BERI AKU TUAN

Posted By Cerpen universal on Monday, July 12, 2021 | July 12, 2021

BERI AKU TUAN

Dari siang hingga malam aku selalu menemaninya. Ia begitu gigih tak mengenal lelah meski peluh menetes di bawah terik mentari. Aku tau ia pasti lelah dan ingin beristirahat meski sejenak namun tetap ia seoalah berpikir istirahat akan membuang waktu jika terlalu banyak diambil.

Aku tau.. Dari badan coklat matang, kurus, tangan kuat meski kecil dan tentu saja otot kaki terbentuk karena sering berjalan ia seorang pejuang. Pejuang untuk anak lelaki 8 tahun dimana ketika pulang selalu ada di depan pintu dan kata yang selalu diucap, “horee bapak pulang”. Jika aku bisa menangis, aku ingin menangis dan membalas sorakannya, “ya, nak. Pejuangmu pulang”. Namun sekali lagi aku hanya membisu. Meski demikian, ia selalu baik. Ketika sampai gubuk, ia mengelapku dengan perhatian, jika terjadi sesuatu denganku ia segera memperbaiki seperti sekarang aku dijahitnya lalu setelah itu diberi beberapa kopi agar segar.

Aku dan sahabat-sahabatku bersyukur pada Tuhan dipertemukan dengannya. Meski kami lusuh, rusak, dan banyak yang mengatakan kami tak layak, ia selalu tersenyum. ketika seperjuangan menanyakan mengapa ia masih memakai kami, ia akan menjawab sembari senyum, “ia saksi bisuku”. Sekali lagi, Tuhan… izinkan aku menangis..

Tapi kini semuanya sunyi. Aku terdiam tanpa bisa berekspresi pasti di dipan keras Tuanku. Masih bisa kudengar, suara tangisan dari sang anak. Tuanku telah dipanggil-Nya karena sakit.

“Tuan.. mengapa kau tidak istirahat agar sembuh? mengapa kau tidak membeli obat dari hasil kerjamu?” Tentu saja tidak ada yang mendengar teriakanku.

Kini aku dan sahabat-sahabatku akan menjadi pajangan. oh, Tuhan.. beri aku tuan.. Tanpa kusadari, aku terangkat. Kulihat siapa yang mengangkatku. Sang anak. Oh.. Apakah ia akan membuangku?

“Sepatu.. kau begitu baik menemani bapak. Aku akan merawatmu, dan sebentar lagi aku yang akan memakaimu.”
Blog, Updated at: July 12, 2021

0 komentar:

Post a Comment