WHO'S NEXT

Posted By Cerpen universal on Friday, October 9, 2020 | October 09, 2020

WHO'S NEXT

Aku masih terduduk diam di atas tempat tidur dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhku, kejadian yang terasa begitu nyata baru saja membuatku hampir kehabisan oksigen untuk bernapas, suara jerit tangis masih berdengung di telingaku dan bayangan-bayangan akan kejadian itu masih terlintas dengan sangat jelas di kepalaku. Entah sudah berapa kali aku mencoba untuk kembali memejamkan mataku dan melupakan semua kenangan tersebut namun lagi-lagi aku gagal untuk yang kesekian kalinya seolah ada seseorang yang dengan sengaja memintaku menemaninya malam ini.

“Yoga, bangun dong temenin gue,” ucapku sambil menggoyang-goyangkan tubuh temanku ini.

“Apaan sih Oka, tengah malem juga ganggu orang tidur aja, udah sana ah jangan ganggu,” jawab Yoga enteng. Aku tak tega membangunkan temanku ini, akhirnya aku memutuskan untuk menulis kejadianku hari ini pada selembar kertas dengan tujuan agar teman-temanku dapat mengetahui kejadian yang baru saja aku alami.

29 april 2016

Hari ini sungguh melelahkan, setelah menyelesaikan permainan bodoh ini dengan kalian aku merasa seperti terbebani, sebenarnya entah apa yang membuatku merasa terbebani namun seperti selalu saja ada seseorang yang memperhatikan gerak-gerikku tepat setelah kita melakukan kegiatan bodoh tersebut, ini akan menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku aku mau melakukan hal gila ini bersama kalian, mungkin hanya aku di sini yang merasakan dinginnya malam ini bahkan kalian masih dengan nyenyak tidur di atas kasur empuk kesayanganku, setelah aku berpikir cukup lama sepertinya aku mengetahui sesuatu yang melatarbelakangi kejadian malam ini.

Ya, aku ingat, sepertinya dugaanku benar itu dimulai sejak awal Yoga memperkenalkan permainan ini pada kita semua. Berhubung kalian semua sedang tertidur dan tidak ada yang ingin menemaniku malam ini, oke maka aku putuskan akan menulis semua kejadian ini dari sudut pandangku, mungkin pada saat kalian terbangun aku sudah tidak ada lagi di bumi atau sebaliknya ketika fajar datang mungkin kalian semua yang tidak ada lagi di muka bumi ini. Let’s start begin.

Masih dengan nyawa yang belum terkumpul aku berjalan terhuyung ke luar kamar menuju pintu depan sekilas ku lihat jam pada dinding ruang tamu yang menunjukan pukul 6.00 pagi.

“Masih pagi, siapa sih ganggu orang tidur aja,” umpatku dalam hati sambil membuka pintu. 

“Jam segini masih belum bangun juga lo Ka?” tanyanya, aku sedikit terkejut melihat siapa yang ada di depanku saat ini.

“Wahyu ngapain lo kesini jam segini?” tanyaku heran.

“Laper, lo ada makanan nggak? Stok di kost-an habis nih, hahaha,” jawabnya.

Aku pun refleks menutup pintu kembali sebelum pintu tertutup Wahyu dengan cepat melesat masuk ke dalam kostku.

“Santai aja, gak bakal gue ancurin kok kost-an lo,” ucapnya diikuti senyum lebar yang sangat aku benci kala itu.

Wahyu langsung menuju ke arah dapur dan meletakkan sesuatu ke dalam kulkas yang entah apa itu, aku langsung memeriksanya dan aku tidak menemukan apa pun, mungkin bisa dibilang pagi itu ia terlihat sangat aneh dengan mata sayunya seperti telah melihat sesuatu yang menakutkan namun ia masih dengan sok tenang menyembunyikannya dariku dan aku berpura-pura tidak mengetahuinya karena aku tahu bagaimana sifat dan karakter Wahyu yang sedikit introvert yang artinya ia tidak akan menceritakan sesuatu kepada siapa pun jika ia memang tidak ingin menceritakannya. Setelah beberapa kali ia berjalan menyusuri setiap ruanganku tiba-tiba ia berkata, “Gue balik dulu ya Ka, tiba-tiba gue kenyang hehe, sorry ganggu pagi-pagi gue cabut dulu bye!” ia pun pergi.

