PERI AJAIB
“Eeeehh,” suara geram Firni.
Firni melihat sekeliling apa yang bisa gunakan untuk menangkap kelinci kecil berwarna putih. Terlihat sebuah kayu bercabang Firni mengambilnya. Kemudian Firni mengikat cabangnya dengan seutas tali untuk menjerat Kelinci kecil berwarna putih. Di masukanlah tongkat bercabang tersebut ke dalam lorong. Berusaha keras Firni untuk mendapatkan kelinci kecil berwarna putih.
Keringat bercucuran membasahi tubuh Firni. Tetap saja tidak mendapatkan kelinci kecil berwarna putih.
“Eeeh,” suara geram Firni karena kalut.
Firni mencoba lagi melihat sekeliling tempat tersebut ada cara untuk mendapatkan kelinci kecil berwarna putih.
“Ha,” terkejut Firni.
Melihat sesuatu yang terselubung di sebuah semak bunga. Firni mendekati selubung tersebut dengan perlahan dan melupakan kelinci kecil berwarna putih. Firni menyentuh selubung itu dengan tangan kanannya.
“Benda apa ini?,” bertanya-tanya Firni.
Kemudian Firni memberanikan diri untuk melangkah ke dalam selubung tersebut. Masuklah Firni ke dalam. Terlihat dengan mata kepala Firni sebuah dunia yang begitu cantik. Terlihat banyak bunga bermekaran. Kupu-kupu cantik terlihat di taman bunga. Ada sebuah desa kecil di tengah bunga yang bermekaraan. Firni semakin terpukau sekali, lalu melangkah untuk mendatangi desa kecil.
Firni melihat makluk kecil sedang berdendang ria. Firni suka mendengarkan dan melihatnya makluk cantik tersebut. Firni makin tertarik dan ingin menangkapnya dengan tangan yang besar. Makluk kecil pada terkejut melihat manusia masuk wilayahnya. Makluk kecil tertangkap oleh Firni.
“Ku mohon jangan bunuh aku,” kata makluk kecil.
“Ha,...kamu bisa ngomong...makluk apa kamu?,” tanya Firni.
“Lepaskan aku dulu aku jelaskan,” kata makluk kecil
“Baik lah,” kata Firni.
Firni menaruh Makluk kecil tersebut ke kaumnya. Mereka semua senang dan gembira.
“Sekarang ceritakan kalian Makluk apa?,” tanya Firni.
“Kami adalah peri bunga,” kata makluk kecil.
“Oh siapa namamu?,” tanya Firni.
“Nama saya Lilo,” jawabnya.
“Kalau kamu peri mana sayapnya?,” tanya Firni.
“Oh itu kami punya kemampuan untuk menghilangkan sayap kami. Jika kami mengucapkan sebuah mantra sayap muncullah, maka sayap kami muncul,” penjelasan Lilo sambil mempraktekkannya.
“Wah sungguh hebat para peri ini,” sanjungan Firni.
“Ya begitulah,” jawab Lilo.
Suara terdengar memanggil Firni. Dengan mendengarkan seksama ternyata suara ibu memanggil Firni.
“Ibu,” celoteh Firni.
“Wah duh gimana ini ibunya bisa saja dateng ke desa kita?,” kata Lilo.
Semua peri bersembunyi di rimbunya bunga dan rumahnya mereka semua. Firni mendengar pangilan ibunya ingin kembali pulang. Melangkah Firni meninggalkan para peri.
“Saya pulang dulu ya,” kata Firni.
“Ya......terima kasih atas kunjungannya,” kata Lilo dan kawan-kawan.
“Dadah,” kata salam Firni sambil melambaikan tangan.
“Ya...dadah...,” jawab semua peri.
Firni melangkah ke dalam selubung di mana pintu masuk. Keluarlah dari dunia peri. Berlari Firni menghampiri ibunya yang mencemaskan dirinya.
“Ibu,” kata Firni.
“Dari mana saja kamu?,” tanya ibu.
“Gak dari mana-mana, Cuma main di sekitar taman ini,” penjelasan Firni.
“Ya udah masuk ke dalam rumah. Ibu memasakan sesuatu untuk kamu yang enak,” kata ibu memanjakan anaknya.
“Apa itu?,” tanya Firni yang manja.
“Spesial,” kata ibu.
“Spesial pasti enak,” sahut Firni.
Firni dan ibu meningalkan taman menuju rumah. Firni melupakan tentang peri kalau sudah bersama ibunya tersayang.


0 komentar:
Post a Comment