DUA PORSI BIHUN GORENG
Sebuah rumah makan di daerah pinggiran sangat ramai didatangi pengunjung akhir minggu ini. Rumah makan yang termasuk terkenal dengan masakan mie ini memiliki tampilan yang menarik meskipun tradisional. Tidak banyak cerita dalam cakupan rumah makan dan bisnis di dalamnya. Resep rahasia, desain yang menarik, inovasi pelayanan, semuanya. Kisah yang orang tidak perlu tahu dan tidak mau tahu adalah kisah apa yang terjadi di balik kepemimpinan perusahaan ini. Oh, kalaupun tentang perjuangan si pemimpin dalam menggerakkan perusahaannya dari nol kelihatannya sih menarik. Tetapi, mengenai kehidupan pribadinya apalagi kisah cintanya? Sudahlah, layani saja kami dengan makanan terbaik kalian. Kami tidak perlu tahulah masalah itu.
“Pesan apa mbak?” seorang perempuan muda yang bekerja pada rumah makan itu bertanya pada seorang gadis yang sedari tadi berdiri di depan etalase makanan.
“Oh, iya mbak. Saya pesan bihun goreng dua ya. Dibungkus. Oh, ya. Ga pakai daging dan sayurnya didikitin.” gadis itu memesan sambil tersenyum.
“Oke mbak. Ditunggu sambil duduk ya.” wanita yang mencatat pesanan tadi langsung memberikan pesanan pada temannya yang lain.
Gadis ini, dari cara dia berpakaian, terlihat terpelajar dan punya sopan santun. Dia memakai kaos berkerah dan rok sedang di bawah lutut. Rambutnya juga tidak dibentuk aneh-aneh, cukup dipanjangkan dan memakai jepitan kecil di rambutnya. Dia memakai sendal jepit yang sederhana.
“Mbaknya kayaknya bukan dari daerah ini ya?” kata perempuan pelayan tadi.
“Eh iya mbak. Saya ada tugas di daerah ini, sekitar 3 bulan.” kata gadis ini dengan ramah.
“Terus tinggal dimana?” tanya perempuan pelayan itu sambil menghitung beberapa lembar uang.
“Saya tinggal di rumah bude.” jawabnya singkat.
Beberapa menit kemudian bihun goreng gadis ini pun selesai. Gadis itu melangkah keluar lalu meraih sepedanya. Dia pun melaju bersama sepeda angin itu di jalanan. Tanpa dia sadari seseorang mengamati dia dari depan rumah makan tadi. Bahkan selama dia di rumah makan tadi, seseorang itu sudah mengamatinya.
Setelah beberapa kali setiap malam sering membeli ke rumah makan itu, diketahui oleh pelayan disitulah bahwa gadis itu bernama Eunike. Pelayan di rumah makan itu hanya ada tiga, dari yang terlihat selama ini. Satu yang melayani pembeli dan dua lagi yang memasak. Sedikit banyak Eunike mulai akrab dengan mereka di samping sudah hapalnya mereka akan pesanan gadis ini: Bihun goreng dua, tidak berdaging dan sedikit sayur.
“Beli dua buat siapa aja sih mbak?” kata Ina, perempuan pelayan yang selalu di depan kasir.
“Buat pakde dan bude saya. Mereka selalu menolak saya bantu pengeluaran selama saya tinggal, jadi saya selalu beliin mereka bihun kesukaan mereka ini. Supaya sepulang dari sawah, bude saya ga perlu masak lagi.” kata Eunike lagi-lagi tidak melupakan senyumnya.
“Oh, saya kira buat pacarnya terus dimakan berdua.” kata Handoko, pelayan yang bagian masak di rumah makan itu, diikuti tawa oleh Tono pelayan pemasak yang satu lagi.
“Enggaklah mas.” Eunike tertawa geli karena mereka yang tak hentinya bercanda.
Pelayan-pelayan itu begitu baik kepada Eunike. Pernah suatu ketika, Eunike kelupaan membawa uang, mereka tanpa pikir panjang mengizinkan Eunike membayar hari esoknya.
“Ga apa-apa, mbak Nike. Kayak kita ga kenal aja. Besok wes.” kata Ina sambil mengantarkan Eunike sampai pintu depan rumah makan.
Bahkan pelayan-pelayan ini tidak jarang membuatkan pesanan Eunike terlebih dahulu padahal ada pembeli lainnya.
“Jangan gitu dong mbak, saya kan jadi ga enak sama pembeli lainnya.” Kata Eunike sambil berbisik ke arah Ina.
“Mbak Nike, ini adalah pelayanan khusus untuk pelanggan favorit.” Ina mengarahkan jempolnya ke arah Eunike.
