MENJAGA DIRI

Posted By Cerpen universal on Friday, March 3, 2017 | March 03, 2017

MENJAGA DIRI
Zaman dahulu ada dua orang anak laki-laki yang dari keluarga miskin. Maru dan Mosuke selalu bekerja sama untuk kelangsungan hidupnya. Kedua sahabat bermain ini terus bekerja sama dan membangun mimpi. Pada suatu hari desanya di serang oleh gerombolan penjahat. Maru dan Mosuke bersembunyi untuk menghindari pembantaian oleh para gerombolan penjahat. Para warga desa pada mati semua keberingasaan para gerombolan penjahat. Di balik bilik rumah Maru dan Mosuke bersembunyi melihat pembantaian itu.

“Takut,” kata Mosuke

“Suut,” kata Maru.

Maru dan Mosuke turus bersembunyi sampai para penjahat pergi. Setelah para gerombolan penjahat pergi.

“Ayo kita keluar,  mereka sudah pergi,” kata Maru.

“Ya ,” jawab Mosuke.

Bergegaslah Mosuke dan Maru keluar dari persembunyiannya dari bilik rumah. Mereka berdua menghampiri mayat-mayat warga desa yang bergelimpangan.

“Ayo kita kuburkan para warga desa dengan layak,” kata Maru.

“Ayo Maru,” jawab Mosuke.

Mereka  berdua mengambil gerobak dan pacul. Lalu mengangkut mengangkut satu-satu mayat angakat ke gerobak segera di bawa ke  sebuah tempat tidak jauh desa. Maru dan Mosuke menggali tanah dengan pacul saling bergantian. Mayat di kuburkan dengan layak oleh Maru dan Mosuke. Pekerjaan itu mereka lakukan sampai para warga desa di makamkan semua.

“Akhirnya selesai juga,” kata Mosuke.

“Ya....,” jawab Maru.

Kembalilah mereka ke desa mereka dengan semua peralatan di bawa. Sampai desa gerombolan penjahat dateng lagi.

“Maru gimana ini mereka dateng,” kata Mosuke.

“Tenang Mosuke....” sahut Maru.

Kemudian Maru mengambil pedang untuk berjaga-jaga. Para gerombolan penjahat mendatangi mereka berdua.

“Jadi masih ada yang tersisa dari desa ini,” kata Penjahat.

“Kalau begitu kita habisi saja. Coba  lihat anak yang berambut panjang itu memegang pedang,” kata teman penjahat.

“Itu benar sekali... kalau begitu saya akan menghajar anak sombong yang memegang pedang itu,” kata penjahat.

Dengan mencabut pedangnya dari sarungnya penjahat menyerang Maru yang menjaga dirinya  dengan pedang.

“Mosuke mundur dan bersembunyi,” kata Maru.

“Baik,” jawab mosuke.

Penjahat dateng dengan sabetan pedangnya. Maru melihat pergerakannya dengan matanya, lalu menghindari serangan tebasan musuh dengan instingnya. Segera Maru menikam musuh dengan pedangnya.

“Eeee..aahh,” suara terakhir penjahat.

“Ha...brengsek dia membunuh temanku,” kata penjahat dengan marah.

Penjahat menyerang kembali ke hadapan Maru. Pedang musuh  di tikamkan ke depan muka Maru. Dengan cepat Maru menghindari serangan musuhnya, dengan segera menebasnya di bagian  tenggorokannya.

“Eeee...aahhh,” teriakan terakhir penjahat sambil menutupi pendarahanya dengan tangan kirinya.

“Haaaa..........hebat juga,” kata bos penjahat.

“Sial banget anak itu telah membunuh teman kita,” kata penjahat.

Para penjahat  dateng dengan mengkroyok Maru. Melangkahlah Maru  ke mayat penjahat dan mengambil pedangnya. Para penjahat  meyerang Maru seperti binatang liar. Pedang para penjahat di ayunkan ke hadapan Maru. Kesigapan Maru menangkis semua serangan musuh, lalu dengan cepat menebas kebagian  tubuh mereka satu persatu.

