HARIMAU! HARIMAU!
Ketika Wak Katok sadar dari pingsannya, dia mencoba duduk, tetapi
dia tak dapat menggerakkan tangan dan kakinya, dan kemudian dia tahu, bahwa dia
diikat. Kemudian dia teringat apa yang terjadi. Pak Haji yang jatuh tersungkur
ditembaknya dan kemudian pergumulannya dengan Buyung. Dia membalikkan kepalanya
dan melihat mayat Pak Haji di sampingnya. Dia terkejut. Dia melihat Buyung dan
Sanip yang duduk membelakangi pondok dekat api. Hati Wak Katok jadi senang
sedikit. Buyung dan Sanip akan dapat dikalahkannya. Mereka masih muda dan belum
berpengalaman. Dia akan menakuti mereka. Dia mengangkat suaranya memanggil
Buyung. Buyung dan Sanip berdiri dan masuk ke pondok.
"Lepaskan aku," kata Wak Katok, dan sinar matanya
mengandung kemarahan dan kebencian.
Buyung dan Sanip diam saja.
"Lepaskan aku, mengapa kalian ikat aku?"
"Wak Katok sudah membunuh Pak Haji," kata Buyung.
"Bukan salahku. Mangapa aku kalian serang?"
"Wak Katok mengirim kami mati," kata Buyung.
"Lepaskan aku, kalau tidak kumanterai kalian. Akan mati
kalian, mati dengan perut gembung, aku kirim setan dan jin menyerang kalian,
aku sumpahi kalian tujuh turunan......" Dia berhenti, melihat Buyung
tersenyum kepada Sanip, dan Sanip tersenyum kembali kepada Buyung.
Buyung teringat sesuatu dan membuka ikat pinggangnya yang menutupi
tali-tali jimat yang mengelilingi pinggangnya. Jimat-jimat itu diberikan
kepadanya oleh Wak Katok. Dilepaskannya tali jimat perlahan-lahan,
digumpalkannya, dan diperlihatkannya kepada Wak Katok, dan kemudian dengan
lambatnya lalu dilemparkannya ke api unggun.
"Lepaskan aku, nanti aku beri engkau mantera yang membuat
Zaitun tergila-gila padamu," katanya.
"Manteramu palsu, jimatmu palsu, pimpinanmu palsu, engkau
palsu" kata Buyung.
"Dan," tambah Buyung dengan kebanggaan dan kesadaran
baru" aku akan kawin dengan Zaitun karena dia cinta padaku, bukan karena
mantera dan jimat."
"Akan kalian apakan aku?" tanya Wak Katok, dengan suara
gemetar.
"Dibawa ke kampung dan diserahkan kepada polisi," kata
Buyung.
"Oh, jadi kalian menyangka, kalian dua orang muda yang tak
berilmu, akan dapat menangkap Wak Katok? Kalian tak percaya pada ilmuku, pada
sihirku, ha? Ha-ha-haaaaaa. Baiklah kita nanti akan melihat tukang siapa yang
tinggal di hutan ini, dan siapa yang akan pulang ke kampung....kalian
bangsat-bangsat yang tak tahu terima kasih pada guru.....awaslah......"
dan Wak Katok mengancam-ancam mereka lagi, serta menakuti mereka.
....
Esok paginya, Sanip dan Buyung memandikan mayat Pak Haji,
menyembahyangkan mayat, dan kemudian menguburkan Pak Haji. Kemudian mereka
masak dan makan, dan menyediakan perbekalan, dan Buyung membuka ikatan
kaki Wak Katok, tetapi membiarkan tangannya tetap terikat.
"Ke mana kita?" tanya Wak Katok.
"Memburu harimau," kata Buyung.
"Apaaaa?' Wak Katok berteriak ketakutan," Kalian bawa
aku berburu harimau sedang tanganku terikat? Sedikitnya beri aku parang dan
buka ikatan tanganku."
"Tak ada gunanya Wak Katok diberi senjata. Waktu Wak Katok
memegang senjata dan berkuasa, Wak Katok tak dapat memakainya untuk
membunuh harimau, tapi Wak Katok sendiri yang jadi harimau," jawab Buyung.
