MAYAT HIDUP
Seorang anak kecil bernama Lingga sedang bermain di halaman bersama kelincinya. Rasa senang dan gembira bermain sehariaan. Kelinci melompat ke sana ke sini Lingga mengejarnya. Sang Kelinci terus melompat dengan cepat keluar dari pager yang rusak menuju jalan raya.
Lingga khawatir dengan keselamatan Kelinci di tengah jalan raya. Dengan lari cepat keluar dari halaman depat melewati pintu pager rumah untuk menyelamatkan Kelinci di tengah jalan.
Kelinci di serempet mobil saat melintas sampai terpental di seberang. Lingga menangis karena Kelincinya terluka parah. Lingga berusaha menyelamatkan Kelinci dengan di bawa ke rumahnya untuk meminta pertolongan Ibunya Lingga agar Kelinci selamat dari lukanya yang parah di serempet mobil.
Sang Ibu Lingga menyuruh anaknya untuk mengikhlaskan kepergian Kelincinya. Lingga pun menangis dan berteriak keras dengan memanggil "Kelinci."
Ibu Lingga menyuruh Lingga untuk menguburkan Kelinci tersebut. Lingga pun menguburkan Kelinci di belakang rumah ternyata di belakang rumah ada plang bertuliskan "Jangan melakukan hal-hal yang aneh-aneh di sini".
Lingga tidak memperdulikan peringatan itu yang telah lama terpajang sebelum Lingga tinggal di situ alias ngontrak. Lingga menguburkan Kelinci kesayangannya. Lingga bersedih kali menguburkan Kelincinya. Saat lubang telah tergali baru mayat Kelinci di masukkan dan di tutup rapih.
Tapi Lingga tidak sadar sudah di datengin roh halus di belakangnya. Lingga tetap jojong seperti biasanya lalu segera masuk ke dalam rumahnya untuk mandi dan berganti pakaian lalu melanjutkan aktivitas Lingga seperti biasa tapi tidak di temani Kelinci kesayangannya sampai waktu tidur datang.
Esok hari Lingga terbangun dari tidurnya dan keluar dari kamar untuk mandi pagi dan sarapan pagi. Saat melihat di halaman depan Lingga melihat kelinci yang sedang melompat-lompat ke sana ke sini. Lingga keluar dari rumah denga berlari kencang dan menangkap Kelinci dan berhasil di tangkap.
"Kelinci kesayangan ku," kata Lingga.
Lingga mengendong Kelincinya dengan sangat senang sekali dan di bawa ke dalam rumah. Lingga pun menaruh di atas meja dan memberikan wartel yang di ambil di kulkas. Sang Kelinci memakan wartel tersebut sangat cepat sekali. Tapi sang Kelinci menunjukkan aslinya berubah jadi buas dan menyerang Lingga dengan melompat dan menggigit Lingga.
"Lepas Kelinci jahat," kata Lingga.
Lingga berusaha keras menarik Kelinci yang berusaha melukai dirinya dan di lempat sejauh mungkin. Lingga berhasil terlepas dari serangan Kelinci, tetapi terlanjut terluka. Lingga berlari keluar rumah untuk menghindari serangan Kelinci yang berikutnya.
Lingga terkena serangan lagi dan terjatuh ke lantai karena kakinya terselandung kursi. Kelinci tetap menggigiti Lingga yang tidak berdaya.
Teriaklah Lingga dengan keras "Ibu...tolong aku."
Sang Ibu baru pulang dan masuk rumah beserta pemilik rumah. Sang sang Ibu Lingga sok dengan keadaan anaknya. Bapak pemilik rumah langsung bergerak cepat menolong Lingga begitu dengan Ibu Lingga.
Bapak pemilik rumah menangkap Kelinci yang masih terus melukai Lingga. Lalu Kelinck di bawa di dapur kemudian mengambillah pisau daging. Bapak pemilik rumah langsung menaruh Kelinci di meja sambil berontak dan penggalah kepala Kelinci dengan pisau daging.
Seketika Kelinci tidak bisa bergerak lagi dan mayatnya di masukkan di dalam pelastik baru di bawa di luar untuk di bakar oleh Pak pemilik rumah. Lingga di berikan pertolongan pertama oleh Ibunya dengan di gendong di bawa ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Lingga langsung di obati dokter karena luka gigitan hewan buas. Semenjak kejadiaan itu Lingga dan Ibunya pindah kontrakan. Pak pemilik rumah maklum dengan keadaan Ibu Lingga pindah dari rumah kontrakannya demi keselamatan anaknya.
Karena Pak pemilik rumah pernah mendapatkan hal yang sama di serang mayat hidup tapi bukan Kelinci melainkan anaknya yang meninggal mendadak karena sakit dan di makankan di belakang rumah. Berdasarkan silsilah ternyata tanah belakang rumah itu tanah keramat yang sering di lakukan ritual pembangkitan orang mati.
Pak pemilik rumah akhirnya tidak mengontrakan lagi rumahnya dan di biarkan begitu saja, tetapi memasang plang di tanah belakang rumah dengan sebuah peringatan "Jangan menguburkan sesuatu di daerah sini!".


0 komentar:
Post a Comment