TIGA BELAS
Tampak seorang bapak paruh baya berpakaian oren dan menyandang tas hitam penuh surat berdiri di depan gerbang sebuah hotel tua yang besar. Ia seperti bingung apa itu rumah yang dituju si pengirim surat atau ini hanya surat dari orang iseng. Dengan perlahan ia membuka pagar yang sudah mulai rapuh itu.
“Kriiiiet..” suara pintu yang sudah berkarat itu terdengar hingga mampu membuat burung yang bertengger di dahan pohon pohon tua dekat rumah itu beterbangan tak tahu arah. Bapak ini melihat kiri dan kanan, tapi hanya ada pohon dan semak yang tumbuh liar. Hari mulai gelap, lalu beliau perlahan mulai masuk ke dalam hotel tua ini. Jalanan yang mulai usang ini serta banyaknya pohon liar dan tak terawat membuat beliau ingin pulang saja karena sedikit ketakutan. Tapi ia mengurung niatnya karena ini adalah tugas mulianya, mengantar surat jadi ia tak boleh takut sedikit pun. Lalu sampailah kakinya di depan pintu besar.
“Tok.. tok.. tok..” beliau mulai mengernyit. Tak ada jawaban. Tak ada orang.
“Tok.. tok.. tok..” masih sama, tak ada jawaban. Langit sudah mulai berwarna hitam. Ia nampaknya ingin pulang, lalu ketika dia berbalik menuju pintu pagar.
“Kriiiett” pintu hotel ini malah terbuka secara perlahan. Sontak beliau mundur beberapa langkah. Ada apa ini mengapa pintu terbuka dengan sendirinya? Apa ada sesuatu? Hantukah? berbagai pertanyaan melintas dalam benaknya. Ia masih berdiri di tempat yang sama, tiga langkah dari pintu utama. Ia melihat sedikit ke dalam hotel, nampak gelap dan pengap seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia tak berani masuk. Lalu ia berdiri di depan pintu.
“Pe..permisi. saya hanya tukang pos tua yang mau mengantar surat entah dari siapa. Dan i..ini surat ini saya letakkan di lantai sini saja ya.” Tanpa menunggu lama, setelah ia meletakkan surat di lantai itu ia berlari sekuat tenaga tuanya yang tersisa. Tapi sebelum sampai pintu gerbang, dengan cepat pintu pagar itu tertutup dengan kuat dan rapat. Beliau kaget, tampak lah butiran-butiran kecil berjatuhan dari wajahnya. Wajah tua yang sudah berkerut itu kian suram. Ia tampak lelah dan putus asa atas apa yang ia alami hari ini. Lalu tiba-tiba angin entah dari mana mulai bermain di halaman dan menerbangkan ranting-ranting serta daun-daun yang berserakan. Sedangkan bapak ini hanya bersandar di belakang pintu pagar memandangi hotel yang gelap ini dengan pandangan buram karena matanya telah dipenuhi dengan air mata ketakutan.
“Byyyss!!” sesuatu entah apa lewat dengan cepat di depannya. Sontak ia terduduk, tidak! Dia bersujud!
“Entah siapa pun kalian, aku memohon jangan ganggu aku.. hiks, hiks. Aku cuma lelaki paruh baya yang mencari uang untuk sesuap nasi. Jangan ganggu aku..ku mohon.” perlahan, angin ribut tadi mulai mereda.
“Bangunlah..” Bapak tua itu mengangkat wajahnya, seketika wajahnya pucat pasi.
“A..ara? Ba-Bagaimana bisa engkau hidup kembali Nak?”
Remaja bergaun putih itu memperlihatkan senyum sayunya.
“Yah.. aku yang membuat surat itu untuk diriku sendiri. Aku tahu jika Ayah pasti yang mengantarkan surat itu, aku rindu dengan Ayah..” dan mata sembabnya pun meneteskan air mata.
***
“Ibu ayo main.. Ayah juga ayo kejar aku kalau bisa hahaha!” teriak gadis kecil bernama Ara itu dengan ceria sambil berlari-lari kecil.
“Hah.. Ayah berhasil menangkapmu sayang,” kata seorang pemuda gagah yang memakai jas hitam.
“Ayah.. Ara ayo kita pulang,” tampak seorang perempuan muda membereskan bekal makan mereka sambil menyuruh suami dan anaknya pulang.
Sepanjang jalan mereka tertawa bahagia, hingga akhirnya ketika di belokan jalan dekat rumah mereka dahan dahan dekat jalanan bergoyang dengan cepat. Bahkan ada pohon yang tumbang.
“Ibu.. Ara takut!”
“Tenang sayang, mungkin ini hanya badai biasa,” jawab wanita itu sambil mengusap kepala anaknya.
“Wushh..shhhshahsh..”
“Brukk…kkk..brrr”
“Pemirsa, saya melaporkan bahwa pada hari kamis kemarin terjadi angin topan serta badai di wilayah komplek asan. Dilaporkan, semua warga selamat kecuali sebuah mobil yang berisi sepasang suami istri dan seorang anak yang berusia 8 tahun. Sayangnya, anak mereka telah tiada. Sedangkan suami istri itu selamat.”
***
Tampak sepasang suami istri di komplek kuburan sedang menaburkan kelopak mawar merah. Perempuan muda itu kian kurus setiap harinya karena memikirkan sang anak yang telah tiada. Sedangkan suaminya mendapatkan surat pemecatan. Tahun 2003, 2 tahun setelah kejadian badai itu. Perempuan yang berperan sebagai ibu dari anak yang telah tiada kini juga telah berada di sisi Tuhan akibat tak makan dan hanya meratapi anaknya.
***
“Bagaimana bisa engkau masih di sini Ara?”
“Coba Ayah lihat di surat yang aku kirim.. di sana terdapat kata kuncinya..” perlahan sosok remaja itu pun mulai hilang hingga tak berbekas.
“A..ara? Di mana kau Nak? Hiks..hiks.. jangan engkau meninggalkan Ayah untuk kedua kalinya Nak,”
Pria paruh baya itu terduduk lemas dengan lama, lalu tiba-tiba ia teringat ucapan anaknya.
“13?” Hanya itu yang tertulis di surat itu.
Lama pria itu berpikir. Hingga.. 13 januari badai terjadi. 13 september istrinya meninggal. Dan.. Sekarang.. 13 maret. Apa artinya?
“Aaaaarrgggghhhh!!!”

0 komentar:
Post a Comment