....
Mereka makan dalam keadaan siap sedia. Setelah selesai makan,
Buyung berbisik pada Sanip, dan kemudian memberi isyarat pada Wak Katok.
"Kaki Wak Katok kami ikat lagi," katanya.
"Mengapa?" tanya Wak Katok.
"Ikut sajalah perintah," kata Buyung.
Akan tetapi, Wak Katok hendak lari, dan Buyung berseru,
"Larilah, harimau telah menunggu."
Dan Wak Katok berhenti, tertegun, ketakutannya pada harimau lebih
besar lagi. Dia membiarkan kakinya diikat, dan kemudian Buyung dan Sanip
menyadarkannya ke pohon, dan sebelum Wak Katok menyadari apa yang mereka
lakukan terhadap dirinya, maka Buyung dan Sanip telah mengikatkan badannya ke
pohon.
"Kalian buat aku jadi umpan harimau?" matanya terbelatak
dan lidahnya hampir kelu.
"Ya," kata Buyung, "tetapi jangan takut, kami
lindungi jiwa Wak Katok."
"Tapi bagaimana kalau tembakanmu meleset?" tanya Wak
Katok dengan suara gemetar.
"Pakailah segala ilmu Wak Katok untuk membuat tembakanku
tepat sekali," jawab Buyung.
"Tidak, tidak, tak boleh engkau buat begitu," seru Wak
Katok, "Apa dosaku, maka aku disiksa serupa ini?"
"Dosa Wak Katok? kata Buyung, "Dengarlah, dosa-dosa Wak
Katak dahulu kami lupakan, dosa Wak Katok dengan Siti Rubiyah kami lupakan,
dosa Wak Katok hendak membunuh kami, dan telah membunuh Pak Haji, kami maafkan,
dan biarlah hakim yang mengadili Wak Katok di dunia ini, dan Tuhan nanti di
akhirat untuk dosa-dosa itu semuanya. Tetapi Wak Katok di dunia ini, dan Tuhan
nanti di akhirat untuk dosa-dosa itu semuanya. Tetapi Wak Katok telah menipu
orang banyak, Wak Katok katanya guru dan pemimpin, tapi Wak Katok telah memberi
pelajaran palsu, mantera palsu, jimat palsu, pimpinan palsu. Dalam hati Wak
Katok selama ini bukan manusia yang bersarang, tetapi harimau yang buas. Kami
hanya hendak mengumpan harimau dengan harimau........"
Lalu Buyung memberi isyarat pada Sanip dan mereka berdua
menjauhkan diri, kira-kira lima belas meter dari tempat Wak Katok terikat di
pohon. Mula-mula Wak Katok diam, akan tetapi ketakutannya semakin membesar.
Hutan terasa hening dan sepi. Daun-daun seakan tak bergerak sedikit pun juga.
Dia tak lagi dapat menahan diri, dia hendak berteriak, akan tetapi tiba-tiba
timbul pula takutnya lebih besar lagi, jika dia berteriak, harimau akan lebih
mudah mendengarnya, dan akan lebih cepat tiba. Akan tetapi, jika dia tak
berteriak, harimau pun akan datang .... Ah, telah tibakah harimau, itu suara
napas mengembus-hembus di dalam belukar .... krekek-krekek dalam dan daun
kering .... Wak Katok tak lagi dapat menahan dirinya, dan berteriak sekeras-kerasnya,
teriak manusia yang dicekik kengerian dan ketakutan hati, teriak manusia
primitif ketika melihat maut hendak datang hinggap di bahunya.
"Buyuuuuung! di mana engkauuuuuu???? Aduuuuuuh, tolooooong!!!
Tolooooooong !!! Kalian tinggalkan aku sendiriiiiiii! Bohong kalian, kalian
meninggalkan akuuuuuuu! Bayuuuuuuuu!!! Toloooooong!!"
