BERI AKU TUAN
Dari siang hingga malam aku selalu
menemaninya. Ia begitu gigih tak mengenal lelah meski peluh menetes di bawah
terik mentari. Aku tau ia pasti lelah dan ingin beristirahat meski sejenak
namun tetap ia seoalah berpikir istirahat akan membuang waktu jika terlalu
banyak diambil.
Aku tau.. Dari badan coklat matang,
kurus, tangan kuat meski kecil dan tentu saja otot kaki terbentuk karena sering
berjalan ia seorang pejuang. Pejuang untuk anak lelaki 8 tahun dimana ketika
pulang selalu ada di depan pintu dan kata yang selalu diucap, “horee bapak
pulang”. Jika aku bisa menangis, aku ingin menangis dan membalas sorakannya,
“ya, nak. Pejuangmu pulang”. Namun sekali lagi aku hanya membisu. Meski
demikian, ia selalu baik. Ketika sampai gubuk, ia mengelapku dengan perhatian,
jika terjadi sesuatu denganku ia segera memperbaiki seperti sekarang aku
dijahitnya lalu setelah itu diberi beberapa kopi agar segar.
Aku dan sahabat-sahabatku bersyukur pada
Tuhan dipertemukan dengannya. Meski kami lusuh, rusak, dan banyak yang
mengatakan kami tak layak, ia selalu tersenyum. ketika seperjuangan menanyakan
mengapa ia masih memakai kami, ia akan menjawab sembari senyum, “ia saksi
bisuku”. Sekali lagi, Tuhan… izinkan aku menangis..
Tapi kini semuanya sunyi. Aku terdiam
tanpa bisa berekspresi pasti di dipan keras Tuanku. Masih bisa kudengar, suara
tangisan dari sang anak. Tuanku telah dipanggil-Nya karena sakit.
“Tuan.. mengapa kau tidak istirahat agar
sembuh? mengapa kau tidak membeli obat dari hasil kerjamu?” Tentu saja tidak
ada yang mendengar teriakanku.
Kini aku dan sahabat-sahabatku akan
menjadi pajangan. oh, Tuhan.. beri aku tuan.. Tanpa kusadari, aku terangkat.
Kulihat siapa yang mengangkatku. Sang anak. Oh.. Apakah ia akan membuangku?
“Sepatu.. kau begitu baik menemani
bapak. Aku akan merawatmu, dan sebentar lagi aku yang akan memakaimu.”


0 komentar:
Post a Comment