SERANGAN MONSTER BUAYA
Langit terlihat cerah sekali di tengah kota. Seorang gadis cantik bernama Ega mengendarai motor metik. Dengan laju santai Ega membawa motornya bersama adik kecil bernama Vino. Saat masuk pengkolan daerah pinggiran taman kota. Telihat sesosok makluk yang buas membuat huru hara. Para warga banyak kocar-kacir menghindari serangan Monster Buaya.
"Dek ...pegangan yang kuat," kata Ega.
"Iya....Kak....," jawab Vino dengan penuh keluguan.
Ega pun putar balik arah motornya dengan cepat. Sang Monster Buaya mulai merasakan keberadaan orang yang di carinya. Lalu pandangan matanya ke arah seorang anak gadis yang mengendarai motor bersama adiknya.
"Putri Cahaya......," kata Monster Buaya.
Monster Buaya berlari dengan cepat dan meningkatkan lompatannya ke udara menuju target sasarannya. Tepat mendarat di hadapan Ega sambil memberhentikan laju motor. Sontak Ega berhenti mengendarai motor metiknya.
"Dek.......ayo kita...lari," kata Ega.
"Eya...Kak...," jawab Vino.
Sambil memegang tangan Vino, Ega berlari menghindari serangan Monster Buaya. Dengan sangat beringasnya Monster Buaya melempar motor metik dengan sangat kuat nyangkut di pohon.
"Putri Cahaya..........," kata Monster Buaya.
Monster Buaya bergerak cepat dan menghadang larinya Ega dan Vino.
"Kak....takut......," kata Vino.
"Jangan takut Kak bersama Vino," kata Ega sambil memeluk adiknya.
Sang Monster Buaya melancarkan sebuah serangan cakarnya ke hadapan Ega dan Vino. Dengan penuh ketakutan Ega dan Vino memejamkan mata dari serangan Monster Buaya tanda pasrah dengan keadaan.
Tapi dari jauh Rido melihat Ega dalam kesulitan. Dengan kemampuannya Rido bergerak cepat menghadang serangan cakar Monster Buaya dengan tangan kiri Rido.
"Kalian berdua tidak apa-apa?," tanya Rido.
kedua mata kakak beradik terbuka melihat Rido berjuang keras melindungi mereka berdua.
"Tidak apa-apa?," jawab Ega.
"Kalau begitu pergi dari sini....cepat," perintah Rido.
"Iya......," jawab Ega.
Ega dan Vino berlari cepat menuju tempat yang aman.
"Lagi....si penggangu.....," kata Monster Buaya.
"Iya...benar...yang terpenting saya akan menghancurkan kamu," kata Rido.
Dengan cepat berpikir Rido mulai meninju dengan tangan kanannya ke arah perut. Tapi sang Monster Buaya menangkisnya dengan tangannya yang kuat.
"Hebat juga....kamu," kata Rido.
"Begitu.......lah........," kata Monster Buaya.
Rido pun mulai mundur dan menyusun strategi serangan. Monster Buaya menunjukkan kebuasannya. Rido pun bersiap penuh. Sang Monster Buaya menyerang cepat dengan cakar-cakar mematikan. Rido mulai meningkatkan perubahan tangan kirinya. Dengan perhitungan tepat meninju ke arah muka Monster Buaya sampai terpental jauh.
"Sial....," kata Monster Buaya berusaha bangun dari tersungkur.
Rido tidak memberi celah kepada Monster Buaya. Dengan cepat melompat menuju Monster Buaya dengan sebuah tinjuan dari tangan kirinya.
"Tinjuan penghancur.....................................," teriak Rido.
Monster Buaya sadar menghindar serangan hebat Rido. Tanah pun bergetar karena kehebatan serangan Rido.
"Hampir saja...saya kena...," kata Monster Buaya yang berdiri di samping Rido.
"Sial ......serangan terkuat saya gagal....," kata Rido.
Rido mulai untuk menyerang kembali.
"Rasakan serangan terkuat saya....," teriak Rido sambil melancarkan serangan tangan kirinya.
"Kali ini saya tidak main-main," kata Monster Buaya.
Sang Monster Buaya berubah wujudnya tambah buas lagi. Serangan Rido yang kuat di pegang oleh Monster Buaya dengan tangan kanannya yang kuat.
"Haaaa," terkejut Rido.
"Kali...ini kamu yang harus hancur........wahai pelindung Putri Cahaya," kata Monster Buaya.
Monster Buaya mencengkeram tangan Rido dengan sangat kuat. Rido pun kesakitan sekali dengan kekuatan Monster Buaya. Lalu sang Monster Buaya melempar Rido ke udara lalu turun ke bawah, dengan cepat di serang dengan ekor yang kuat dari Monster Buaya sampai terpental jauh dan menabrak sebuah pohon.
Rido pun muntah darah dan berusaha bangun dengan segera. Sang Monster bergerak dengan cepat menuju Putri Cahaya. Lama ke lamaan Rido pun pingsan. Monster Buaya dengan sangat cepat menemukan keberadaan Putri Cahaya berserta adiknya yang bersembunyi ruangan tertutup. Sang Monster Buaya menghancur bangunan dengan cakarnya yang kuat.
"Haaaaa," terkejutlah Ega dan Vino.
"Akhirnya...saya temukan kamu Putri Cahaya," kata Monster Buaya.
"Ayo ....kita lari dari gudang ini," kata Ega.
"Iya...Kak..," jawab Vino.
Ega dan Vino keluar dari gudang dengan berlari cepat.
"Lari....kemana kamu Putri Cahaya....?," kata Monster Buaya.
Ega dan Vino berlari terus menghindari serangan Monster Buaya. Lagi-lagi sang Monster Buaya bergerak cepat lalu menghadang langkah kaki Ega dan Vino.
"Haaaa," terkejut Ega.
"Takut...Kak...," kata Vino.
"Kali kamu mati......Putri Cahaya...," kata Monster Buaya.
Sang Monster Buaya melancarkan serangan cakarnya ke hadapan Ega dan Vino. Lagi-lagi kakak beradik itu menutup mata karena takut dengan serangan dari Monster Buaya. Dengan sekejab sang Monster Buaya terbelah jadi dua. Darah pun mengucur dari belahan. Akhirnya sang Monster Buaya pun mati jatuh ke tanah. Dengan cepat berubah menjadi cairan.
"Kamu tidak apa-apa?," tanya Kakek Jagabaya.
Ega dan Vino membuka matanya.
"Kakek.........," kata Ega.
"Kakek......Kakek.......Kakek...," kata Vino yang senang.
"Kemana Monster tadi...?," tanya Ega.
"Sudah...musnah...lihat cairan yang tergenang di tanah," kata Kakek Jagabaya.
"Terima.....kasih atas bantuannya...Kakek.....," kata Ega.
"Iya...ayo..kita pulang," kata ajakan Kakek Jagabaya.
"Iya.......," jawab Ega.
Kakek Jagabaya mengantar Ega beserta adiknya pulang ke rumahnya. Di sisi lain Rido di tolong warga setempat di bawa ke rumah sakit.


0 komentar:
Post a Comment