SEBUAH LUKISAN
“Jelita…
Kamu mau kemana pagi-pagi udah cantik begini,” tiba-tiba mama sudah berada di
sampingku ketika aku selesai memakai jilbab warna pink kesukaanku.
“Ini
kan hari minggu ma… Jelita ada acara sama Angga, Jelita pergi dulu ya ma,”
kukecup pipi mama ketika angga sudah di depan rumahku.
Motor
ninja milik Angga melaju dengan kencangnya, sesekali Angga meraih tanganku agar
aku memeluknya lebih erat. Ya… walaupun aku sama Angga sudah tunangan 1 bulan
yang lalu tapi aku belum berani memeluknya maklum kan Angga belum menjadi suami
yang syah bagiku…
“Kita
kemana sih ngga?”
“Nanti
kamu juga tau sayang…,” hanya itu jawaban Angga
Tibalah
di sebuah bangunan yang penuh dengan arsistek seni, wah baru kali ini Angga
mengajak aku kesini.
“Kamu
suka kan Jel…kamu kan suka ngelukis jadi aku bawa kamu kesini.”
“Makasih
banget ya ngga…”
Kemudian
Angga menggandeng mesra aku dan menyuruh aku masuk ke dalam yang dimana-mana
terpasang lukisan cantik-cantik.
“Kalau
kamu suka aku bisa beliin buat kamu kok Jel…,” kata Angga sambil membenarkan
jilbab aku mungkin berantakan gara-gara makai helm tadi.
“Ngga…
lukisan itu… kok mirip aku sih… siapa pelukisnya?” kataku terkejut sambil
memandangi lukisan yang begitu bagusnya.
“Lho
kok bener sih Jel… ini bukannya mirip tapi sama persis dengan kamu… aku beliin
lukisan ini ya,” kata Angga yang langsung berjalan ke bagian kasir.
“Pak
yang lukisan ini harganya berapa?”
“Oh…
maaf Mas lukisan ini nggak dijual soalnya ini sudah punya seseorang, entar juga
mau diambil, disini Cuma masang bingkai nya doang kok mas… maaf ya mas kalau
mau beli lukisan yang lainnya saja ya…”
“Pak…
yang punya lukisan ini siapa namanya pak?” kataku memecahkan pembicaraan
“Lho…
wajahnya mbak ini kok sama dengan lukisan ini ya,” kata bapak itu sambil
mandangi wajahku heran.
“Bukan
itu yang aku tanyakan pak.”
“Oh…
kalau nggak salah namanya Mas Alexs mba…”
“Alexs…!!!
Kamu kenal dengan dia nggak Jelita?” tanya Angga penasaran
“Nggak…
aku enggak kenal kok ngga… emangnya kenapa?”
“Ya
udah.. nggak jadi cemburu deh,” kata Angga sambil senyum-senyum malu.
“Hu…
kamu ini kalau kenal nggak mungkin aku, tanya ngga… heee…hee.”
Minggu
ini aku seneng banget jalan-jalan sama Angga sampai-sampai pulangnya larut
malam jam 9:00… pasti deh aku kena omelan papa nih… aku jalan mengendap-ngendap
masuk ruang tamu… huh… untung sudah tidur semua, pikirku dalam hati, tapi
tiba-tiba saja lampunya menyala.
“Jelita…
kamu ini dari mana jam 9 baru pulang papa sama mama kwatir sama kamu,” kata papa
marah-marah.
“Maafin
jelita ya pa.. ma… Jelita tak akan ngulanginya lagi” kataku sambil mencium pipi
papa dan mama bergantian
“Papa
sama mama itu sayang banget sama kamu Jelita papa tidak ingin terjadi sesuatu
sama kamu,” kata papa sambil menatap tajam padaku.
“Hem…
Papa… lagian Jelita pergi sama Angga.. nggak usah khawatir dong pa… dia kan
tunangan jelita… lagian sebentar lagi juga mau menikah kalau jelita dah selesai
kuliahnya..”
“Ya…
udah sekarang sudah malem mandi terus makan sama mama sama papa… papa sama mama
juga belum makan nungguin kamu anak gadis mama yang bandel ini,” kata mama
sambil menyentuh lembut tanganku.
