KETAKUTAN ALICIA
Adalah suatu hal yang sering ku rasakan semenjak beberapa minggu lalu, tepat saat keluargaku -terutama Ayah menjual satu set piano dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari lagi. Meski berkali-kali aku memaksanya, merengek di kakinya, memohon-mohon, tetapi Ayah tetap saja datar- seakan tidak memedulikanku lagi. Padahal semestinya beliau lebih mengerti apa yang diinginkan putri sematawayangnya ini yang jelas-jelas sudah kehilangan ibu, kehilangan “teman” pula. Untuk pertama kalinya aku membenci Ayah. Ia benar-benar keterlaluan! Aku benci! Aku benci.
Dan sekarang, aku harus meratapi kepedihan ini. Sendirian dalam lemari gudang dengan alunan Fur Elise di luar sana, menambah kesan dramatis sekaligus horor. Aku menangis tersedu, memeluk lutut yang sedari tadi sudah dingin. Lemari ini memang tidak terlalu besar, tetapi, aku terpaksa bersembunyi di sini. Tak ada tempat aman, aku takut. Aku sangat takut akan alunan melodi di luar sana. Tanganku masih berharap agar makhluk itu tidak berjalan perlahan menuju depan lemari ini dan membuka pintu. Tidak. Aku tak dapat membayangkan bagaimana rupa wajahnya yang sudah hancur lebur penuh darah itu.
Aku tiba-tiba tersadar. Mataku berputar-putar, telingaku mendengarkan dengan baik-baik. Alunan melodi itu berhenti. Suasana kembali senyap, tetapi justru itu yang semakin aku takutkan. Tidak! Tidak! Ini mimpi! Aku harus bangun! Aku menarik ucapanku lagi! Tuhan, aku yakin, aku sangat yakin. Buatlah dia yang di sana untuk tidak mencurigai isi lemari ini. Aku berharap padamu, selamatkan.
“Alicia, aku menemukanmu.”
Aku tak dapat berkutik. Mataku membulat tak percaya… ini mimpi… hanya mimpi. Aku tak percaya akan wajah hancur yang hanya beberapa inci dariku ini. Tidak. Ini mimpi… mimpi…
***
“Pak, mohon maaf. Sepertinya Alicia butuh perawatan yang sangat khusus.” Dokter menatap khawatir pada gadis kecil yang tertawa-tawa di sana dengan pandangan kosong. Tak jauh darinya, ada beberapa benda seperti: miniatur piano kecil, sebuah kotak musik, dan boneka teddy dengan rupa yang menyeramkan serta rusak. “Lagi-lagi aku menemukannya sedang bermain-main di gudang rumah sakit ini, entah apa yang menuntunnya dan bisa sampai ke sana. Kami, pihak medis belum bisa menjelaskan lebih detail.”
“Aku mengerti, Ryn, istriku, pasti mengajaknya bermain petak umpet lagi.” Widyanto menatap putri sematawayangnya itu, ia tak dapat mengerti akan kondisinya yang makin hari, semakin memburuk. Widyanto tertunduk kemudian, sejenak kembali menatapnya lagi. Samar-samar, ia melihat bayangan mendiang istri tercintanya -tepat menatap tajam ke arahnya lalu tersenyum bengis.


0 komentar:
Post a Comment