LUKA LISA LUSA LALU
Luka. Apapun wujudnya, pasti menyakitkan. Luka yang paling menyakitkan adalah luka yang tak berwujud. Luka yang tak bisa dilihat, namun bisa dirasakan. Yaitu luka yang bersumber dari hati. Seperti yang kurasakan kemarin lusa.
Namaku Alyssa Ashila Farisha. Teman-teman biasa memanggilku Lisa. Aku kelas 10 SMA. Hobiku bermain basket, mendengarkan musik, membaca buku fiksi, dan memancing.
Hari itu, langit terlihat mendung. Sepertinya akan turun hujan. Aku mempercepat langkahku keluar dari gedung sekolah sambil berharap semoga masih ada angkot yang lewat, meskipun aku tahu ini mushahil. Angkot A2, angkot yang melewati komplek rumahku itu sangat jarang ditemukan saat sore seperti ini.
Latihan baket hari ini menguras banyak tenaga dan waktu, sehingga baru selesai sekarang. Namun hal itu terjadi bukan tanpa alasan. Tiga hari lagi, sekolahku akan mengadakan pertandingan dengan SMA Bhakti. Pertandingan ini khusus untuk team basket putri.
Baru tahun ini SMA Angkasa lolos ke tahap final. Mr. Yosi, pelatihku, sangat bangga kepada team kami yang terdiri dari sembilan orang. Ya, hanya sembilan orang perempuan yang mengikuti ekskul sekaligus perlombaan. Itupun gabungan dari kelas 10 dan 11. Sementara, team basket putra terdiri dari empat puluh lima orang. Jadi, tak heran jika Mr. Yosi sangat berterimakasih bila ada yang mau bergabung dengan team basket putri. Ia akan benar-benar melatih kami dengan baik, sampai kami bisa melakukan teknik yang tepat.
Sudah lima bulan aku bergabung dengan team ini, terhitung dari tiga hari sesudah MOS. Awalnya aku ragu, karena takut tak memiliki teman. Namun, Rara, teman semejaku mengajakku untuk mendaftar. Ketika aku sedang menulis nama di meja pendaftar, seseorang yang diam-diam kukagumi sosoknya mengambil kertas formulir yang sama. Lalu mengisi formulir di sampingku. Saat itu, aku merasa tak sia-sia telah memilih ekskul ini hingga sekarang. Karena sosoknya selalu dapat kutemukan di indoor, setiap kami berlatih basket.
“Alyssa! Kamu belum pulang?” Itu suara Rara.
Aku menoleh cepat ke arahnya, lalu menggeleng lemah. “Belum,” Balasku.
Rara ikut duduk di sebelahku, di kursi panjang yang ada di samping pos satpam depan sekolah. Aku mengecek lagi jam di pergelangan tangan, jam tiga lewat sepuluh menit. Aku semakin cemas.
“Kalo tau begini, tadi aku ikut ganti baju.” Aku menunduk, melihat ke pakaian basketku yang basah karena keringat.
“Lagian juga kamu cemas karena takut nggak ada angkot kan? Makanya langsung ke sini,” Ucap Rara.
Aku membenarkan ikatan rambutku yang hampir lepas sambil menyahuti ucapan Rara. “Iya.”
“Ohya, aku hampir lupa.” Rara nampak menyodorkan sesuatu padaku. Yaitu sebuah paper bag berwarna biru laut.
Aku terkejut dan sangat berterima kasih kepada Rara. “Aku lupa. Makasih ya, Ra.” Aku mengambil alih paper bag itu dari tangan Rara. Bagaimana aku bisa lupa? Ini kan barang berharga. Aku mengintip isi paper bag yang kupegang. Untungnya, semua masih utuh. Aku menghembuskan nafas lega.
Barang yang ada di dalam paper bag ini adalah cokelat dan surat dari penggemarku yang tiap hari mereka selipkan di loker. Kan kasihan kalau hilang atau rusak, kesannya aku nggak menghargai usaha mereka yang pastinya sudah susah payah untuk ngasih barang-barang ini.
“Itu tadi ketinggalan di loker indoor,” Jelas Rara. “Pelupa dasar,” Cibir Rara kemudian.
Aku menyengir lebar. “Hehe. Untung ada kamu. Pokoknya, makasih ya Ra. Kalau sampai paper bag ini hilang… aku nggak tau deh harus ngapain.”
“Bagiku, paper bag ini lebih berharga daripada isinya,” ucapku dengan pandangan menerawang ke langit yang nampaknya makin mendung. Kilatan petir terlihat dari kejauhan. Angin berhembus kencang, meniup rambutku dan memberi sensasi menyejukkan.
Rara tertawa setelah mendengar ucapanku. “Ya ampun, Lisa. Paper bag itu harganya nggak nyampe dua puluh ribu tau, di toko juga banyak yang jual. Yang mahal itu isinya. Satu cokelat itu bisa nyampe sepuluh ribu, terus dikali dua puluh… wah, Lis, kalo kamu jual nih ya… dapet banyak duit,” Celoteh Rara.
