INGGU
Adri adalah seorang anak yang sangat lincah dan aktif. Dia
memiliki kulit yang putih bersih, alis yang begitu indah, bulu mata yang lentik
dan hidung yang mancung. Dia sangat sempurna sebagai manusia. Pagi ini dia tidak seperti biasanya, badannya mulai panas tetapi
sifatnya masih biasa saja, tidak ada yang berubah saat aku menggendongnya.
“Ibu, mengapa badan Adri jadi panas begini.” Dengan nada sedikit
cemas.
“Iya nanti diberi obat” Kata ibu dengan biasa saja.”
Aku pun langsung berangkat untuk pergi bekerja seperi biasanya.
Sesampainya di tempat kerja, tidak beberapa lama kemudian aku pun merasa tidak
enak hati dan merasa ada yang mengganjal.
“Ada apakah gerangan, sehingga hatiku merasa tidak nyaman seperti
ini.”
Aku mulai uring-uringan dan merasa tidak fokus dalam bekerja.
Tidak terasa pukul 14.30 wita, telepon selulerku berbunyi dan ternyata pesan
dari keluargaku bahwa Adri masuk UGD. Mendengar kabar tersebut, aku pun mulai gelisah, tetapi aku harus
bersabar dahulu karena jam kerja baru bisa pulang pukul 17.00 wita.
“Ternyata firasat yang kurasakan selama ini memang benar, akan
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”
Waktunya pulang pun tiba, aku langsung cepat-cepat beres-beres dan
langsung bergegas ke parkiran mengambil motor dan langsung pulang. Selama dalam
perjalanan aku selalu berdoa, agar diberikan yang terbaik untuk keadaan Adri. Sesampainya dirumah aku ingin langsung bertanya kepada ibu
mengenai keadaan Adri, ternyata ibu belum pulang dari Rumah Sakit.
Aku berpikiran nanti akan menjenguk ke Rumah Sakit setelah aku
bersih-bersih. Aku pun langsung mandi dan mencuci pakaian, setelah beberapa
lama aku selesai ibu pun datang pukul 18.00 wita, Adri sudah bisa di bawa
pulang kerumah, padahal saat itu lagi hujan. Tetapi untung ada teman ayahnya yang
baik untuk menolong dan dia menjemput ke puskesmas dengan menggunakan mobil.
Aku langsung bertanya kepada ibu apa yang sebenarnya terjadi tadi siang, dan
ibu mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi tadi siang.
“Awalnya keadaannya baik-baik saja, Adri sedang berbaring di
tempat tidur, bercanda-canda dan tertawa-tawa dengan pamannya, ternyata tidak
berapa lama kemudian dia timbul diam dan tidak ada suara sedikitpun, setelah di
lihat dia sudah tidak bergerak, matanya terus melihat ke atas dan wajahnya
mulai membiru. Tanpa pikir panjang lagi, Adri langsung di bawa ke Puskesmas
terdekat. Disana dia di layani oleh perawat di puskesmas tersebut dan di beri
oksigen, selama 30 menit kemudian, akhirnya dia sadar dan pulih kembali.”
“Wah, ganteng sekali.” Kata semua perawat disana
“Oh, jadi begitu ya bu ceritanya.”
“Iya sayang.”
Sehabis maghrib banyak keluarga dan tetangga semua datang untuk
menjenguk dan melihat keadaan Adri saat ini.
“Iya ini sudah ketiga kalinya Adri mengalami seperti ini.” Kata ibu
kepada semua yang datang.
Ada salah satu tetangga yang memberi tahu obat untuk Adri ini.
“Adri ini harus diberi inggu.”
“Apa itu dan dimana itu bisa di dapat?”
Kami sekeluarga saja bingung seperti apa itu bentuknya, namanya
saja baru pertama kali mendengar di telinga.
“Di pasar tradisional, tempat orang berjual kosmetik mungkin ada.”
“Bagaimana cara menggunakannya?”
“Hanya di taruh di ubun-ubun saja”
“Oh, iya nanti besok di belikan.”
Pagi-pagi sekali jam baru menunjukkan pukul 06.30 wita, tetangga
tersebut datang dengan sangat tergesa-gesa dan wajahnya seperti orang mabuk,
kelelahan, serasa mau menangis dan wajah tersebut menakutkan dan lain dari
biasanya.