Lama dia berteriak dan menjerit demikian, hingga suaranya serak,
dan setelah dia letih berteriak, dia menangis terisak-isak, lalu menjanjikan
uang, sawah dan rumah kepada Buyung dan Sanip, dan ketika ini juga tak
berhasil, lalu dia mencoba mengadu Sanip melawan Buyung, menjanjikan Sanip
uang, ilmu, harta, asal Sanip mau melepaskannya.
Kemudian dia menangis kembali, dadanya seakan hendak pecah. Sanip
sampai tak tahan, dan berbisik padaa Buyung, "Tak kasihan engkau?"
Tetapi Buyung menggelengkan kepalanya. Kemudian tiba-tiba Buyung
mengangkat kepalanya. Sebuah tali nalurinya seakan dipetik berdering ... dia
mengangkat senapan perlahan-lahan. Belum ada sesuatu yang terdengar.
Mereka menunggu dengan hati berdebar-debar. Kemudian mereka
mendengar seakan ada sesuatu bergerak dalam belukar di depannya. Perlahan dan
halus sekali. Hanya mata yang amat tajam sekali dan yang memperhatikannya
dengan saksama dapat membedakan gerakan itu dengan gerakan daun dan dahan yang
dibuai angin. Perlahan-lahan belukar di depan mereka tersibak, dan mereka
melihat muka harimau muncul, muka harimau yang telah memburu-buru mereka
berhari-hari, yang telah menimbulkan korban begitu banyak di antara mereka. Kini
mereka berhadap-hadapan. Hamariu itu memperhatikan tempat yang agak terbuka di
hadapannya dan kemudian menegangkan tubuhnya dan sebuah geram kecil timbul di
dalam rongga dadanya. Dia melihat kepada Wak Katok yang terikat bersandar ke
pohon di hadapannya dengan kepala terkulai. Wak Katok telah beberapa waktu
diam, karena keletihan. Akan tetapi dia mengangkat kepalanya ketika mendengar
harimau menggeram kecil, dan melihat muka harimau, hanya sepuluh meter di
depannya, dia membuka mulutnya hendak menjerit, akan tetapi tiba-tiba kepalanya
jatuh terkulai, dan yang keluar dari mulutnya hanyalah bunyi napas yang
dikejutkan keluar, dan bunyi erang ketakutan yang menyayat hati.
Harimau itu merendahkan badannya, siap hendak melompat .... Buyung
membidik hati-hati... membidikkan senapan tepat ke tengah antara kedua mata
harimau. Dengan gembira dia melihat tangannya tak gemetar. Sepanjang hari
hatinya selalu bertanya-tanya, dan dia merasa khawatir, apakah dia tidak akan
ketakutan dan tak kuasa membidik, tanggannya dan seluruh badannya akan gemetar
jika melihat harimau. Akan tetapi kini dia merasa seluruh badannya akan gemetar
jika melihat harimau. Akan tetapi kini dia merasa seluruh badan dan pikirannya
tenang. Dia tahu apa yang dilakukannya, dia menginsyafi bahaya bahaya besar
yang mereka hadapi, dia yakin pada dirinya sendiri. Kemudian melintas dalam
kepalanya, dia dapat juga membiarkan harimau menerkam Wak Katok dahulu, biarlah
Wak Katok dibunuh harimau, dan kemudian baru dia menembak .... Hatinya tertarik
pada pikiran ini .... tetapi dia seakan mendengar bisikan Pak Haji - bunuhlah
dahulu harimau dalam hatimu sendiri .... Buyung membidik hati-hati, memberatkan
jari telunjuknya pada pelatuk senapan, menunggu .... dan ketika harimau membuka
mulutnya mengaum yang dahsyat dan melantarkan badannya menerkam ke arah Wak
Katok, pada saat yang sama benar, Buyung menarik pelatuk. Letusan senapan yang
keras dan dahsyat berkumandang bergelombang di dalam hutan, bercampur dengan
pekik erangan harimau ditahan oleh sebuah tangan raksasa yang maha kuat di
udara, dan harimau terhempas di tanah satu meter dari tempatnya melompat,
meronta-ronta sebentar di tanah, dan kemudian diam, mati terbujur.


0 komentar:
Post a Comment