CINTA TAK TERBALAS

Posted By Cerpen universal on Sunday, May 10, 2020 | May 10, 2020

CINTA TAK TERBALAS

Ah… keluh Nafiah Arsum yang biasa orang-orang memanggilnya Nay, yang sedang mengantri bersama seorang pria paruhbaya yang mungkin saja itu adalah ayahnya, untuk mendaftar di SMA mata Nay mencari-cari di mana Rava, orang yang ia cintai sejak SMP.

Nay menatap ke arah tempat formulir pendaftaran, terlihat Rava yang sedang sibuk mengisi formulir itu, setelah Rava selesai mengisi formulir, Rava berjalan ke arah kantin bersama segerombol teman-temannya.

“Ayah.. Nay lapar, nay ke kantin dulu bentar yah..” kata Nay berlari menuju kantin meninggalkan ayahnya sedang berdiri sendiri.

“Eh.. tunggu Nay!” seru ayah nay berusaha menghentikan Nay.

Nay mengintip dari triplek depan kantin yang bolong untuk memastikan bahwa Rav benar-benar ada di dalam kantin sekolah

“Eh, kenapa kamu ada di sini?” tanya Rava mengagetkan Nay.

“Hah? aku cuman mau olahraga!” jawab Nay gugup sambil membenarkan posisinya yang membungkuk menjadi tegak.

“Kamu mau maling ya!” kata Rava mengiterogasi Nay, hingga membuat Nay gugup setengah mati.

“Ah.. apaan sih kamu, aku cuman lagi mau olahrasa, emang nggak boleh.” tanya Nay berusaha santai.

“Oh.” jawab Rava dengan singkat dan datar membuat raut wajah Nay menjadi malu sekaligus marah karena Rava yang bersikap dingin.

Pembagian kelas pun tiba, Nay dan Rava tidak menempati kelas yang sama, Rava berada di X ipa 2 dan Nay berada di x ipa 4, jam istirahat Nay berjalan menuju kantin sekolah membeli pop ice, saat Nay berjalan pulang dari kantin ia melihat Rava yang dikerumuni oleh selutuh siswa dan siswi. spesialnya X ipa 2 teman-teman sekelas Rava.

“Ada apa ini?” tanya nay pada seseorag laki-laki yang berdiri tepat di sampingnya.

“Oh itu, ada yang kirimin surat sama laki-laki yang sebelah sana.” menunjuk Rava.

Nay berusaha melihat, tiba-tiba pak Usman killer datang membawa Rava karena telah membuat keributan perihal soal surat cinta.

“Kamu ikut bapak!” kata pak Usman mengengam tangan Rava.

“Iya” kata Rava menganguk. 

“Siapa itu Uci?” tanya pak Usman pada Rava.

“Saya nggak kenal pak!” kata Rava santai.

Tiba-tiba Uci berjalan menuju Rava yang berdiri di hadapannya.

“Kamu yang namanya Uci?” tanya pak Usman.

“Iya pak. saya kirim surat untuk mengatakan bahwa saya mencintai Rava” jawabnya dengan santai.

“Ada-ada saja kalian ini” kata pak Usman menyuruh kami keluar dari ruangan itu.

Naya berjalan menuju lorong sekolah menuju toilet, Nay mendapati Rava yang sedang memegang tangan Uci, terdengar kabar juga bahwa Uci dan Rava berpacaran.

mencintai sendiri itu suatu kemustahilan yang nyata.
Blog, Updated at: May 10, 2020

0 komentar:

Post a Comment