Rasanya
aku seneng banget dengan kehidupanku… YA ALLOH Alhamdulillah… punya rumah
megah, orangtua yang begitu sayang sama putrinya terus punya calon suami yang
setia rajin beribadah, penyayang, kurang apa sih aku…tapi kadang aku merasa
kesepian di rumah aku kan kepingin punya kakak atau adik juga biar bisa
bercanda dengan aku bisa menghilangkan kesepian ku di dalam rumah.
Liburan
semester ini kuhabiskan di rumah ya nemenin mama di rumah bantuin mama bersihin
rumput di taman…
“Deeerrr…!!!
Jelita kok melamun sih mikirin aku ya” tau-tau angga sudah berada di sampingku
sambil nyengir kuda.
“Lho…
Kamu kok bisa masuk sini ngga bukankah pintunya aku kunci tadi.”
“Bisa
dong… papa sama mama kamu kemana barusan kok kayaknya buru-buru banget gitu.”
“Barusan
aja pergi katanya ke rumah nenek.”
“Kalau
gitu kita maen yuk…” ajak Angga.
“Kemana Angga? oh iya ke pak karma aja yuk…”
“Kamu
kok sukanya kesana sich jel…?” kata Angga sambil mengeryitkan dahinya.
“Aku cuma penasaran sama lukisan itu sayang… kamu kok cemberut sih…,” kataku sambil
melirik dia.
Kira-kira
3 jam perjalananku dengan angga akhirnya sampai juga. Ketika aku mau masuk
tiba-tiba saja aku ditabrak dengan seseorang.
“Aduh…!!!
Maaf mba,” kata seorang cowok sambil membereskan semua lukisan yang berserakan
tiba-tiba cowok itu menatap aku.
“Juwita…!!
kau kah itu Juwita,” kata cowok itu sambil memeluk aku dan segera aku tampik
cowok aneh ini.
“Apa-apaan
sih kamu ini” kataku sambil menjauh
“Kok
kamu sekarang makai jilbab Juwita? Kamu kemana saja,” kata cowok itu lagi
“Hay…
apa-apaan si dia itu Jelita tunangan aku bukan Juwita tau…!!! Kamu sembarangan
meluk tunangan orang,” kata Angga yang mau mencoba memukul cowok di depanku.
“Kamu Juwita kan… bukan Jelita, ini… ini… semua lukisan-lukisan kamu yang aku buat Juwita sekarang impian aku jadi kenyataan aku jadi pelukis itu kan seperti
harapan kamu Juwita, aku cari-cari kamu kemana-mana nggak ketemu Juwita kata
ibu tiri mu kamu pergi jauh kemana kamu tega ninggalin aku Juwita,” kata cowok
itu menangis di hadapanku… dan aku pun tidak tau akar permasalahannya…
“Aku
nggak tau siapa Juwita… kenal aja nggak… nama aku jelita, nih KTP aku kalau
kamu nggak percaya,” kataku sambil menyodorkan KTP.
“Tapi…
wajah kamu itu kok sama dengan kekasih aku…”
“Makanya
jadi cowok itu jangan langsung nubruk cewek orang sembarangan, untung saja aku
tadi nggak jadi nonjok kamu… dasar cowok aneh…!” kata Angga sambil meringis
kesakitan soalnya kakinya aku injak…
“Maaf…
nama kamu siapa? Terus udah lama berpacaran dengan Juwita?” tanyaku ingin tahu
“Kenalin
aku Alexs sebenarnya aku sudah mau menikah dengan Juwita tapi ketika pesta
pernikahaan Juwita nya menghilang katanya melarikan diri… keluarga aku panik
kenapa mempelai perempuannya tidak ada terus kata mama tiri Juwita katanya Juwita melarikan diri soalnya dia tidak mencintai aku… tapi aku nggak percaya
itu… Tidak mungkin Juwita seperti itu… terus mama tiri Juwita menyuruh aku
harus menikahi putrinya saja adik tiri Juwita namanya Popy… akhirnya pesta
pernikahan itu batal tidak jadi karena aku sama sekali tidak mencinta Popy… aku. Cuma mencintai Juwita bukan Popy… sekarang kepergian Juwita tidak ada kabar
beritanya… aku yakin dia enggak pergi… tapi apa bener nama kamu Jelita,” tanya Alexs padaku sekali lagi.