Aku tak banyak bertanya dengannya tapi sepertinya aku tahu bahwa akan terjadi hal buruk denganku melihat gerak-gerik Wahyu sejak tadi, aku pun berpikir apa yang telah aku lakukan hingga Wahyu dengan tiba-tiba datang sepagi ini dan menelusuri setiap ruangan tanpa terkecuali, “Sesuatu yang buruk akan terjadi!” gumamku sampai akhirnya handphone-ku berbunyi dan ku lihat nama Yoga pada layar hp-ku yang sedang menungguku di seberang sana.

“Halo Ga, kenapa pagi-pagi telepon?” jawabku.

“Entar sore ada acara nggak? Kalau enggak entar gue tunjukin sesuatu yang keren, jangan lupa ajak Wahyu tadi gue udah ngajak Daffa kata dia ok, udah gue cuma mau ngomong itu doang, oiya kali sampe malem, kita rencananya juga bakalan tidur di tempat lo jangan lupa siapin banyak makanan hahaha,” jawabnya dari seberang sana yang belum sempat aku mengucapkan sepatah kata pun ia sudah mematikan panggilan tersebut. “Teman macam apa kalian, jam segini udah pada sibuk sendiri,” umpatku, aku pun melanjutkan tidurku karena saat itu baru menunjukkan pukul 7.15 pagi.

“Wahyu mana nih? Tadi udah lo ajak belum Ka, lama amat dia gak datang-datang,” tanya Daffa yang sejak setengah jam yang lalu sudah ada di ruang tamu bersama Yoga.

“Udah, tapi katanya dia nggak janji bisa datang, bisa juga kali agak telat emang kita mau ngapain sih? Cuma nonton doang kan?” tanyaku.

“Ini bukan cuma sekedar nonton, udah deh entar gue jelasin kalau semuanya udah kumpul males gue jelasin dua kali, telepon lagi gih Wahyunya,” jawab Yoga.

“Iya bawel,” jawabku sekenanya. Aku pun menelepon Wahyu untuk memastikan jawaban dia, setelah beberapa kali mencoba menelepon akhirnya ia menjawab teleponku dan mengatakan bahwa ia akan datang tetapi mungkin sekitar 45 menit kemudian karena ia sedang tidak di rumah saat ini, akupun mengiyakannya.

“Oke, berhubung udah kumpul semua bakalan gue jelasin rules-nya, jadi gini sebenernya di dalem dvd ini ada beberapa adegan pembunuhan dan katanya siapa pun yang ngelihat film ini sampe abis bakalan didatangin sama korban pembunuhan tapi gak semua orang cuma beberapa aja dan gak semua korban juga bakalan datang katanya cuma korban yang bener-bener punya frekuensi tubuh yang sama dengan yang nontonnya,” jelas Yoga antusias.

“Terus?” tanya Daffa.

“Ya malem ini bakalan kita buktiin, lumayan malem jumat juga kali aja beneran ada,” jawab Yoga.

“Lo kata siapa? Emang udah beneran ada yang didatangin?” tanyaku.

“Ya nggak tahu juga sih, makanya sekarang kita buktiin,” jawabnya.

“Males ah, gue nggak ikutan, males gue berhubungan sama hal-hal nggak penting kayak gitu mending gue balik,” jawab Wahyu yang sejak tadi terdiam memperhatikan pembicaraan kita.

“Yaelah penakut amat si lo Yu, banci!” cetus Daffa.

“Bukan masalah banci Daf, gue males entar kalau kejadian beneran pasti ada salah satu dari kita yang bakalan ngerasain hal itu, udah deh sebelum terlambat batalin aja, gue nggak mau kalian kenapa-kenapa,” bantah Wahyu. “Banci mah banci aja, kalau emang lo nggak mau kita kenapa-kenapa ya lo jagain kita lah, masalah gini doang lo mau balik payah!” tambah Yoga.