Aku tersenyum tipis dan menoleh ke arahnya yang masih cekikikan menertawaiku. “Ra, ini bukan paper bag biasa. Paper bag ini spesial dari seseorang.”
Dan seketika tawa Rara berubah menjadi tatapan datar. “Orang yang itu?” tanya Rara, memastikan tebakannya benar atau bukan.
Aku mengangguk.
“Please, Lis. Kamu harus berhenti deh. Kamu tau kan, beberapa jam yang lalu mereka udah jadian?” Rara menggoyang-goyangkan badanku. Seolah memintaku untuk sadar dengan keadaan, bahwa ini bukanlah mimpi.
Aku tahu persis apa yang dimaksud Rara. Ya, orang yang kukagumi sudah ada yang punya. Dan sudah seharusnya aku berhenti mengagumi dari sekarang.
Aku tersenyum getir. “Iya. Aku tau kok.” Lalu Rara memelukku. Menyalurkan semangatnya kepadaku.
Suara klakson angkot mengagetkan kami. Aku dan Rara kompak menoleh ke sebuah angkot B4 yang berhenti beberapa meter di depan kami. Rara bersorak senang. Aku mendesah kecewa. Dimana angkot A2?
“Aku duluan ya, Lis. Byee.” Rara bangkit dari duduknya dan menghampiri angkot itu sambil berjalan mundur. “Jangan mewek malam ini. Aku nanti malem sibuk, jangan telepon aku dan curcol galau. Apalagi ngegalauin orang yang udah punya pacar. Mending, kamu curcol sama tetanggamu itu. Ups, dia kan adaw!” Ocehan Rara berganti dengan risngisan gadis itu karena kepalanya kejedot angkot.
Aku menertawakan kesialannya.
“Lisa,” Geram Rara. “Bye!” Dan Rara masuk ke angkot itu sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang nyeri.
Aku bahkan masih tertawa sampai angkot itu benar-benar menghilang di pandanganku. Tawaku berhenti ketika sebuah sepeda motor berhenti di depanku. Dan orang itu sama sekali tak menganggap keberadaanku. Tadinya aku ingin menyapa, tetapi tak jadi saat sebuah suara muncul.
“Farell! Bentar!” Seorang gadis nampak berlarian menghampiri orang di depanku.
Lalu perempuan itu naik ke boncengan yang sebelumnya merupakan tempat yang sering kududuki. Hatiku serasa dicubit, nyeri. Menyadari bahwa sekarang tempat itu bukan untukku seorang. Sekarang posisiku sudah digantikan oleh perempuan itu. Perempuan manis yang bernama Putri, ketua cheerleaders dan kakak kelasku.
Dan laki-laki itu, yang sekarang sedang memakaikan helm ke Kak Putri adalah Farell. Sahabat sejak kecil sekaligus tetanggaku yang sejak beberapa minggu lalu sifatnya berubah. Aku maklumi itu. Harusnya, aku tak boleh egois. Harusnya, aku mengerti. Kalau yang dia cintai itu Kak Putri. Tetapi, aku masih merasa tak rela.
Biasanya, aku dan Farell selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Lalu sorenya, kami belajar bersama. Kadang di rumahnya, kadang juga di rumahku. Di hari Sabtu dan Minggu, kami bermain basket di lapangan komplek bersama. Dan di sekolah, kami sering meramaikan kelas dengan keusilan kami kepada teman-teman, terutama Rayhan si cowok pendiam dan kutu buku. Kadang-kadang kami bolos bareng, ngusilin Pak Andre yang orangnya kagetan, sampai kerjasama nyuri soal dan jawaban ulangan matematika di mejanya Bu Indah.
Sekarang semuanya sudah berbeda. Farell sudah tak usil lagi, sekarang dia lebih kalem, jadi nurut sama guru dan pacarnya, juga sudah jarang dipanggil ke BK. Tante Erina dan Om Fachri, orangtua Farell, juga sudah tak keseringan menghukum Farell yang sering buat ulah. Bagiku, Farell yang sekarang jadi tak asik. Dia terlalu datar, pendiam, dan sifatnya itu seperti tak cocok pada dirinya. Dulunya, dia selalu balas menyapa cewek-cewek yang jadi penggemarnya, sekarang sudah tidak. Kak Putri berhasil mengubah semuanya pada diri Farell.
Tetesan hujan membasahiku. Lama-lama tetesan itu semakin banyak. Rasanya dingin, kulitku seperti dipukul-pukul oleh tetesan itu. Sakit. Apalagi ketika melihat Kak Putri memeluk erat tubuh Farell, dan mereka melesat menembus hujan di depanku. Aku merasa sesak, tetapi sulit untuk mengeluarkan air mata.
Hidupku seperti drama. Dan aku benci mengatakan kalau aku merasa terluka saat sahabatku pergi meninggalkanku seorang diri di sini dengan tubuh basah kuyup karena hujan. Paper bag pemberiannya juga basah. Sebelum isinya ikutan basah, aku memindahkan semua surat dan cokelat ke dalam tas ranselku. Dan aku membuang rasa sakitku bersama paper bag pemberiannya ke dalam tong sampah di dekatku.


0 komentar:
Post a Comment