“Ya
ampun… kamu nggak percaya juga kalau dia Jelita kuhajar dulu baru percaya
apa..?” kata Angga emosi.
“Jangan
ngomong gitu dong Angga… gimana kalau sekarang kita ke rumahnya Juwita,”
tanyaku pada Alexs.
“Ke
rumahnya Juwita… jangan deh Jelita soalnya Popy itu nggak suka banget sama
kakak tirinya… entar kamu dikirain Juwita.”
“Harus
gimana dong…?” kataku cari akal.
“Hem…
Alexs kamu punya nomor telponnya papanya Juwita nggak,” tanya Angga mengusulkan
idenya.
“Aduch…
ngga… papanya Juwita sekarang lagi sakit stroke kalau ngomong nggak jelas… aku
Cuma curiga sama tante Vony pasti semua kelakuan jahat tante Vony” kata Alesx
mantap.
“Angga…
aku pengen ketemu sama papanya Juwita siapa tahu aku bisa membantu dia,” kataku
sambil merayu Angga.
Dari
kaca gelap marcedesnya Angga aku melhat sebuah bangunan yang begitu indahnya…
megah banget mirip istana.
“Wow…
ini rumahnya lexs..?” kataku sambil memandangi rumah yang tertata rapi mirip
istana di negeri dongeng…
“Itu…
yang makai baju merah itu Popy, sedangkan itu mamanya… eh dia mau pergi..
untung saja… kita ada kesempatan buat masuk,” kata Alexs sambil membuka pintu
mobil dan aku sama Angga, cuma bisa menguntitnya dari belakang.
“Assalamu’alaikum…
bi Louis… bukain pintu nya bi,” kata Alexs sambil mengetuk-ngetuk pintu.
Dan
tiba-tiba pintu terbuka muncullah wanita separuh baya dengan kebaya warna
coklat walaupun usianya sudah tua tapi masih kelihatan cantik.
“Oh…
den Alexs… tumben datang lagi,” kata bi Louis sambil memandangi kami bertiga.
“Oh…
non Juwita… bibi kangen banget sama non Juwita kemana saja sih non selama ini…”
Kata bibi Louis sambil memeluk aku erat banget seakan-akan tidak mau untuk
melepasnya.
“Bi…
aku bukan Juwita bi… tapi nama aku Jelita…” kataku mantap sambil melihat
sekeliling ruang tamu itu
“Je…li…ta…,”
kata bi Louis bingung..
“A…da…
ta..mu… si…a..pa… bi…?” tanya seeseorang dari dalam.
“Den
alesx… Tuan,” kata bi Louis sambil berjalan mendekati papanya Juwita dan
mendorong kursi rodanya biar berdekatan dengan kami.
“A…lexs…
a…pa… i…tu… Ju..wi..ta…” kata pak Darwis dari kursi rodanya
“Bukan
pa… tapi Jelita” kata Alexs mendekat ke pak Darwis.
“Je…li…ta…
kau… kah.. itu… Jelita…? kema…rilah su..dah… 20 ta…hun ki…ta ber…pi..sah
deng..an mu nak… ma…af…kan pa…pa… ya… nak… pa…pa… ki…ra kamu su..dah…
me..ning..gal dengan ibu..mu waktu kecelakaan mo..bil… ter…nya..ta… ka…mu…
masih… hi…dup… wajah ka…mu… can…tik… ba..nget Je..li…ta.. sa..ngat… mi..rip…
de…ngan sau…da…ra… kem…bar.. mu… Ju..wi..ta…” kata pak Darwis berkaca-kaca..
“A…ku…
nggak ngerti maksud bapak… aku bukan Jelita anak bapak… tapi papa aku bernama
Darius…” kata ku meyakinkan
Kutatap
foto-foto yang tertata rapi di dinding… kemudian aku diantar ke kamar Juwita…
apakah mungkin dia kembaran ku… apakah mungkin dia saudara ku… terus pergi
kemana kah dia sekarang..?


0 komentar:
Post a Comment