PERSAMI

Posted By Cerpen universal on Friday, October 9, 2020 | October 09, 2020

PERSAMI

Aku adalah senior di salah satu SMA di kota ini. Aku memiliki dendam kepada seniorku terdahulu. Kala itu aku masih menjadi junior yang mungkin bagi mereka adalah makanan empuk. Saat itu adalah Persami mereka berhasil membuatku ketakutan hingga terkencing-kencing. Bagaimana tidak salah seorang seniorku berdandan bak pocong yang tiba- tiba muncul di hadapanku. Mereka menertawakanku. Sejak saat itu aku bertekad akan melakukan itu pada junior-juniorku nanti. Bahkan kalau bisa lebih parah dari yang aku alami.

“Dik gimana udah siap semuanya?” Tanya Rafli ketua panitia Persami padaku.

“Beres.”

“Oke sip.”

Rafli pun meninggalkanku.

Jarum jam sudah menuju ke angka 12 malam. “Sudah waktunya pertunjukan dimulai.” Kataku dalam hati sambil melihat para juniorku yang tertidur pulas.

Brakk!!! “Bangun! bangun!” Teriakku sambil memukul-mukul meja yang disusun rapi di pinggir ruang kelas. Mereka bangun seperti orang kesetanan. Ruangan pun riuh.

“Lima menit lagi kalian harus berkumpul di lapangan dengan seragam pramuka lengkap.” Teriakku. Peluit pun dibunyikan. Mereka sibuk mencari-cari seragam pramuka di tengah kegelapan. Memang sengaja lampu kelas dimatikan agar mereka kebingungan. Aku hanya tertawa kecil melihat mereka. Peluit pun kembali dibunyikan. Segera mereka berkumpul di lapangan.

“Setiap regu akan dibagi menjadi dua kelompok.” Kata Rafli memberikan penjelasan.

“Tugas kalian adalah mencari tiga bendera sesuai regu kalian. Bendera-bendera itu sudah kami sebar di kuburan sebelah sekolah. Jadi di setiap permainan akan ada dua kelompok dari regu berbeda yang masuk. Dan yang ke luar terlebih dahulu dengan bendera yang lengkap maka merekalah yang jadi pemenangnya. Apa sudah jelas?”

“Jelas!” jawab mereka serentak.

Ku lihat wajah mereka seketika berubah. Aku lagi-lagi tertawa di dalam hati. Kelompok pertama masuk. Teriakan demi teriakan saling bersahutan. “Syukurin!” kataku dalam hati sambil tertawa. Aku menjaga post 5 di mana tempat bendera-bendera itu nantinya dikumpulkan. Aku mulai jenuh karena jeda waktu antara kelompok satu dan yang lainnya cukup lama. Dan rasa kantuk mulai datang padaku.

“Dik…” panggil seseorang.

“Eh lo Ran. Ada apa?”

“Aku boleh numpang duduk di sini nggak? Aku takut soalnya tadi di post 3 ada bau kemenyan.”

“Ahh paling itu cuma perasaan lo aja.” Aku tak menghiraukannya. Aku lalu mendengarkan lagu kesukaanku menggunakan earphone. Tiba-tiba Rani mencengkeram lenganku.

“Tuh kan bau lagi. Emang kamu nggak nyium?”

Ku pasang hidungku baik-baik.

“Iya bener bau kemenyan tapi ini plus melati.” kataku dalam hati.

“Mana nggak ada,” kataku berbohong. Gengsi lah kalau Rani sampai tahu kalau aku sebenarnya juga takut. Tangan Rani kembali mencengkeram lenganku tetapi ini lebih kuat. Mungkin dia sekarang benar-benar takut. Batinku. Tiba-tiba hpku berbunyi.

“Halo dik gue tadi sms lo buat kumpul di post 1 anak dari regu lo pingsan nih.” Seketika bulu kudukku berdiri. Keringat dingin mulai bercucuran di tubuhku.

“Dik lo nggak akan ninggalin gue sendiri kan?” Bisik Rani di telingaku disertai cairan merah menetes dari wajahnya yang dipenuhi belatung.
Blog, Updated at: October 09, 2020

0 komentar:

Post a Comment