“Assalamualaikum.” Dengan suara yang sedikit agak berat dan sangat
tergesa-gesa.
“Waalaikumsalam.”
“Belikan dia inggu, inggu, jangan lupa, jangan tidak dibelikan.
Huhuhu aku capek sekali di datangi oleh orang itu, dia itu badannya berwarna
biru orangnya besar, ingat ya jangan tidak dibelikan, dia ini suka dengan anak
ini jadi di ikutinya dan diganggunya terus anak ini, makanya belikan dia inggu
agar dia tidak mengganggu dan mendekati lagi.”
Saat kulihat, matanya semakin tajam menatap kearahku dan aku pun
langsung merinding dan merasa takut. Setelah itu cepat-cepat aku masuk ke dalam
kamar.
Ku dengarkan dari kamar, ternyata dia langsung berpamitan kepada
ibu.
“Aku pulang dulu.” Kata tetangga tersebut dengan nada lelah dan
sangat tergesa-gesa.
“Tunggu-tunggu minum dulu ini.”
Kakak pun menyediakan air minum di gelas yang besar dan tetangga
tersebut langsung minum dan langsung habis diminumnya. Setelah itu baru dia
berpamitan pulang.
Sesampainya di depan rumah tetangga tersebut, dia ditanya oleh
keluarganya.
“Ada urusan apa kamu, pagi-pagi sekali kerumah ibu Adri?”
“Aku lupa, memangnya aku tadi ngapain kesana pagi-pagi?” Dia
malah bertanya balik apa yang terjadi dengannya dan dengan muka sedikit
bingung.
Ternyata setelah di lihat dari gerak-gerik tetangga tersebut, dia
dimasuki oleh alam sebelah makanya dia seperti amnesia tidak ingat apa-apa lagi
seperti itu.
Setelah kejadian pagi itu, siang-siang pukul 10.00 wita, orang tua
Adri pergi kepasar untuk membelikan inggu, ternyata inggu itu kecil saja
barangnya tetapi baunya luar biasa menyengat dan harganya juga mahal.
Tetangga tersebut lagi duduk-duduk di depan rumah dengan ibu,
sesampainya orang tua Adri, tetangga tersebut langsung saja berpamitan pulang
katanya kepalanya agak pusing.
Inggu itu pun langsung di taruhkan ke ubun-ubun Adri dan
alhamdulillah panasnya mulai turun dan tidak kembali lagi penyakitnya.
Keesokan harinya, ada keluarga yang datang dan melihat.
“Apa yang ada di kepala Adri itu.”
“Itu inggu.”
“Wah, inggu ini hebat bisa jadi makanan ikan, jangankan ikan buaya
saja bisa langsung mendekat.”
“Ah yang benar kamu ini?”
“iya beneran itu.”
Aku yang mendengar itu, langsung penasaran sebenarnya dari mana
asalnya tanaman itu jadi harganya lumayan mahal dan baunya juga sangat
menyengat sekali seperti itu, kemudian aku memulai memanfaatkan teknologi
menjelajahi internet untuk mencari informasi mengenai tanaman itu.
Setelah ku cari dengan sangat teliti ternyata dapat, sebenarnya
inggu itu adalah obat yang sangat langka, tumbuhnya hanya di dataran tinggi dan
khasiatnya banyak sekali, bisa untuk demam, influenza, batuk, radang kulit
bernanah, memar akibat terbentur, gigitan ular, radang paru, kolik,
menghilangkan nyeri, hepatitis, haid tidak teratur, tidak datang haid, bisul,
radang vena, pelebaran pembuluh darah bali, cacingan, sakit gigi, sakit
kepala,ketombe, kolera pada anak, keracunan obat, dan racun lain yang
mematikan.
“Wah, wah hebat sekali ternyata tanaman ini sangat banyak
khasiatnya.”
Aku pun menceritakan kepada ibu sebenarnya inggu itu seperti apa,
dan ibu sangat terkejut dan mengapa baru mengetahui ada tanaman seperti itu.
2 hari kemudian.
Beberapa hari lagi kan ibu ulang tahun, bagaimana kalau kita
mengerjai ibu saja ka kataku. Hehe
“Ide bagus juga itu, tapi bagaimana?”
