KESAKSIAN BISU SECANGKIR KOPI
Malam ini ribuan bahkan milyaran tetesan air hujan berlomba-lomba untuk menyentuh pusat sang bumi. Apakah kau masih ingat kejadian waktu itu sayang? Kejadian dimana keadaannya persis seperti saat ini. Waktu itu dengan penuh perhatian aku membuatkanmu secangkir kopi hitam kesukaanmu. Dan apakah kau tau sayang aku membuat secangkir kopi itu dengan penuh keikhlasan. Kucampurkan gula dan kopi itu dengan rasa tulus. Dan kutuangkan air hangat ke dalam cangkir itu dengan hati peduli.
Tak ada niatku ingin mencari sensasi atau simpati. Aku hanya peduli dengan keadaanmu waktu itu. Tapi apakah kau tau sayang, secangkir kopi itu pada akhirnya membuatku sadar akan posisiku. Secangkir kopi itu telah membuatku terbangun dari imajinasi cintaku padamu. Secangkir kopi itu memeberitahuku bahwa tak seharusnya aku mempedulikanmu.
Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, mengapa tak kau minum secangkir kopi yang kuberikan padamu? dan mengapa kau membiarkanku melihatmu tak menyentuh secangkir kopi buatanku itu? Bukankah kopi itu yang selama ini kau minum dan kau suka? Ahhh… mungkin saja waktu itu kau tak sempat meminumnya atau kau lupa meminumnya? Aku tak tau pasti. Tapi sepertinya kesaksian bisu secangkir kopi itu telah menyadarkanku bahwa tak seharusnya aku mencintaimu. Secangkir kopi itu memberitahuku bahwa salahku mencintaimu.
Tapi setelah beberapa hari kemudian, kau memintaku memberimu secangkir kopi itu lagi.
“Nggak ah… aku gak mau buatin kamu kopi lagi”
“Loh kenapa?” tanyamu.
Aku hanya diam kemudian aku menjawab “Kemarin kopi yang kubuat untukmu tak kau minum. Mungkin saja nanti juga tak akan kau minum” jawabku.
Sekarang giliranmu yang terdiam. Tak kau ulangi lagi permintaanmu tuk kubuatkan secangkir kopi lagi. Kau tau sayang, awalnya aku mengira seiring berjalannya waktu hatimu akan berubah. Aku mengira dengan terus menerus bersama kita akan bisa saling menjaga. Aku mengira senyummu selama ini adalah merupakan perwakilan dari rasa cintamu. Hingga akhirnya kini secangkir kopi itu menjawab semua perkiraanku. “imposible”.
Aku hanya diam kemudian aku menjawab “Kemarin kopi yang kubuat untukmu tak kau minum. Mungkin saja nanti juga tak akan kau minum” jawabku.
Sekarang giliranmu yang terdiam. Tak kau ulangi lagi permintaanmu tuk kubuatkan secangkir kopi lagi. Kau tau sayang, awalnya aku mengira seiring berjalannya waktu hatimu akan berubah. Aku mengira dengan terus menerus bersama kita akan bisa saling menjaga. Aku mengira senyummu selama ini adalah merupakan perwakilan dari rasa cintamu. Hingga akhirnya kini secangkir kopi itu menjawab semua perkiraanku. “imposible”.
Diantara semua orang yang ada dibawah atap tempat kita ini hanya aku yang kau abaikan. Jika mereka memberi akan langsung kau terima. Namun jika aku yang memberi langsung saja kau singkirkan. Aku tak meminta lebih. Aku hanya ingin kau berikan aku kebebasan untuk peduli padamu. Hanya itu.
Memang benar kalau aku tak terlalu bermakna untuk dihargai apalalagi oleh dirimu. Tapi setidaknya secangkir kopi yang kubuat sepenuh hati wajib kau beri sedikit apresiasi. Kini setiap pagi aku selalu menyediakan secangkir kopi di mejaku supaya aku selalu mengingat bahwa kau sama sekali tak ingin kucintai. Karena jujur saja, setiap pagi yang kunanti adalah kedatanganmu. Dan ketika aku melihat dan mendengar suaramu, maka saat itu juga hatiku bergetar, jiwaku melayang, dan aku tersenyum. Aku tak bisa mengubah itu.
Sejujurnya aku ingin melupakan dan menghilangkan rasa itu. Namun entah mengapa aku tak mampu. Hari ini kali kedua secangkir kopi itu kembali bercerita. Kesal sudah pasti memenuhi hatiku. Mengapa hanya aku yang kau abaikan? Menurutku itu sungguh tidak adil. Kutuangkan secangkir kopi itu tuk kedua kalinya ke tempat sampah. “Harusnya tadi aku tak bertingkah bodoh dengan membuatkan dia secangkir kopi” gumamku kesal.
Malam itu aku sedikit kurang bersemangat. Setelah mandi aku langsung saja tidur. Jam 02:23, aku terbangun. Tiba-tiba saja wajah dan namamu muncul dalam kepalaku. “Andaikan saja aku tak bertemu dengannya, mungkin aku akan bisa mencapai cita-citaku dengan tenang” ucapku dalam hati.
Aku memikirkan berbagai hal dan cara untuk menghindarimu. Namun bukannya ide yang kudapatkan, aku malah pusing sendiri karenanya. ‘ah… ya sudahlah. mungkin ini satu cobaan buatku. aku harus menghadapinya bukan melarikan diri darinya’. Ungkapku berfikir positif dalam hati.
Keesokan harinya kubuatkan dia secangkir kopi lagi. Dan seperti biasanya, dia tak menyentuhnya sama sekali. Aku tersenyum getir. Kuraih secangkir kopi yang sedang merasa sedih karena disia-siakan itu dan kuteguk hingga habis. Sebenarnya aku tidak boleh minum kopi karena sebuah alasan. Tapi mulai hari ini secangkir kopi akan menjadi sahabatku. Secangkir kopi ini akan selalu menemaniku hingga akhirnya nanti sampai akhirnya rasa ini akan mati.


0 komentar:
Post a Comment