NOW I HATE YOU

Posted By Cerpen universal on Saturday, August 1, 2020 | August 01, 2020

NOW I HATE YOU

Aku duduk di belakang, meninggalkan tempat duduk yang biasa. Karena sebuah coklat tergeletak di sana. Tak perlu kusentuh apalagi buka coklat yang dihiasi pita berwarna merah marron itu. Sudah kuduga coklat yang banyak orang gunakan untuk menyatakan perasaannya adalah dari hafidz.. “oh tuhan” gerutuku ketika hafidz masuk ke kelas lalu mengambil coklat yang tergeletak di barisan terdepan selanjutnya meletakannya di atas meja yang kursinya aku duduki. “For you” ucap hafidz meletakan coklat itu.

Aku bangkit dari duduk. Menghiraukan coklat dan hafidz yang berdiri di sampingku. “Alifia, this is for you” ujarnya yang menyodorkan coklat itu padaku yang sudah berdiri “Dont say with me, okay!” Ketusku yang meninggalkannya dengan tatapan sinis. “Kau tau rasanya?” Kataku dalam hati.

Teringat 2 tahun yang lalu.

Air mata menggenangi kelopak mataku, memandang layar handphone yang berada di atas telapak tanganku. Tak ada kontak bbmnya, instagram pun telah ia blokir, memutuskan aksesku untuk melihat foto-fotonya. “Setega itu?” Ucapku pelan, “salahkah aku menyukainya, tuhan?” Ucapku kemudian dengan air mata yang mengalir semakin deras. Aku tak pernah meminta banyak pada hafidz, cukup perbolehkan aku untuk mencintainya, memperhatikannya dari jauh atau sekedar melihat status ataupun foto yang ia kirim ke media sosial. Tapi begitu teganya dia memutus aksesku untuk menikmati indahnya mencintai.

Juga teringat, ketika suatu hari aku ribut besar dengan pacar hafidz di sekolah. Aku dan pacar hafidz sampai melempar banyak kata-kata dengan nada bicara yang tinggi. Kami melakuan hal itu, atau bisa disebut ribut di depan kelasku yaitu kelas X ipa 3. Pacar hafidz seakan melarangku untuk menyukai hafidz, aku berteriak saat itu “gue ngerti, gue emang gak pantes dicintai hafidz tapi lo punya hak apa ngelarang gue suka sama dia?” Teriakku dengan menunjuk ke arahnya “gak usah nunjuk pacar gue” teriak hafidz yang berjalan ke arahku dan ke arah pacarnya yang memandang sinis wajahku. Lalu menarik tangan pacarnya perlahan, “dia punya hak ngelarang lo, dia pacar gue!” Ucap hafidz dengan pelan meninggalkanku yang mulai berkaca-kaca.

Walau banyak rasa sakit yang kurasakan ketika hanya sekedar mencintai hafidz. Tapi entah kenapa 2 tahun penuh aku tak bisa berhenti mencintainya. Yang pada kenyataannya, hafidz membenciku bahkan sangat membenciku. Yap, hanya 2 tahun aku mengaguminya. Memasuki kelas XII, semakin banyak tekanan dari sahabat-sahabatku tentang pendirianku yang tak berubah tetap mencintai hafidz. Dengan tekanan itu, hatiku luluh untuk memudarkan rasa cintaku pada hafidz. Salah satu sahabatku berkata “alifia, kau terlihat sangat buruk jika menyukai orang yang buruk” juga berkata “apakah kau tak lelah terus dijatuhkan dan dijatuhkan seorang hafidz di atas kerikil tajam? Apa hatimu tak pernah terluka?” Benar apa kata mereka, aku tak ingin terus tertindas hanya karena mempertahankan hakku mencintainya. Cintaku pudar, dibalik kepudaran itu muncul rasa benci yang teramat besar yang terus bertambah dari hari ke hari, apalagi dengan mengingat hal-hal sakit karenanya.

Aku berjalan ke luar kelas dengan cepat. Menghiraukannya yang terus mengikutiku dari belakang. Hafidz menarik tanganku dengan cepat dan kuat. Sampai badanku berbalik 180 derajat menghadap wajahnya. “Maaf soal SMA dulu! Aku ingin dicintai olehmu seperti masa SMA” Katanya yang menatapku. Dia tak akan bisa menumbuhkan rasa cinta itu, aku memilih mengalihkan pandanganku tak menatapnya seperti hafidz menatapku “alifia, lihat aku” kata hafidz pelan menyentuh daguku “heh lepasin, jangan sentuh gue!” Jawabku menatapnya sinis lalu melepaskan tanganku yang dari tadi berada dipegangannya.

Sebegitu mudahnya hafidz memintaku untuk menumbuhkan kembali rasa cintaku yang dulu untuknya. Hafidz tak mengerti, semakin ia memintaku mencintainya semakin rasa benci itu tumbuh lebih besar. Dia mungkin mulai bisa merasa apa yang masa SMA dulu aku rasakan. Diabaikan, diasingkan dan tak dianggap. dia pun akan merasakan hal yang sama persis bahkan aku akan membuatnya lebih dari itu.

Aku berjalan di trotoar sendiri. Memilih meninggalkan kelas karena ada orang yang terus membuatku tak nyaman dan membuatku mengingat rasa sakitku di masa SMA. “Alifia!” Teriak seseorang di belakang sana. Aku bisa dengan baik mengenal suara siapa itu, orang yang mengusik ketenanganku di kampus selama satu semester ini. Bukan diam aku mendengar panggilan itu, aku mempercepat langkahku beberapa kali. Suara langkah kaki seseorang terdengar dekat di belakangku. “Stop!” Teriakku mengangkat tangan kananku ke atas. Lalu berbalik badan “enough, i hate you!” Teriaku “i dont care, i love you!” Balas hafidz “okay, i love you to, but before. And now i hate you! Understand!.” Teriakku yang berjalan mundur pelan lalu meninggalkan hafidz yang masih menatapku.
Blog, Updated at: August 01, 2020

0 komentar:

Post a Comment