KETIKA HATI DISURUH KEMBALI
Seperti biasa Syifa berangkat sekolah dengan berjalan kaki. sekolahnya sekitar 500 meter dari sekolah. Entah kenapa hari ini dia sangat bergembira. Sampai-sampai ia melamun saat berjalan dan menabrak seseorang.
“Eh maaf saya nggak sengaja.” Kataku ingin memegang orang itu dengan tujuan menolong orang yang aku tabrak. Tapi, saat aku mengetahui yang aku tabrak adalah seorang cowok aku tidak jadi menolongnya.
“Iya nggak papa” jawabnya ringan tanpa memperpanjang masalah.
Karena terburu-buru aku pun langsung pergi menuju sekolahku.
Tetttt tettttt tetttt….!!!
Bunyi bel masuk terdengar nyaring di telinga membuat kakiku langsung berlari seperti angin agar tidak terlambat masuk ke kelas.
Sampai di pintu kelas…
“Asalamu’aikum wr wb” kataku sambil membungkuk dan memegang lutut untuk mengumpulkan nafasku yang terengah-engah karena kelelahan lari tadi. Sebelum ada yang menjawab salamku, tiba-tiba dari sisi belakang ada orang yang mau masuk kelas tanpa melihatku di pintu dan akhirnya.
BRUKKKK
“Huuh, Jatuh untuk yang ke dua kalinya deh” ucapku kesal.
“Ehhh maaf gua nggak sengaja ” katanya sambil berdiri dan mau nolongin aku tapi aku langsung menghindar takut jadi fitnah dan tanpa pikir panjang aku berdiri sambil membersihkan rok yang aku pakai, takut kotor karena terjatuh. Saat aku lihat ternyata cowok itu adalah orang yang aku tabrak tadi pagi.
“KAMU?” kita pun berbicara bersamaan dengan mata melotot.
“Pagi” suara bu Roihana terdengar jelas di telingaku.
Aku dan cowok itu langsung bergegas untuk duduk ke bangku di dalam kelas.
“Oh iya anak-anak” ucap bu Roihana di depan kelas “Perkenalakan, ini ada anak baru silahkan perkenalkan diri” kata Bu Roihana tanpa salam dulu.
“Maaf bu bukanya saya lancang ibu tadi belum salam” kataku sambil mengacungkan jari dan tersenyum.
“Oh iya ibu kelupaan maaf ya, kalau gitu ibu buka dulu Assalamu’alaikum wr wb”
“Wa’alaikum salam wr wb” semua siswa menjawab dengan bersamaan.
“Terimakasih ya Syifa sudah mengingatkan Ibu.”
“Iya Bu sama-sama” jawabku ringan sambil menarik bibir ke kiri dan kanan sekitar satu kali.
“Mari nak kenalkan dirimu pada teman-temanmu” ucap Bu Roihana sambil melambaikan tangan ke cowok tadi.
“Iya bu” katanya sambil berjalan ke depan.
Setelah sampai di depan kelas tanpa basa-basi dia langsung bicara.
“Perkenalkan nama aku Muhammad Waffiq Hermawan, biasa dipanggil Waffiq saya berasal dari Tangerang, ada yang mau ditanyakan lagi?”
Semua cewek-cewek yang genit pun mendekati Waffiq, kemudian Bu Roihana segera menyuruh semuanya untuk duduk.
“Oh ternyata Waffiq to namanya.” kataku pelan takut ada yang dengar.
“Anak-anak karena sesi perkenalan sudah selesai, sekarang kita lanjutkan belajar Kimia, jika kalian ingin lebih dekat maka tanyakan diluar jam pelajaran, mengerti?”
“Mengerti bu…”
Tettt tettt tetttt…
Tidak terasa pelajaran telah selesai dan kami pun membereskan semua buku-buku dan bergegas pulang. Saat aku ingin menuju ke gerbang sekolah tiba-tiba ada yang menepuk bahuku pelan.
“Hai” katanya.
“Hai juga” jawabku singkat.
“Oh iya tadi kita belum sepet kenalan kan, boleh gua kenalan dengan lo? Aku Waffiq.” Katanya sambil mengulurkan tanganya.
“Saya Syifa” jawabku sambil menyambut uluran tangan Waffiq.
“Rumah kamu dimana?”
“Saya tinggal dekat, itu rumahku.” jawabku sambil memandang rumah sederhana berwarna putih itu.
“Dekat sekali rumah lo dari sekolah.”
“Ya lumayan, kamu rumahnya di mana?”
“Gua sekitar 3 km dari sekolah. Lo pulang sendiri sekarang?”
“Ya iya lha.”
Tidak terasa kami udah sampai di depan rumahku karena keasyikan ngobrol aku mau berjalan terus.
“Aku duluan ya katanya.”
“Ya hati-hati.”
Hari demi hari terasa begitu cepat karena aku dan Waffiq sering menghabiskan waktu bersama dan itu menjadikan hidupku lebih indah, semenjak itu kita menjadi sahabat. Kita selalu ngerjain tugas bareng, main bareng, diskusi, ribut dan kadang aku sering mengajukan pertanyaan yang konyol sampai-sampai kami lupa waktu.
