LANGIT BIRU
"Mak Langit main," kata Langit dengan suara lantang.
Emak yang sedang memasak di dapur, ya mendengar perkataan anaknya.
"Iya," kata Emak.
Emak terus melanjutkan memasaknya di dapur. Langit berjalan-jalan dengan santai melihat keadaan sekitar.
"Suasana yang tenang banget," kata Langit.
Langit berjalan terus berjalan, ya sampai akhirnya memutuskan untuk duduk di bawah pohon yang rindang. Langit melihat langit yang luas banget.
"Emak memberikan nama Langit, karena Emak suka juga melihat langit seperti aku," kata Langit.
Biru membawa aritnya untuk mengambil rumput untuk pakan kambing. Biru melihat Langit duduk di bawah pohon rindang, jadi menghampiri Langit.
"Langit, lagi santai ya?" kata Biru.
"Biru. Iya lagi santai. Biru seperti biasa mau merumput untuk kambing kan!" kata Langit.
"Iya, seperti biasanya. Maklum kerjaan orang desa dan juga miskin," kata Biru.
"Syukur punya kerjaan dari pada tidak ada kerjaan. Kaya aku ini," kata Langit.
"Merendahnya keterlaluan banget Langit. Kerjaan Langit kan petani," kata Biru.
"Memang iya sih....petani. Ya melanjutkan pekerjaan yang di bangun orang tua. Nama juga orang desa," kata Langit.
Langit dan Biru pun melihat langit yang cerah banget. Awan putih dn juga kelihatan banget keadaan langit yang berwarna biru.
"Nama kita jika di gabungin, jadinya Langit Biru," kata Langit.
"Secara tidak sadar. Kalau di gabungin ya jadinya Langit Biru. Sama halnya langit yang berwarna biru yang kita lihat berdua," kata Biru.
"Biru. Kadang enak ya kerjaan orang-orang pemerintahan," kata Langit.
"Langit. Kok pola pembicaraannya, jadinya ke orang pemerintahan?" kata Biru.
"Lastri. Teman kita. Sekarang sudah kerja di kelurahan," kata Langit.
"Lastri kan kuliah. Setelah lulus kuliah, ya ikut tes CPNS. Karena lulus tes, ya Lastri di angkat jadi PNS dan kerjanya di kelurahan," kata Biru.
"Status sosial sudah berubah. Aku yang suka dengan Lastri, ya agak minder gitu untuk menyatakan suka Lastri. Aku lulusan cuma SMA dan kerjaannya cuma petani," kata Langit.
"Oooooooo. Minder toh menyatakan suka sama Lastri. Berdasarkan status sosial toh. Kadang di pikir baik-baik, ya memang sih. Lebih baik Lastri mendapatkan jodoh yang sepadan dengan diri Lastri," kata Biru.
"Kerjaan di bidang pemerintahan itu. Hanya menjalankan program kerja yang di buat oleh para pemimpin kan?!" kata Langit.
"Memang iya sih. Hanya menjalankan program kerja. Mudah bener menjalankannya," kata Biru.
"Ya sudahlah lebih baik aku bantu Biru. Merumput untuk pakan kambing mu!" kata Langit.
"Ayo merumput!" kata Biru.
Biru dan Langit beranjak dari tempat duduknya di bawah pohon rindang. Keduanya mencari rumput yang bagus untuk pakan kambing. Setelah dapet rumput yang banyak, ya rumput di bawa dengan baik sama Biru dan Langit menuju kandang kambing di rumahnya Biru. Langit dan Biru senang sekali merawat kambing. Setelah itu. Langit dan Biru duduk di teras depan rumah, ya istirahat. Keduanya santai banget sambil minum kopi. Lastri pun lewat depan rumah Biru dengan bawa motor meticnya.
"Lastri pulang kerja," kata Biru.
"Iya, seperti biasanya. Lastri lewat depan rumah Biru, dengan membawa motor meticnya," kata Langit.
"Makin cantik dan juga dewasa banget Lastri, ya Langit," kata Biru.
"Iya," kata Langit.
"Status sosial, jadi bikin minder ya. Kadang lebih baik tidak menyatakan suka sama Lastri," kata Biru.
"Ya kenyataan bagi kita yang hanya lulusan SMA dan kerjaan hanya alakadarnya saja," kata Langit.
"Kalau begitu main catur saja!" kata Biru.
"Ayo!!!" kata Langit.
Langit dan Biru main catur seperti biasanya saat duduk di bangku SMA.
