SEBUAH PENANTIAN
Bekerja memenuhi kebutuhannya sehari-hari
sendirian tanpa ada keluarga di sisinya. Awal pertemuan Heru dengan Anita
terjadi pada suatu hari yang cerah tiba-tiba
udara makin dingin awan hitam terlihat dari kejauhan perlahan-lahan
tertiup oleh angin. Sampai pada kawasan terjadilah hujan. Anita dalam perjalan
pulang dari kuliah menggunakan motornya. Anita berhenti sebentar di pinggir
jalan dekat pertokoan. Anita menumpang berteduh sebuah kedai makan.
Seorang pelayan
memperbolehkan Anita untuk duduk di kedai makan. Sambil
menunggu hujan berhenti Anita menyibukkan diri dengan main Hp. Hujan makin
deras tak berhenti-henti. Padahal Anita ada urusan mendadak yang harus di
selesaikan. Karena halangan hujan maka Anita menundanya.
Kemudian Anita
memanggil pelayan kedai makan memesan makan dan minum. Terasa perutnya
keroncongan apalagi di pengaruhi dengan suasana di kedai makan dan udara dingin
karena hujan menambah laparnya Anita.
Kemudian
Anita membayar makanan dan minumannya segera meninggalkan kedai makan tersebut.
Mengambil motornya di parkiran di samping kedai makanan. Anita menghidupkan
motornya segera pergi dari tempat ia berteduh. Sangking keburu-buru pergi dari
tempatnya berteduh Anita melupakan Hpnya tertinggal di meja. Seorang pelayan
menemukan Hp yang ketinggalan dan memberitahukan kepada Pak Bosnya.
“Nanti yang punya hp kesini simpan aja,” kata
Pak Bos.
“Baik Pak Bos,” jawab pelayan sambil
memegang Hp.
Selang
berapa jam Anita sampai di tempat tujuannya. Anita ingin menelpon temannya.
Ternyata hpnya tidak ada di tasnya. Anita mencoba berpikir sejenak dimana
terakhir menggunakan Hp tersebut. Anita teringat dengan hpnya. Dengan segera
Anita pergi dari tempatnya menuju ke kedai makan.
Sesampai
di kedai makanan Anita menanyakan pada
seorang pelayan.
“Mas apa tadi Hp saya ketinggalan di sini,” kata Anita.
“Oh iya bak ini hpnya ketinggalan. Ini ,” sahut pelayan.
"Terimakasih ya mas, "kata Anita penuh kesantunan.
Anita segera pergi dari kedai menuju tempat yang urusannya belum sesai. Banyak gejala problematika yang di hadapi oleh Anita. Sampai gak tahu yang mau diselesaikan duluan. Padahal udah di selesaikan masih aja ada masalah yang lain yang membututinya. Pusing udah kepalang hal hasil jalani aja sudah biasa bagi wanita yang tegar menghadapi hidup. Cenderung Anita bosen dengan keadaan yang sebenarnnya gak jauh-jauh tentang cowok. Kadang jadi hal yang membingungkan kalau tuntutan pacaran.
Kalau lagi manis enak rasanya. Kalau udah pahit dibuang ini bikin sebel sekali. Intimidasinya kelewat bates. Bilang setia eh selingkuh di depan mata Anita. Di simpen rasa jengkel tersebut supaya gak salah kaprah. Hal hasil di simpen rasa sakit itu akhirnya membludak. Seperti bom waktu.
Kesabaran Anita ada batasnya. Terjadilah pertengkaran antara ke duanya. Tetap wanita yang kalah. Anita jujur dan setia tetap malapetaka. Kenapa ini terjadi pertanyaan anita dalam dirinya?. Derita ini berkepanjangan gak tahu langkah yang tepat. Tetap saja cowok menang. Gampang dan mudah dapet cewek lain. Kini Anita sendiri prasankanya tentang ke kasihnya benar. Air mata tidak gunanya untuk menangisi cowok yang gak punya tanggung jawab. Sebanyak apa pun di sukai tetap satu jawaban yaitu setia.
Hal Anita belajar bahwa setia itu susah. Menjalani hanya sepihak yang jujur. Malah kebohongan kadang bisa abadi. Bingung kalau belajar dari keadaan. Siapa yang mulai kebohongan berakhir dengan kebohongan?. Hal hasil jujur lebih membingungkan kalau cinta hanya permainan untuk memilih yang lebih baik. Sakitnya luar biasa. Gak tahu jalan yang di lakukan Anita. Menjaga hati gak sok malah bener sok. Akhirnya melupakan pelan-pelan agar ini ber akhir angin lalu.


0 komentar:
Post a Comment