“Tingal 1 bulan lagi kita lulus lho Syifa?” katanya dengan nada sok sedih gitu.
“Emang kenapa, 1 bulan kan lama?”
“Lama dari mananya?”
“Iya sih satu bulan itu sebentar lagi, tapi saya yakin satu bulan kedepan kita akan menghabiskan waktu bersama untuk berjuang, sebenarnya saya juga takut kalau nanti kita pisah.” entah kenapa mataku tidak bisa membendung air mata kemudian aku menangis dan mulutku tidak bisa berbicara lagi.
“Syifa… Gua pengen ngomong sama lo” dengan nada menegangkan.
“Ya ngomong aja”
“Aku bisa bernafas.. Wkwkwkwk.” sambil megang hidung aku.
“Kamu tu apa sih, malah bercanda saya tu lagi nangis ni loh” kataku sebel.
Tanganya Waffiq mengusap air mataku.
“Gua nggak mau lihat lo sedih fa”
“Waffiq saya sudah nggak sedih.” kataku sambil gantian menekan hidung peseknya.
“Gua boleh ngomong nggak sama lho fa?”
“Ya ngomong aja.”
“Sebenernya gua tu suka sama lo.”
Akupun terdiam dan mencerna kata-kata Waffiq tadi.
“Ya nggak papa, kamu boleh suka sama siapapun kok.”
“Kamu nggak marah fa?”
“Kenapa harus marah?”
“Ya udah makasih ya fa, udah kasih gua kesempatan.”
“Ha kesempatan apa?”
“Lo mau kan fa jadi pacar gua?”
“Waffiq saya nggak ngelarang kamu suka sama saya, tapi bukan berarti saya mau jadi pacar kamu.”
“La terus apa?”
“Sebentar lagi kita kan UN, saya nggak mau nanti kita mendapat nilai yang jelek!”
“Ya udah lha fa, gua ngerti maksud lo, la emang lo suka sama gua nggak fa?”
“Ya kalau dibilang suka saya belum tau, tapi intinya saya yakin sama kamu.”
“Maksudnya yakin?”
“Saya yakin jika suatu saat nanti kita jodoh kamu bisa buat saya bahagia.”
“Berarti kita sekarang pacaran fa?”
“Saya nggak mau kalau kita pacaran nanti endingnya kita putus”
“Ya ampun fa, ya kali nggak mugkin gua mutusin lo”
“Yah siapa tau.” kataku sambil berdo’a sama Allah di dalam hati biar Waffiq beneran jodohku.
“Nggak mungkin ah fa. gua tu beberan suka sama lo.”
“Ya semoga saja kamu nggak akan mutusin hubungan kita.”
Setelah kami bercakap-cakap. Aku langsung masuk rumah.
Waktu begitu cepat, hari-hari kami disibukan dengan pelajaran. Dan ujian-ujian. Tanpa aku sadari sekarang adalah pengumuman kelulusan, Waffiq menempati peringkat pertama kata teman-temanku, aku sangat bangga. Aku tidak bisa masuk sekolah karena sakit dan itu menjadi keberuntungan karena aku malu soalnya aku tidak mendapatkan peringkat 3 besar, tapi mau gimana lagi nasi telah menjadi bubur.
Akupun memutuskan untuk ke pesantren karena nilai UN ku tidak masuk seleksi beasiswa. Dan Waffiq pun memutuskan untuk melanjutkan di perguruan tinggi. setelah satu tahun lebih kami menjalin hubungan dengan jarak yang jauh. Dan semakin hari aku semakin yakin dengan Waffiq.
Saat itu bulan januari saat aku sedang libur dan Allah membukakan pintu hatiku saat aku sedang chatingan dengan Waffiq…
“Hai Waffiq sudah satu tahun lebih kita hubungan tanpa status, gimana kabar kamu? semoga baik, saya di sini nunggu kamu, jangan tingalkan saya ya..”
2 hari setelah aku chating Waffiq, diapun membalas.
“Untuk: Syifa
Sebelumnya aku mau minta maaf, aku nggak bisa janji sama kamu, aku masih labil, terimakasih udah mau mengikuti ke egoisanku selama ini.. Maaf aku datang kemudian pergi. Sekali lagi Maaf dan terimakasih untuk semuanya
Setelah aku membaca itu aku biasa aja, tapi tiga hari setelah aku mencerna dan mencermati kata-kata itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Ternyata Waffiq memutuskan hubungan ini.
“Ya Allah jika memang benar ini jalan buat saya untuk lebih fokus untuk nencari ridho-Mu, maka izinkan saya tetap mencintai Waffiq dalam setiap sepertiga malam, dan jika besok Waffiq memang bukan jodoh hamba. Berikanlah yang terbaik untuk hamba”
Mulai saat itu aku mencoba memperbaiki diri dan selalu berharap agar besok Waffiq menjadi jodohku. Dan aku memutuskan untuk kembali ke jalan Allah. Dan mengembalikan hati ini kepada pemilik aslinya.

0 komentar:
Post a Comment