"Mak Langit main," kata Langit dengan suara lantang.
Emak yang sedang memasak di dapur, ya mendengar perkataan anaknya.
"Iya," kata Emak.
Emak terus melanjutkan memasaknya di dapur. Langit berjalan-jalan dengan santai melihat keadaan sekitar.
"Suasana yang tenang banget," kata Langit.
Langit berjalan terus berjalan, ya sampai akhirnya memutuskan untuk duduk di bawah pohon yang rindang. Langit melihat langit yang luas banget.
"Emak memberikan nama Langit, karena Emak suka juga melihat langit seperti aku," kata Langit.
Biru membawa aritnya untuk mengambil rumput untuk pakan kambing. Biru melihat Langit duduk di bawah pohon rindang, jadi menghampiri Langit.
"Langit, lagi santai ya?" kata Biru.
"Biru. Iya lagi santai. Biru seperti biasa mau merumput untuk kambing kan!" kata Langit.
"Iya, seperti biasanya. Maklum kerjaan orang desa dan juga miskin," kata Biru.
"Syukur punya kerjaan dari pada tidak ada kerjaan. Kaya aku ini," kata Langit.
"Merendahnya keterlaluan banget Langit. Kerjaan Langit kan petani," kata Biru.
"Memang iya sih....petani. Ya melanjutkan pekerjaan yang di bangun orang tua. Nama juga orang desa," kata Langit.
Langit dan Biru pun melihat langit yang cerah banget. Awan putih dn juga kelihatan banget keadaan langit yang berwarna biru.
"Nama kita jika di gabungin, jadinya Langit Biru," kata Langit.
"Secara tidak sadar. Kalau di gabungin ya jadinya Langit Biru. Sama halnya langit yang berwarna biru yang kita lihat berdua," kata Biru.
"Biru. Kadang enak ya kerjaan orang-orang pemerintahan," kata Langit.
"Langit. Kok pola pembicaraannya, jadinya ke orang pemerintahan?" kata Biru.
"Lastri. Teman kita. Sekarang sudah kerja di kelurahan," kata Langit.
"Lastri kan kuliah. Setelah lulus kuliah, ya ikut tes CPNS. Karena lulus tes, ya Lastri di angkat jadi PNS dan kerjanya di kelurahan," kata Biru.
"Status sosial sudah berubah. Aku yang suka dengan Lastri, ya agak minder gitu untuk menyatakan suka Lastri. Aku lulusan cuma SMA dan kerjaannya cuma petani," kata Langit.
"Oooooooo. Minder toh menyatakan suka sama Lastri. Berdasarkan status sosial toh. Kadang di pikir baik-baik, ya memang sih. Lebih baik Lastri mendapatkan jodoh yang sepadan dengan diri Lastri," kata Biru.
"Kerjaan di bidang pemerintahan itu. Hanya menjalankan program kerja yang di buat oleh para pemimpin kan?!" kata Langit.
"Memang iya sih. Hanya menjalankan program kerja. Mudah bener menjalankannya," kata Biru.
"Ya sudahlah lebih baik aku bantu Biru. Merumput untuk pakan kambing mu!" kata Langit.
"Ayo merumput!" kata Biru.
Biru dan Langit beranjak dari tempat duduknya di bawah pohon rindang. Keduanya mencari rumput yang bagus untuk pakan kambing. Setelah dapet rumput yang banyak, ya rumput di bawa dengan baik sama Biru dan Langit menuju kandang kambing di rumahnya Biru. Langit dan Biru senang sekali merawat kambing. Setelah itu. Langit dan Biru duduk di teras depan rumah, ya istirahat. Keduanya santai banget sambil minum kopi. Lastri pun lewat depan rumah Biru dengan bawa motor meticnya.
"Lastri pulang kerja," kata Biru.
"Iya, seperti biasanya. Lastri lewat depan rumah Biru, dengan membawa motor meticnya," kata Langit.
"Makin cantik dan juga dewasa banget Lastri, ya Langit," kata Biru.
"Iya," kata Langit.
"Status sosial, jadi bikin minder ya. Kadang lebih baik tidak menyatakan suka sama Lastri," kata Biru.
"Ya kenyataan bagi kita yang hanya lulusan SMA dan kerjaan hanya alakadarnya saja," kata Langit.
"Kalau begitu main catur saja!" kata Biru.
"Ayo!!!" kata Langit.
Langit dan Biru main catur seperti biasanya saat duduk di bangku SMA.

0 komentar:
Post a Comment