Atau ketika sepeda Eunike rusak ketika mau berangkat pulang, Handoko dan Ina rela meninggalkan rumah makan sementara untuk mengantarkan Eunike pulang. Sementara besoknya, tahu-tahu sepeda Eunike sudah diantarkan ke rumah budenya saja.
Terkadang kebaikan pelayan-pelayan rumah makan ini kelewat batas. Padahal pertemuan mereka hanya karena sebatas langganan bihun goreng. Sebenarnya rumah makan ini punya banyak pelanggan. Mereka para sopir bus yang sering berangkat pagi suka sarapan di rumah makan ini atau para karyawan dan PNS di desa ini yang rutin mengambil rantangan untuk makan tiga kali sehari. Banyak yang lebih bisa dijadikan favorit sebenarnya, Eunike hanya merasa dia diperlakukan khusus oleh mereka.
“Mbak, mas. Semua pelanggan di rumah makan ini emang diperlakukan kayak saya ya?” tanya Eunike dengan wajah penasarannya.
“Diperlakukan gimana maksudnya mbak?” tanya Ina sambil mengambil kursi duduk di dekat Eunike. Malam itu pengunjung lebih sedikit dari biasanya, sehingga pelayan-pelayan itu lebih leluasa diajak mengobrol.
“Jujur sih mbak, saya ini orangnya tidak cepat akrab dengan orang baru. Belum pernah saya seakrab dengan mbak dan mas sejauh ini. Padahal baru dua minggu saya disini,” kata Eunike terus terang.
“Loh, mbak kan emang orangnya baik hati,” kata Ina menjawab singkat.
“Cantik lagi,” tambah Tono. Handoko memukul bahu Tono sambil menggoyangkan tangannya mengisyaratkan untuk tidak mengatakan itu.
Eunike tidak menaruh curiga kepada pelayan itu. Toh, jika memang niatnya berbuat baik, Eunike hanya bisa bersyukur di tempat baru ini dia masih bisa bertemu dengan orang-orang baik hati.
“Ini mbak dan masnya cuma bertiga kelola rumah makan ini?” tanya Eunike suatu hari.
“Kita bertiga pelayannya sih mbak.” jawaban Ina terkesan asal dijawab karena pertanyaan Eunike tidak dijawab tepat sasaran.
“Iya saya tahu. Maksudnya, ini rumah makannya ga ada pemiliknya gitu apa mbak. Ini bukan rumah makan yang buka cabang kan?” tanya Eunike lagi.
“Iya ini rumah makannya cuma ada di tempat ini, kok. Ga ada cabang-cabangan.” jawab Handoko. Sementara Eunike menanti jawaban untuk pertanyaannya yang satu.
“Rumah makan ini ada yang punya kok, mbak. Cuma jarang kelihatan.” tambah Tono dengan wajah yang mengharapkan tidak ada pertanyaan lain.
“Pemiliknya tinggal disini?” tanya Eunike lagi.
Ina cuma mengangguk sambil menyerahkan pesanan bihun goreng Eunike.
Esoknya, Eunike kembali dengan kebiasaan yang sama datang ke rumah makan itu. Hanya hari ini lebih cepat dari biasanya karena budenya lagi sakit. Ada yang berbeda. Ada orang baru yang membantu memasak disitu. Pelayan atau…
“Mbak, kayak biasa ya.” Kata Eunike kepada Ina yang sedang fokus dengan catatan bon pelanggan.
“Astaga mbak, kaget saya. Kok cepat sekali hari ini?” tanya Ina sambil melirik ke arah tempat masak.
“Iya, bude saya sakit mbak. Biar bude cepat makan terus minum obat.” Jawab Eunike sambil tersenyum.
Di belakang Ina tempat memasak, seorang laki-laki Tionghoa menjatuhkan mangkuk. Wajahnya memerah dan terlihat gugup.
“Ko, saya saja yang memasak.” Kata Tono yang tiba-tiba muncul.
“Ga, ga usah. Bisa kok. Kamu istirahat saja.” Kata laki-laki yang dipanggil koko ini.
Mereka semua terdiam, tidak ada yang berani angkat bicara. Ina membersihkan beberapa meja makan sementara Tono dan Handoko pergi ke belakang.
Eunike yang berhati lembut dan ramah ini mencoba mencairkan suasana.
“Koko juga kerja disini?” tanya Eunike sambil mencoba tenang.
“Eh, iya. Ehm… Saya pemilik rumah makan ini.” jawab lelaki Tionghoa ini singkat sambil terus memasak.
“Wah…” Eunike menunjukkan ekspresi kagum dari binar matanya.
“Dari dulu saya selalu tertarik bisnis kuliner. Tapi hahaha… Namanya juga tidak berbakat bisnis. Jadinya ya hanya tertarik saja.”
Lelaki ini menyerahkan pesanan Eunike dan kemudian berkata, “Nama saya Liem”, lalu tersenyum sampai membuat Eunike kehilangan kesadaran beberapa detik.