“Eeeee...aaah,” suara para penjahat tumbang.

“Sembilan orang telah kalah oleh Maru  tinggal satu lagi biangnya,” kata Mosuke menghitung.


Maru. Berusaha bersiap menghadapi pemimpinya. Turunlah bos penjahat dari kuda. Mengambil sebuah tombak dari kuda.

“Hebat juga ...kamu anak kecil siapa namamu?,” tanya Penjahat.

Maru tetap terdiam tidak menjawab pertanyaan musuh. Bos penjahat menunggu jawaban dari anak kecil tersebut tak satu kata terucap.

“Kalau tidak menjawab berati kamu bisu....kalau begitu  mati saja kamu anak kecil,” kata bos penjahat.

Bos penjahat menyerang dengan memegang tombak dan berlari cepat ke arah Maru. Mulai Maru menangkis serangan tombak dengan pedangnya. Tetapi karena musuh sangat kuat Maru terdesak oleh serangan tersebut. Kemudian Maru menekan serangan tersebut langsung bergerak ke arah kanan. Pedang yang di tangan kirinya di lepaskan. Bergeraklah cepat Maru dengan menusuk musuh bagian tenggorokannya dengan pedang.

“Eeeee...kenapa bisa aku di kalahkan anak kecil?,” kata terakhir musuh.

“Karena kamu mempunyai celah yang tidak kamu lindungi,” jawab Maru.

Bos penjahat pun tumbang dan jatuh ke tanah. Mosuke mendatengi Maru.

“Hebat kamu Maru menghabisi mereka sendirian,” kata Mosuke.

“Ya...tetapi mayat mereka ini merepotkan,” kata Maru.

“Eh...itu gamapang nanti saja setelah kita makan,” kata Mosuke.

“Ya...juga...sih tapi kan bau Mosuke,” kata Maru.

“Biarin aja.....,” kata Mosuke.

“Ayo cari makan..aku lelah bertarung,” kata Maru.

“Ayo...,” sahut Mosuke.

Mereka berdua meninggalkan mayat penjahat begitu saja kembali ke rumah. Maru dan Mosuke bekerja sama membuat makan supaya energi tubuh mereka pulih. Selang berapa lama mereka memasak  di dapur akhirnya mereka berdua menyantap dengan sangat lahap.  Setelah selesai makan baru mereka menguburkan mayat para penjahat sampai pagi hari. Kemudian mereka berdua beristirahat dengan tenang karena saling menjaga. Saat istirahat Mosuke mengajak Maru ngobrol.

“Maru saya berjanji akan membuatkan mu pedang yang paling hebat,” kata Mosuke.

“Ya.. saya akan jadi pendekar pedang yang hebat,” jawab Maru.

Karena  sebuah janji mereka berdua mereka membangun diri mereka menjadi sosok yang lebih dewasa.  Ketika seorang penguasa mengadakan sebuah sainbara pembuatan pedang. Maru dan Mosuke tertarik dengan sainbara itu.

“Wah Maru jika menang pedang kita akan di bayar sangat mahal dan juga kamu bisa jadi seorang perajurit,” kata Mosuke.

“Ya ...itu betul sekali Mosuke, jadi kita bisa terbebas dari kemiskinan,” kata Maru.

“Ya itu benar sekali....kalau begitu saya harus bekerja keras untuk menang,” kata Mosuke.

“Ya...saya akan membantu kamu Mosuke,” ujar Maru.

Mereka berdua bergegas mengumbulkan bahannya dan menciptakan pedang yang paling hebat. Dengan usaha yang keras Mosuke berhasil membuat pedang yang hebat yang dia beri nama Same. Maru membantu dalam pembuatan pedang hebat Same. Setelah selesai membuat pedang Same, mereka kedua pergi kerajaan untuk menyerahkan hasil kerja mereka.

