MENYELESAIKAN URUSAN

Posted By Cerpen universal on Thursday, January 18, 2018 | January 18, 2018

MENYELESAIKAN URUSAN

Saat itu waktu menunjukkan jam 22.00 WIB. Di sebuah gedung pertunjukan yang megah Rangga duduk dengan santai di antara para pengemar. Terkadang Rangga bangkit dari duduknya lalu bersama rombongan ikut dalam memberi dukungan pada peserta yang bertanding lomba menyayi. Suasana menjadi huru hara dengan suara sorak-soraik semua pendukung dari para peserta. 

Rangga tetap tenang dalam pembawaannya. Pada saat itu Auliya mulai waktu untuk menunjukkan kemampuannya di pangung yang besar dan megah. Rangga terlihat senang banget melihat orang yang di sukainya mulai menunjukkan kemampuannya.

"Rangga .......tuuuu...Auliya...mau menunjukkan kehebatan di keseluruh penonton dan juri," kata Andi.

"Iya.....," jawab Rangga dengan penuh ketenangan.

Auliya bernyanyi di dukung dengan alunan musik yang apik. Semua orang terhanyut oleh lagu yang di bawakan. Apalagi penampilan seorang gadis cantik seperti Auliya menjadi sorotan semua mata memandang. Suasana lebih hidup lagi.

Ketika Auliya selesai menyanyi mulai para juri mengomentari semua apapun yang telah Auliya siapkan untuk di nilai. Auliya penuh dengan ketenangan sekali. Terlihat dari paras yang cantik di sorot oleh kamera. Kadang Rangga memastikannya lewat Hp untuk mefoto Auliya dengan penampilan yang terbaik.

Semua orang terkesan dengan penampilan Auliya di tambah komentar juri yang banyak memberi masukan yang baik. Rangga dan  beserta teman-temannya senang sekali mendengar semua komentar juri yang bersifat seportifitas. Tapi di saat itu Rangga mendapat sms yang cukup aneh. 

"Tolong," isi sms itu.

Rangga mulai bergerak menuju keluar.

"Rangga mau kemana?," tanya Indra temannya.

"Maaf.....saya ada urusan penting....," kata Rangga.

"Tapi.....Rangga ...inikan lagi penampilan Auliya.....kamu pergi begitu aja," kata Indra kembali.

"Maaf ada urusan penting," kata Rangga.

Rangga  terus berjalan menuju pintu keluar gedung. Tapi sesekali Rangga memandang Auliya. Di sisi lain Auliya serius dengan keadaan  dirinya, tapi Auliya pun sadar melihat Rangga keluar dari gedung.

Rangga dengan penuh buru-buru bergerak menuju tempat yang meminta tolong.  Dengan terus sms an dengan orang memberi informasi Rangga bergerak secepat mungkin menuju tempat  di tuju. Selang beberapa lama Rangga sampai ke tempat yang di tuju dengan menggunakan motornya. Terlihat di sebuah gedung tua. Rangga menghentikan motornya lalu memarkirkannya dengan baik. 

Tanpa pikir panjang Rangga masuk ke dalam gedung. Rangga mulai berhati-hati setiap langkahnya. Tiba-tiba sebuah kayu  bisbol datang kearah Rangga. Sontak Rangga menghindarinya, lalu segera menyerang orang yang melancarkan dengan tendangan dan beberapa tinjuan. Sang lawan babak belur di hajar Rangga. 

"Hebat....hebat...hebat sekali....berhasil menghajar anak buah saya," kata Toni.

"Jadi...ini ulah kamu Toni.........Apa mau mu sebenarnya?," tanya Toni.

"Iya gak banyak sih......hanya ingin menghajar mu........Untuk membales perbuatan mu yang telah melukai wajah saya," kata Toni dengan sangat marah.

"Tapi itukan saya tidak maksud melukai kamu. Saya ingin menolong teman saya," kata pembelaan Rangga.

"Menolong orang ini....maksudnya!!!," kata Toni.

"Yahya....kamu........ ditangkap Toni?," tanya Rangga.

"Iya....Bang Rangga...maaf.....semua ini jebakan Toni untuk bales dendam. Lihat Hp saya digunakan untuk pengelabuan ini semua," kata Yahya menjelaskan.

"Berengsek......kamu Toni. Kamu apakan Yahya?," tanya Rangga.

"Kamu bisa lihat sendiri......babak belur karena tidak bisa bayar hutang," kata Toni menunjukkan perangainya sebenarnya.

