan berbagai kegiatan, kami diminta berkumpul di lapangan basket, untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan yang tentunya sudah diagendakan. Karena di bagian depan sudah penuh, akhirnya aku duduk di barisan paling belakang dengan beberapa siswa lainnya, hanya saja jarak kami sedikit berjauhan.
“Masih semangat?” itulah kata-kata awal yang selalu diucapkan oleh panitia, padahal seharusnya dia tahu kami sudah sangat lelah, tapi dia masih menanyakan hal seperti itu. Kemudian ia terus menyampaikan serangkaian acara dan peraturan yang harus kami taati dalam kegiatan ini. “Raraaa.” terdengar suara yang seolah berbisik memanggilku. Aku menoleh mencari asal suara itu, tapi ku perhatikan kebanyakan orang sedang sibuk mendengarkan sederetan peraturan dari panitia, dan sebagian sibuk dengan percakapan mereka masing-masing. “Raraaa.” kembali ku dengar suara itu seolah berbisik di telingaku.
Mataku terus mencari asal suara itu, hingga akhirnya kutemukan sosok gadis yang tadi sore kulihat. Ia berdiri di bawah sebuah pohon yang ada di sana, tapi, ku perhatikan tak ada satu orang pun yang menatapnya, bahkan, kenapa tak ada satu panitia pun yang menegurnya karena berkeliaran, padahal saat ini sedang kegiatan MOPD. “Ayo semuanya, kita menjelajah malam, kalian tenang aja cuma di lingkungan sekolah, dan setiap kelompok akan didampingi 1 panitia, yuk semuanya bergegas!” Aku langsung bangkit dari dudukku, dan menunggu giliran namaku disebut, kelompok 7 Rara Dwi Ayu, akhirnya ku dengar namaku disebut dengan 5 orang lainnya dan 1 orang panitia. Kami berjalan mengikuti panitia yang membimbing kami, aku berjalan paling belakang dengan salah seorang bernama Sintia. Ku lihat dia orang yang cukup penakut, beberapa kali tangannya menyentuh tanganku, dan dia terlihat begitu ketakutan.
“Hei, kita hanya di sekolah! Kenapa kau setakut itu? Kau takut gelap?” ucapku mencoba menyapanya.
“Sssstttt… ada yang mengawasi kita, jangan berisik!” ucapnya semakin erat menggenggam tanganku.
“Mengawasi? Siapa?” ucapku penasaran. Dia tidak menjawab, bibirnya terlihat gemetaran.
“Aku dapat merasakannya, aku tahu mereka mengawasi kita.” ucapnya berbisik.
Aku hanya terdiam mencoba kembali fokus memperhatikan sekitarku. “Dan kau, jangan pernah menatap matanya!” ucapnya mengejutkanku. Napasku mulai tak karuan, angin terasa begitu kencang membuat benda di sekitarku bergerak ke sana ke mari. Aku tak tahu apa yang terjadi, kabut terasa mulai mengisi sekitarku, ku lihat beberapa orang yang lain tampak tenang dan terus berjalan tanpa merasakan apa pun. Sementara aku, entah apa yang terjadi hanya saja ku dengar Sintia berteriak dan menggenggam erat tanganku.
“Kita di mana?” ucapku memperhatikan sekelilingku.
“Kita dibawa ke alamnya.” Sintia menatap ke segala arah.
“Apa maksudmu, lihat kita masih di sekolah, ini di sekolah Sintia, ayolah!” aku semakin tak karuan. “Kita cari yang lain!” suaraku mulai terdengar gemetaran.
Tiba-tiba, ku lihat gadis tadi berada tak jauh di depanku. “Hei, apa kau juga tersesat, ke mana yang lain?” teriakku padanya. “Jangan menatapnya, dia yang mengawasi kita!” muka Sintia semakin memucat. Gadis itu berjalan mendekati kami, seketika dia berubah, rambutnya memanjang dengan sendirinya, wajahnya hampir terlihat hancur, tubuhnya dipenuhi dengan darah dan matanya seolah akan ke luar. Semua pepohonan seolah mendapat guncangan yang sangat kuat, angin berhembus begitu kencang, semua benda yang ada di dekat kami beterbangan tak karuan.
“Si.. siapa kau? Apa yang kau inginkan?” ucapku dengan susah payah.
Lalu aku seperti dibawa kembali ke mesin waktu, ku lihat beberapa orang sedang membicarakan sesuatu, seorang pria muda hanya tampak mengangguk-angguk akan perintah yang disampaikan beberapa orangtua di sana. Lalu tiba saat malam, ku lihat pria tadi menggandeng seorang perempuan yang masih mengenakan seragam SMA, dan aahhhh wanita itu… lalu ia mengajaknya ke sebuah tempat seperti menara bekas, dan ia melamar gadis itu. Hanya saja dalam seketika saat gadis itu sedang menikmati kebahagiaannya, dengan sengaja pria itu mendorong gadis itu hingga terjatuh, kemudian ia menguburkannya di dekat sebuah pohon.
“Aaaaahhhhh…”
Tubuhku seolah tersedot kembali dari mesin waktu. Ku lihat Sintia sudah terkulai lemas di tanah. “Jadi kau?”
“Kau akan jadi tumbal sama sepertiku, dalam dunia inilah kau akan hidup!” ucapnya melangkah ke arahku. Aku seolah tak bisa bernapas, ia mencekikku. Tubuhku diangkatnya hingga ke gedung atas sekolah. “Hentikan! Apa yang kau lakukan?” Ucap seorang pria yang ku rasa aku pernah melihatnya. Lalu dengan cepat ia melemparku dan, “Aaaahhh…”
“Kamu gak kenapa-kenapa kan sayang? Malam kamu jatuh dari tangga sekolah.” ucap nenek yang berada di sampingku.
“Rara di mana Nek?” ucapku linglung. “Kamu di rumah sakit sayang!”
“Aaww!” ada sebuah bekas luka di keningku.
“Sintia meninggal?”
“Ia dia jatuh dari tangga, hanya saja dia tidak bisa diselamatkan sayang!” tampak suara isak tangis terdengar dari ruangan sebelahku. Aku berjalan menuju ruangan itu, ku lihat keluarga dan beberapa teman Sintia berada di sana menangisi seseorang yang sudah terbaring kaku tertutup kain putih. “Jiwamu tersesat di sana Sintia, kau benar dia terus mengawasiku, aku tahu dia mengawasiku. Lihatlah, sekarang aku tahu cara kembali ke sana, akan ku musnahkan kau dan duniamu!” batinku berbisik.
Satu tahun setelah kejadian itu.
“Hai, namaku Rara Dwi Ayu, aku siswa baru di sini, aku pindahan dari Jakarta!”
Mataku langsung teralih pada sesosok gadis yang telah lama ku tunggu.
“Kita lihat siapa yang akan mati kali ini! Akan ku musnahkan kau dan duniamu!”
“Aaaaahhh…”


0 komentar:
Post a Comment