BATU BERTUAH

Posted By Cerpen universal on Saturday, October 31, 2020 | October 31, 2020

BATU BERTUAH

Heru duduk di ruang tamu sedang memegang batu besar sebesar kepala, ya di bersih kan dengan kuas. Toing selesai menyapu halaman di depan rumah, ya masuk rumah. Toing duduk sambil melihat ulah Heru yang sedang membersihkan batu. 

"Heru, baru aku bersihkan. Sekarang kamu kotorin dengan debu dari batu yang Heru pegang itu," kata Toing. 

"Maaf deh. Toing. Ini batu bertuah. Ini batu di warisan turun menurun pada ku. Ya bersihkan. Nanti aku bersihkan deh," kata Heru. 

"Cuma batu biasa. Dirawat ya seperti anak bayi," kata Toing. 

"Memang sih kelihatannya batu ini tidak berharga. Tapi cerita dari kakek ku, ya ini batu berharga. Harga ya mahal banget. Kalau di jual, ya bisa kaya mendadak," kata Heru. 

"Masa? Aku tidak percaya!" kata Toing. 

"Tidak percaya, ya tidak apa-apa sih?!" kata Heru. 

"Cerita kakek....kadang bisa di percaya, ya bisa juga tidak. Banyak cerita tentang benda mistis yang di keramatkan.....harganya selangit. Yang berharga padahal emas harga di pasar....mahal banget. Ini cuma batu biasa. Padahal itu tidak jauh beda dengan batu biasa, kalau di pecah ya di buat batu cincin, ya berharga sih....ada nilai jual tinggi," kata Toing. 

"Jadi ini batu masih ada harga tinggi juga, kalau di buat batu cincin," kata Heru. 

"Terserah kamu Heru!" kata Toing. 

Toing beranjak dari duduknya ke dapur. 

"Emang terserah aku," kata Heru. 

Toing di dapur membuat kopi. Setelah kopi jadi, ya di bawa ke teras depan rumah. Toing duduk di teras depan rumah, ya asik minum kopi sambil melihat keadaan lingkungan yang tenang banget. Heru selesai membersihkan batu, ya di taruh di meja. Heru membersihkan debu yang menyebar di ruang tamu. Heru membersihkan ruang tamu dengan baik, ya sampai bersih. Setelah itu, ya Heru ke dapur untuk membuat kopi. Kucing naik ke meja dan menyenggol batu, ya sampai menggelinding dan jatuh ke lantai. Kucing langsung melompat ke lantai dan keluar dari rumah lewat pintu depan. Toing mendengar suara benda jatuh, ketika melihat kucing keluar dari pintu depan....jadinya Toing menyangka yang jatuh itu adalah kucing yang melompat ke lantai. Ya Toing tetap santai minum kopinya.

Heru selesai membuat kopi, ya di bawahnya dengan baik. Saat di ruang tamu, ya Heru berkata keras "Batu bertuah ku jatuh ke lantai", gelas kopi di taruh di meja. Heru mengambil batu bertuah di lantai yang terbelah jadi dua. Toing mendengar omongan Heru yang keras, ya segera menaruh gelas kopi di meja. 

"Berarti suara tadi di ruang tamu itu bukan kucing toh. Melainkan batu bertua milik ya Heru yang jatuh ke lantai," kata Toing. 

Toing bergerak ke ruang tamu untuk melihat Heru dengan batu bertuahnya. Toing kaget melihat Heru yang senang banget dengan batu bertuah itu. 

"Heru kenapa kamu?" kata Toing. 

"Heru....batu bertuah ku yang di warisan ini ternyata benda berharga. Harta karun. Lihat dengan baik. Batu ini terbelah jadi jadi dua, ya di dalam batu ini....adalah Intan," kata Heru sambil menunjukkan batu bertuah itu. 

"Mana aku periksa!" kata Toing. 

"Periksa saja sendiri!" kata Heru menaruh batu bertuah di meja. 

Toing, ya memeriksa dengan baik dalamnya batu itu. 

"Ini beneran Intan," kata Toing. 

"Bener Intan kan, kaya filmnya Benjamin S yang menemukan Intan," kata Heru. 

"Iya juga ya. Kakek mu...Heru, memang orang pinter bisa menemukan Intan sebesar ini dan tersimpan dengan baik di batu yang kelihatannya seperti batu biasa yang tidak ada harganya. Ternyata batu ini berharga. Harta karunnya keluarganya Heru," kata Toing. 

"Aku jual atau aku simpan aja ya?!" kata Heru yang berpikir. 

"Itu mah terserah Heru!" kata Toing. 

"Aku ambil bongkahan kecil Intan ini. Di jual aja, yang lainnya di simpan dengan baik. Maklum harta keluarga, kalau di jual semua....ya tidak di sebut harta berharga warisan dong!" kata Heru. 

"Terserah mu Heru, yang punya harta berharga....Heru!" kata Toing. 

Toing ya ke teras depan rumah untuk minum kopi dan santai melihat keadaan lingkungan yang tenang. Heru menghabiskan kopinya dan setelah itu menyimpan batu bertuahnya di kamar, ya di masuk kan di dalam kotak peti dan di kunci dengan baik. Heru pun berganti pakaian. Setelah itu keluar dari kamar dan berjalan menuju keluar rumah. 

Di teras depan rumah, ya Toing yang lagi santai di teras depan rumah. 

"Toing, aku ke pasar dulu," kata Heru. 

"Iya," kata Toing. 

Toing menaruh gelas kopi di meja. Heru pergi ke pasar dengan jalan kaki. Toing mengambil koran di bawah meja dan di baca dengan baik. 

Beberapa jam kemudian....

Toing di ruang tamu, ya sambil nonton Tv. Heru pulang dari pasar dan memencet klakson motor berkali-kali. Toing mendengar suara klakson berkali-kali, ya keluar dari rumah. 

"Toing....gimana motor yang aku baru beli?!" kata Heru. 

"Motor yang keren banget. Ini motor keluaran yang terbaru, ya harga pasar mahal," kata Toing. 

Toing pun menyentuh motor yang di beli Heru. 

"Jadi orang kaya kan aku," kata Heru. 

"Iya, dari awalnya....Heru kaya dari batu bertuah yang di warisan, tapi tidak pernah kelihatan gitu. Seperti kata orang tua bilang, ya jadilah orang yang kelihatannya tidak kaya tapi kenyataannya kaya. Menyembunyikan kekayaannya, agar tidak riyak dengan kekayaannya itu," kata Toing. 

"Sederhana itu bijak. Orang tua itu banyak benarnya," kata Heru. 

"Iya, orang tua banyak benernya," kata Toing menegaskan omongan Heru. 

Heru pun membawa masuk motor ke salam rumah. Toing duduk di ruang tamu, ya asik nonton Tv. Heru pun, ya duduk di ruang tamu untuk nonton Tv bersama Toing.
Blog, Updated at: October 31, 2020

0 komentar:

Post a Comment