Sudah sebulan lebih Eunike tinggal di daerah ini menempuh tugasnya sebagai teknisi proyek jalan raya di desa ini. Tidak lupa dengan kebiasaan yang sama untuk membeli bihun goreng kesukaan bude pakdenya di rumah makan langganannya.
Sementara pelayanan rumah makan ini sudah berbeda kepada Eunike semenjak kehadiran Liem waktu itu. Liem adalah sosok yang tidak banyak bicara. Uniknya, Liem hadir sebagai pelayan tunggal untuk Eunike. Secara khusus, Liem memasakkan bihun goreng pesanan Eunike dengan kalimat yang selalu sama setiap harinya, “Thank you. Please, besok datang lagi ya”. Tidak ada pelanggan seperti Eunike yang dimasakkan oleh pemilk rumah makannya langsung.
Eunike, gadis yang sebenarnya banyak bertanya ini, tidak mempunyai pertanyaan macam-macam jika bertemu Liem. Tidak ada yang tahu pastinya, apakah dia takut atau gugup atau ada alasan lainnya dari gadis bermata indah ini.
Liem hari ini sudah bersiap-siap menanti Eunike di rumah makannya. Beberapa jam sebelumnya, dia pergi ke pasar untuk membeli setangkai bunga mawar merah untuk diberikan pada Eunike. Tetapi, sepertinya gadis itu agak terlambat hari ini. Liem melamun sebentar.
“Ko Liem…” Eunike hadir dengan tampilan yang berbeda. Dia menggunakan dress biru muda, sementara rambutnya digerai dengan indah. Eunike… sangat cantik malam itu.
“Ni-Nike…” Liem hanya bisa terdiam memandang gadis itu.
“Wah, mbak Nike ayu banget.” Ina memecahkan suasana menegangkan itu.
“Saya pesan seperti biasa ya mbak. Bedanya, kali ini ga dibawa pulang. Makan disini," kata Eunike sambil tersenyum penuh semangat.
Liem hanya bisa menduga di dalam hati. Makan disini? Sama siapa?
“Eh, ko. Saya tinggal dulu ya. Nanti saya balik.” Eunike berlalu menuju keluar, entah ada urusan apa.
Sementara Liem mulai memasak, muncullah seorang pria yang sepertinya bukan dari daerah itu.
“Mbak, tadi ada lihat gadis pakai dress biru ga datang kemari?” kata pria itu. Pria itu tinggi, berkacamata, dan terkesan ramah.
“Oh, mbak Nike toh mas?” jawab Tono.
“Nah, iya betul,” sahut pria itu.
“Tadi sih pesen makanan, habis itu katanya mau keluar sebentar,” tambah Handoko sambil menatap pria itu dan Liem bergantian.
“Mas ini siapa ya?” tanya Ina, membuat semua pelayan hening.
“Hehehe… Saya tunangannya Nike.” kata pria itu sambil tersipu malu.
“Eh, Timi… Dicariin ke mobil malah udah disini.” Eunike tiba-tiba muncul lalu menggandeng tangan pria itu. “Kamu udah kenalan sama mereka? Ini rumah makan langganan aku di tempat ini. Baik-baik loh mas mbaknya. Mbak mas, kenalin ini Timothy.”
“Oh, halo mbak mas.” sahut Timothy sambil tersenyum.
Liem masih menghadap kompor gas yang membuat dia sedari tadi membelakangi mereka. Dia berhenti memasak, wajahnya pucat.
“Ini ko Liem. Dia pemilik rumah makan ini.” Kata Eunike menunjuk ke arah Liem.
“Tono, gantikan saya masak. Saya mau ke belakang sebentar.” Sahut Liem tiba-tiba.
“I-iya ko.” Kata Tono meraih sendok kuali dari tangan Liem.
Setelah rumah makan tutup, ketiga pelayan di rumah makan Liem langsung menuju ke tempat Liem berada. Mereka tahu betul bos mereka itu bagaimana.
“Kalian tahu umur saya sekarang 33 tahun. Sudah belasan tahun saya tidak pernah jatuh cinta sejak ya kalian tahu pacarku yang meninggal karena kecelakaan itu.” Liem mencurahkan isi hatinya kepada rekan-rekan sekerjanya itu.
Ina hanya bisa menangis melihat kesedihan hati bosnya itu, sementara mengingat bagaimana mereka selama ini mengambil hati Eunike untuk Liem. Handoko dan Tono menepuk pundak bosnya dengan penuh simpati.
“Kalian… Tetaplah berikan yang terbaik untuk pelanggan kita. Siapapun dia.” Liem kemudian berdiri lalu masuk ke dalam kamarnya.


0 komentar:
Post a Comment