GARA-GARA SUMPAH POCONG
Yinto berkumpul bermain di ruma Tino untuk main kartu remi. Saat itu permainan kartu remi lagi asik-asiknya. Yitno berhasil mengalakan Tino dan Edi. Sampai membuli Edi dengan coretan areng di wajah dan selaku ngocok kartu.
Edi mulai kesel jadi orang kalah sampai mengudutkan Yitno dengan sebuah omongan " Yitno jangan-jangan kamu curang mainnya."
Yitno pun menjawab tudingan omongan Edi yang tidak mendasar yaitu "Ngacok..kamu ....omongan kamu Edi."
"Masalahnya dia menang terus....main kartunya," kata Edi.
"Ah kalau..itu....sih..Yitno beruntung dan kamu Edi ..lagi sial," saut Tino yang membela Yitno.
"Kok...ngomongnya gitu....Tino. Padahal kamu juga kalah main reminya sama Yitno....," kata Edi.
"Ah..ini cuma..mainan tidak jadi perkara," kata Toni.
"Harus jadi perkaralah...jangan-jangan Yitno...pake ilmu sihir," tudingan lagi Edi ke Yitno.
"Astaga...segitu amat omongan kamu...Edi. Sumpah saya..bermain jujur. Saya berani di sumpah pocong," kata Yitno yang berani mengambil keputusan.
"Astaga..jangan...bawa pocong lah kalau main kartu remi. Nanti setan pocong hadir. Tambah kacau tahu," kata Toni yang memperingati.
"Wah...kalau..Yitno berani sumpah pocong..sih berarti dia..bermain jujur. Saya yang lagi sial...saja," kata Edi.
"Ya..sudah..jangan di bahas lagi pocongnya. Main aja!" kata Yitno.
"Iya...," saur Toni dan Edi bersamaan.
Suasana ruangan jadi berubah menjadi dingin dan senyap di tambah bau busuk. Yitno, Toni, dan Edi tuding-tudingan dengan bau busuk yang di cium mereka dengan alasan yang masuk akal bau kentut.
Tetap saja mereka bertiga menyangkalnya dengan bau busuk itu. Tiba-tiba jatuh belatung dan daging busuk dari langit dan ke meja tempat mereka bermain remi.
Yitno ketakutan sekali. Begitu juga dengan Edi dan Toni dengan kejadian yang ganjil yang di alami mereka bertiga. Edi langsung melihat sesosok pocong di sebelah Yitno.
"Pocong.....," teriak Edi.
Edi ketakutan dan lari keluar dari rumah. Lalu Tino pun melihat pocong di belakang Yitno.
"Pocong...," teriak Toni.
Toni langsung lari keluar rumah. Sedangkan Yitno membalikkan tubuhnya dan melihat pocong di hadapannya.
"Pocong..beneran," kata Yitno dengan suara yang penuh ketakutan.
Yitno pun langsung membalikkan tubuhnya dan berlari menuju pintu keluar rumah.
"Pocong......," teriak Yitno dengan takut sekali.
Yitno, Edi, dan Toni bertemu di taman. Lalu Toni dan Edi menyudutkan Yitno berdasarkan realita kenyataannya bahwa pocong mendatengi mereka bertiga gara-gara sumpah pocong Yitno yang terlalu berani tidak berpikir panjang.
Semenjak kejadian tersebut Yitno, Tino, dan Edi tidak berani lagi ngomong sembarangan sampai sumpah pocong karena nanti di datengin lagi.


0 komentar:
Post a Comment