"Dasar lintah darat.....Berengsek kamu Toni," kata jahat terucap lagi dari mulut Rangga.

"Cukup pembicaraan ini. Anak buah hajar Rangga. Buat dia bertekuk lutut dengan saya," perintah Toni.

"Baik.....Bos...," jawab semua anak buahnya Toni.

Rangga mulai mengambil tongkat bisbol di lantai dan menyerang semua anak buah Toni dengan membabi buta. Terjadilah pertarungan sengit  saling menghancurkan. Rangga dengan semangat pantang menyerah menghajar satu persatu anak buah Toni. Tumbanglah satu persatu anak buah Toni di lantai.

"Berengsek anak buah saya kalah semua," kata Toni yang mulai ketakutan.

Rangga bergerak cepat dan menyerang Toni dengan terjangan tendangan yang cukup mematikan. Tapi Toni berhasil menghindari serangan Rangga.

"Hebat juga mampu menghindari serangan saya," kata Rangga.

"Itu mah gak seberapa...," saut Toni.

"Baiklah kita lanjutkan pertarungan ini.  Untuk menyelesaikan urusan kita," kata Rangga.

"Ok....siapa takut," jawab Toni sambil berancang-ancang.

Rangga mulai mengunakan teknik tarian silatnya. Toni mulai untuk bersiap bertarung. Toni mulai menyerang dengan beberapa serangan tinjuan. Rangga pun menghindarinya serangan Toni. Kadang menangkisnya dengan cepat dan tepat. Saat ada celah Rangga menyerang dengan sebuah tinjuan ke arah muka. 

"Buuuuukkkk," suara pukulan dari serangan Rangga.

"Ahhh," teriak sakit Toni.

"Berengsek..................," kata Toni yang kesakitan.

"Gimana serangan dari tinjuan saya......Toni.....?," tanya Rangga.

"Gak usah di tanya rasanya," jawab Toni.

Toni mulai menyerang kembali. Rangga menangkis semua tendangan dan tinjuan Toni. Lalu ketika ada celah Rangga menyerang bagian perut dengan tendangannya sampai Toni tersungkur di lantai. Tanpa  memberi ruang waktu Rangga maju  dan meninju Toni kearah mukanya sampai babak belur mengeluarkan darah.

"Rasakan itu......Toni si lintah darat," kata Rangga.

"Eeeahhhhh....," suara desahan Toni yang kesakitan dari serangan Rangga.

Rangga bergerak menuju Yahya.

"Gimana keadaan mu sobat?," tanya Rangga.

"Baik...Bang........," jawab Yahya.

Rangga mengeluarkan hpnya dari saku bajunya.

"Sial banget...hp saya pecah. Mungkin karena serangan anak buah Toni," kata Rangga sambi duduk di lantai.

"Bisa di pake gak Bang?," tanya Yahya.

"Masih bisa sih di pake...Yahya......Saya lagi nonton penampilan Auliya," kata Rangga.

"Kak.... Auliya lagi menunjukkan kehebatannya di semua penonton dan para juri dengan  bakat menyanyinya," kata Yahya.

"Itu........benar ......Yahya," kata Rangga.

"liat Bang .......Auliya sedang di tembak oleh Nazar di acara besar itu," kata Yahya.

"Bener-bener.............sial saya melihatnya.......," kata Rangga.

"Abang cemburu........ ya?," tanya Yanya.

"Iya.....sedikit.....sih," jawab Rangga.

"Itu sih namanya cinta Bang sama Kak Auliya yang cantik itu," kata Yahya sambil memuji.

"Bisa aja kamu... ayo kita pergi dari sini," kata Rangga.

"Kemana Bang?," tanya Yahya.

"Kemana lagi ke rumah sakitlah.....ngobatin semuruh luka mu akibat  serangan Toni," kata Rangga.

"Gimana dengan Toni dengan anak buahnya?," tanya Yahya.

"Udah tenang aja.......saya sms teman saya di kepolisian untuk membereskan urusan ini," kata Rangga.

"Oh......jadi Abang bertanggung jawab dengan semua keadaan ini," kata Yahya.

"Yahhhh.....mau apa lagi......kalau mereka..sehat...bisa-bisa bales dendam lagi. Urusan bisa  tambah panjang lagi," kata Rangga.

"Saya nurut apa kata Abang lah," kata Yahya.

Rangga membopong Yahya keluar dari gedung dan pergi ke rumah sakit dengan menggunakan motor yang di parkir di luar.
Blog, Updated at: January 18, 2018

0 komentar:

Post a Comment