Aku sejak tadi hanya memperhatikan perkataan Wahyu, kata-kata “Sebelum terlambat,” benar-benar memenuhi kepalaku dan tiba-tiba saja aku teringat kelakuannya tadi pagi yang membuatku sedikit curiga bahwa memang akan terjadi sesuatu antara kita. “Udah Yu daripada lo balik mending lo tetep di sini aja sama kita, kalau emang lo nggak mau ikutan nonton ya nggak apa-apa,” tiba-tiba kata itu ke luar begitu saja dari mulutku, sebenarnya aku tidak menginginkan hal buruk terjadi tetapi sepertinya rasa penasaranku lebih egois daripada rasa takutku.

Ruang kamarku menjadi gelap dan sesak karena kita memang mematikan lampu dan kipas angin, perlahan video di dalam layar laptopku mulai memunculkan seorang gadis manis berambut pirang diikuti senyum manisnya, ia terlihat seperti manusia normal batinku sampai beberapa detik kemudian gadis tersebut menyeringai lebar sambil mengayunkan kapak tajam yang ada di sampingnya, darah panas mengucur deras tepat di depan wajahnya, ia mengayunkan kapak tersebut tepat di tengah tengkorak seorang pria dan menyisakan pemandangan yang membuatku mual. Tak lama dari itu tiba-tiba cairan merah mengalir dari kelopak mata gadis tersebut sampai akhirnya bola mata kanannya terlepas dan dengan sekali tebas kepala gadis tersebut menggelinding dan berhenti tepat di depan kaki seorang pria yang terlihat masih sangat muda.

Dengan gerakan yang sangat cepat ia menghindar dari sebilah pisau yang hampir saja menghujam jantungnya dan dengan refleks yang sangat bagus ia mengayunkan besi di tangannya dan menghujam mulut seorang gadis lain dan membuat gadis tersebut mati seketika. Kemudian pemuda yang memakai topi merah tersebut tersenyum dan dengan santainya memakan permen karet yang ada di sakunya dan dengan membabi buta ia membantai semua orang yang ada di ruangan tersebut dan tak lupa mengeluarkan isi perutnya dan tersenyum menghadap kamera dengan senyum seringainya dan membuat gelembung-gelembung dari permennya sambil berkata, “Who’s next?”

Aku refleks mematikan laptopku saat itu juga “Apaan sih Ka, kenapa lagi tiba-tiba dimatiin filmnya kan belum selesai,” omel Yoga, tanpa memedulikan ucapannya aku langsung bangkit dan menghidupkan kembali lampu dan menghidupkan kipas angin. “Nontonnya sampe sini aja, kalau kalian mau lanjut nonton jangan di kost-an gue, lagian ini udah malem kita tidur aja,” jawabku, sekilas ku lihat Wahyu yang sejak tadi asyik dengan handphone-nya tanpa memedulikan kami.

“Yaelah nggak asyik banget sih Ka, kalau nggak sampe selesai mana kita tahu ini mitos apa fakta kalau salah satu korban bakalan datang?” jawab Daffa kesal.

“Bodo ah, lagian dari awal sebenernya gue emang nggak mau ikutan cuma nggak enak aja sama kalian, udah ah gue mau tidur lo orang mau tidur nggak nih?” jelasku dan langsung menuju tempat tidur diikuti oleh Wahyu dan tak lama kemudian diikuti oleh Daffa dan Yoga.

Pandanganku menjadi gelap dan hawa dingin menusuk tulang rusukku, dapat ku lihat sebuah berkas cahaya menyilaukan mataku dan sesaat setelah ku pejamkan mata ku lihat sesosok pria dengan mengenakan topi merah dan mengunyah permen karet berjalan perlahan menghampiriku, ku perhatikan setiap langkahnya hingga aku merasakan bulu romaku berdiri dan dengan senyum seringainya ia menatapku yang memberikan tatapan seolah olah ia berkata “This is your time,” kemudian ia berbalik membelakangiku dan dengan cepat melemparkan sebilah pisau, dengan refleks aku menghindari pisau tersebut dan ku dengar teriakan kesakitan tepat di belakangku, dengan cepat aku menoleh ke belakang.