Sampai di dalam istana kerajaan bertemu dengan patuka Tong pekerjaan Mosuke dan Maru di terima. Sainbara pun di menangkan oleh Mosuke karena pedang yang di buat sesuai keinginan paduka Tong. Maru dan Mosuke senang sekali dengan kemenangan itu.Maru pun di angkat menjadi perajurit kepercayaan paduka Tong. Suatu malam paduka Tong memanggil Maru untuk menghadap.

“Maru pedang yang di buat Mosuke ini sangat bagus sekali. Tetapi  penciptanya ini harus di bunuh. Karena lebih baik pedang ini satu-satunya di dunia dari pada talenta Mosuke itu berbahaya dapat menciptakan pedang yang lainnya,” kata perintah paduka Tong.

“He...,” Maru tercengang oleh perintah paduka Tong.

“Gimana Maru?,” tanya paduka Tong.

“Saya tidak akan melakukannya,” jawab Maru.

“Jadi  kamu mentang saya,”  kata patuka Tong.

“Maaf kan saya, tetapi saya tidak bisa menghiati teman saya,” kata Maru.

“Ya...sudah itu mau kamu berarti sudah pendirian kamu. Saya menganggap menentang titah raja,” kata paduka Tong.

“Sekali lagi maaf saya...kalau begitu saya permisi,” kata Maru.
 
Maru segera meninggal kediaman paduka Tong. Dengan terburu Maru membawa perlengkapannya pergi ke tempat Mosuke tinggal. Di sebuah perbukitan Maru dan Mosuke bertemu. Maru menceritakan segalanya kepada Mosuke. Mendengarkan semua cerita Maru kalau Mosuke mau di bunuh, langsung marah sekali. Mosuke menyesal membuat pedang terhebat itu. Mosuke mengajak Maru untuk melarikan diri, tetapi Maru tidak mau ia hanya ingin melindungi Mosuke. Mendengarkan keteguhan hati Maru mau lindungi Mosuke terasa tenang dan senang sekali. Mosuke berjanji akan membuat pedang yang hebat lagi untuk Maru. Lagi-lagi Maru terlihat bahagia dengan perkataan Mosuke masih kecil yang ingin membuatkan pedang untuknya.

Para prajurit datang ke tempat ke tempat pertemuan Maru dan Mosuke. Maru menyuruh Mosuke bersembunyi. Para prajurit berhadapan dengan Maru.

“Mana Mosuke?,” tanya prajurit.

“Tidak tahu,” jawab Maru.

“Kalau begitu kamu menentah perintah paduka Tong. Jadi kamu harus di habisi,” kata prajurit.

“Baiklah kalau itu mau kalian,” kata Maru.

Maru mengeluarkan pedang gandanya dan bersiap bertarung. Para prajurit menyerang Maru dengan kroyokan. Dengan gagah perkasanya Maru menebas semua prajurit dengan dengan teknik tarian pedang kembar. Para prajurit tumbang semua yang tersisa oleh Maru di tumpukan mayat. Dengan keletihan Maru berusaha untuk bertahan. Paduka Tong mendengar kabar parajuritnya banyak tewas semuanya di tangan Maru. Paduka Tong sangat geram dan marah, lalu mengirimkan parajurit lagi untuk membunuh Maru dan Mosuke. Pada akhirnya Maru tewas dengan kehabisan tenaga membunuh banyak prajurit. Sedangkan Mosuke tertangkap dan dibunuh. Semenjak itulah Maru di kenal dengan iblis petarung dengan membunuh banyak orang dengan teknik pedangnya yang menyeramkan. Mosuke menjadi hantu penasaran karena janjinya pada Maru tidak terpenuhi. Begitu juga Maru jadi hantu penasaran karena telah banyak membunuh. 
Blog, Updated at: March 03, 2017

0 komentar:

Post a Comment