“Bagaimana kalau kita suruh Adri pura-pura punya penyakit seperti
dulu lagi.”
“Wah jahil sekali kamu de.”
“Tidak apa lah ka, tapi nanti sebagian kita siapkan kejutan yang
sangat berharga dan sangat berkesan ka.”
“Oh, iya bisa juga itu, atur saja kamu ya de.”
“Oke kakak, ikuti saja jalan cerita yang aku susun nanti ya ka,
insya allah semuanya akan berhasil.”
“Dasar kamu ini adik yang sangat sangat jahil sekali.”
“Biar saja yang penting happy kakak.”
“Ya sudah apa kata kamu saja.”
Keesokan harinya rencana mulai di jalankan, semuanya berlaku
dengan sewajarnya seperti biasa tidak ada yang berubah, agar rencana ini
sukses.
Aku pun mulai beraksi dan berbicara dengan ibu.
“Ibu mulai besok sampai seminggu kedepan kan aku sudah bisa mulai
cuti.”
“Iya, terus?”
“Boleh tidak kalau aku pergi liburan saja selama itu.”
“Mau kemana kamu, dengan siapa.”
“kemana saja lah bu, sendiri saja bu kan aku sudah besar juga dan
bisa saja jaga diri.”
“Yang benar kamu ya, jangan memalukan diri kamu sendiri, apalagi
keluarga.”
“Siap bos tenang saja.”
Aku pun langsung bersiap-siap untuk berangkat liburan. Ibu pun
datang menghampiriku di kamar.
“Banyak sekali kamu membawa baju seperti mau pindah saja.”
“Tidak lah bu, kan biasa cewe bu ribet banyak keperluan.” Hehe
“Iya, emang kamu itu selalu suka ribet, mengapa tidak
simpel-simpel saja.”
“Kan ini gaya aku bu.”
“Ya sudah apa kata kamu saja.”
Pagi-pagi sekali aku sudah berpamitan dengan orang rumah untuk
pergi, dan setelah siang hari Adri mulai beraksi, dia mulai uring-uringan di
kamar, bermanja-manja ria dengan ibunya. Tidak berapa lama kemudian ibu dan ayah
Adri timbul hilang pergi entah kemana dan tidak berpamitan dengan nenek Adri.
Merasa di tinggal sendiri di kamar Adri pun menangis
sekencang-kencangnya, neneknya pun terkejut dan secepat mungkin dia lari dari
dapur menuju kamar Adri. Kamu mengapa menangis Adri, dan di pegang neneknya
tubuh Adri tidak panas juga jadi dia tidak terlalu khawatir.
“Nenek tinggal ke dapur lagi ya Adri.”
“Iya, Nek.”
Baru sebentar keluar dari pintu, setelah mau menutup pintu
tiba-tiba saja Adri kejang-kejang lagi dan neneknya pun mulai panik, bagaimana
ini. Tanpa pikir panjang lagi, namanya juga jiwa seorang nenek siapa yang tidak
takut melihat cucunya kejang-kejang lagi. Dia pun langsung memanggil taksi
untuk membawa cucunya ke Rumah Sakit lagi, di tengah perjalanan Adri sadar
kembali dan dia malah merasa lapar dan mengajak neneknya untuk pergi ke
kafe yang sudah mereka rencanakan.
“Yang benar kamu sudah tidak apa-apa lagi ini.”
“Iya, beneran nenekku sayang.”
“Ya sudah kita pergi ke kafe.”
Sesampainya di kafe tersebut mereka memesan makanan dan Adri
meminta ijin sebentar untuk pergi ke toilet. Nenek pun di tinggal sendirian di
tempat itu, tiba-tiba saja lampu di kafe tersebut mati, nenek pun merasa takut.
Tidak berapa lama kemudian ada yang berdiri di depan podium dan
menyanyikan sesuatu.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Nada-nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku
Beriringan dengan aku menyanyikan lagu tersebut, Adri, ibu dan
ayahnya datang mendekati ibu membawakan kue ulang tahun, dan ibu pun tidak bisa
membendung lagi tangis bahagianya dan anak-anak beserta cucu semuanya memeluk
ibu.


0 komentar:
Post a Comment