“Yoga!” gumamku, ternyata pisau tersebut menghunus jantung Yoga, belum sempat aku melangkah menghampiri Yoga teriakan seseorang yang ku kenal kembali terdengar “Daffa!” jeritku.

Ku lihat pria tersebut tengah menguliti wajah Daffa dengan sangat gembira, tak lama ku dengar gumaman seseorang tepat di sampingku kulihat Wahyu tergeletak tak berdaya dengan sebuah linggis tertancap di mulutnya, sesaat sebelum aku membalikkan tubuhku kulihat kilatan cahaya dengan cepat menghampiriku dan menggores sebagian pipiku, dapat ku rasakan darah hangat mengalir membasahi daguku dan untuk pertama kali aku merasakan sensasi yang luar biasa, tubuhku gemetar hebat dan ku tatap lekat-lekat mata pria tersebut sampai tiba-tiba ku rasakan sesuatu yang mengalir dari sebelah pipiku yang lain.

Aku tersenyum lebar merasakan kenikmatan cairan hangat yang mengalir ini dan dengan sekali gerakan pria tersebut menghujamkan sebuah pisau tepat ke arahku hingga akhirnya aku terhempas ke lantai dan semuanya kembali gelap. Hawa panas kini menyelimutiku sampai akhirnya aku terbangun dari sebuah mimpi yang terasa begitu sangat nyata berada tepat di depanku ku lihat semua teman-temanku mereka masih terlihat sama, terpejam di atas tempat tidur kesayanganku sampai aku merasa seseorang sedang mengintimidasiku dengan tatapan dinginnya, ku bangunkan Yoga tetapi ia tidak menggubrisku sampai akhirnya aku memutuskan untuk menulis kejadian hari ini dan…

***

Kepalaku masih terasa sangat sakit saat aku menyadari darah ke luar dari pelipis kananku, aku terkulai lemas saat menyadari bahwa semua teman-temanku terkapar tak berdaya dengan luka yang sama dengan yang ada di dalam mimpiku, ku lihat wajah Daffa terkelupas, dada Yoga yang tertancap sebuah pisau dan mulut Wahyu yang tertancap besi, seketika kakiku lunglai dan aku terjatuh di sudut ruangan sampai akhirnya aku menyadari bahwa sebilah pisau berada di tangan kananku dengan darah segar yang masih menetes.

Aku mencoba mengingat kejadian tersebut tetapi sama sekali tak terbayang olehku yang aku ingat bahwa terakhir kali aku masih menulis cerita sampai akhirnya dengan cepat aku melihat tulisanku, ku lihat ada coretan panjang di kertas sampai aku terkejut dengan tulisan semua orang akan mati! Di ujung kertas, aku pun terheran karena aku tidak pernah menulis kata tersebut sampai akhirnya pandanganku tertuju pada sebuah dinding bertuliskan “Thanks for your help Oka!” kakiku lunglai untuk yang kedua kalinya dan sosok seorang pria dengan wajah yang tak asing muncul di hadapanku.

“Pria bertopi merah pemakan permen karet,” gumamku.

“Terima kasih karena telah menambah jumlah korbanku, dan terima kasih karena telah menonton video yang ku berikan,” jelasnya diikuti senyum seringai khasnya.

“Ka..Ka..Kau nyata?” tanyaku terbata-bata.

“Tentu saja tidak, aku adalah imajinasimu, imajinasi yang memenuhi kepalamu, terima kasih karena telah bermain denganku malam ini, selamat tinggal,” jawabnya dan tanpa sadar dengan sendirinya tanganku bergerak dan menghujamkan pisau ke dadaku sendiri.

“Aku benci permainan ini, aku benci kalian semua!” dan sesaat setelah itu aku tidak pernah merasakan apa pun lagi.
Blog, Updated at: October 09, 2020

0 komentar:

Post a Comment