KEPERGIAN MU

Posted By Cerpen universal on Sunday, November 8, 2020 | November 08, 2020

KEPERGIAN MU

Hujan deras membasahi bumi berikut dengan petir yang menyambar kemana-mana. Tak ketinggalan pula angin kencang yang menerpa pepohonan depan rumahnya. Rita masih membiarkan tubuhnya diterpa angin malam. Satu detik, dua detik, akhirnya ia memutuskan untuk menutup jendela kamarnya. Hujan malam ini membuat suasana hatinya semakin risau.

Risau karena memikirkan kekasihnya yang tak kunjung menghubunginya. Ia berhenti menghubunginya setelah 30 calling darinya tak ada jawaban. Ia masih bingung dengan sikap kekasih yang akrab ia panggil “Mas” itu. Mas Dion, ya itulah panggilannya untuk cowok yang sudah menemani hari-harinya 5 tahun terakhir ini. Tak ada konflik dalam hubungan mereka selama 5 tahun itu.

Rita kembali melihat layar ponselnya. Namun, ia harus merasa kecewa untuk yang kesekian kalinya, karena seseorang yang diharapkannya tak juga menghubunginya. Padahal Dion sudah berjanji akan menghubunginya kalau ia sudah sampai dari tempat kerjanya. Tak biasanya ia seperti ini. “Mungkin mas Dion cape setelah kerja seharian, dan mungkin saja ia sudah istirahat. Sebaiknya aku tidak menggangunya.” Pikir gadis berambut panjang itu.

Ia merebahkan badannya di ranjang tempat tidurnya. Kasur itu cukup bisa membuatnya sedikit tenang. Tangannya meraih selimut tebal yang tertata rapi di atas kasur itu. Ia hendak meletakkannya ke seluruh tubuhnya sebelum akhirnya suara bel terdengar keras di telinganya. Dengan langkah gontai ia mulai menyusuri pintu rumahnya yang berjarak 10 meter dari kamarnya. Diputarnya kunci pintu itu satu kali untuk membukanya. Lalu ditariknya pintu itu dengan pelan. Dan tiba-tiba kedua matanya terbelalak melihat seseorang yang berada di depan pintu.

Seseorang yang membuatnya mengurungkan diri untuk beristirahat. Seseorang yang sangat ia kenal, dan seseorang yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri. Lelaki itu sudah berdiri di depannya dengan basah kutup akibat diterjang hujan lebat. Ia menggigil kedinginan. Matanya sayu. Wajahnya pucat pasi. Keadaannya saat itu kacau balau membuat Rita tak bisa berhenti mengomelinya karena menembus hujan yang lebat.

“Mas ngapain ke sini malam-malam begini?” tanyanya sembari menariknya masuk. Tak ada jawaban darinya. mungkin air hujan itu sudah membuatnya tak mau berbicara.

“Ya sudah, Mas sekarang ganti baju dulu!” pintanya dengan menyodorkan sebuah kaos dan celana jeans milik kakaknya.

Namun, lelaki itu malah memegang tangan Rita dengan erat. Tangan itu sangat dingin. Ia terus menggenggam tangan Rita dengan sangat erat seraya berkata. “Aku sangat mencintaimu.” Ujarnya dengan bibir gemetar. “Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri.” Lanjutnya.

“Aku juga sangat mencintai Mas.” Balasnya dengan senyum di bibirnya. Tanpa diucapkan Rita memang sudah tahu kalau lelaki yang ada di sampingnya saat itu sangat mencintainya begitupun sebaliknya.

Dering ponsel milik Rita membuyarkan keheningan itu. Diraihnya ponsel berwarna cokelat itu, dan di sana sudah tertera nama Evi, sahabatnya.

“Hallo.” Sapa Rita.

“Rit, aku ada kabar buruk untuk kamu.” suara di seberang membuat hati Rita yang tadinya sudah tenang dengan kedatangan Dion, kini mulai resah dan risau kembali.

“Ada apa?” tanya Rita memberanikan diri.

“Dion… Dion kecelakaan dan nyawanya tidak dapat tertolong lagi.” Nada suaranya tampak gugup.

Tak ada kekhawatiran di wajah Rita. Ia malah tertawa. “Apa? Kamu bilang Mas Dion meninggal? Kalau kamu mau buat aku jantungan, sayangnya malam ini kamu tidak berhasil. Mas Dion sekarang lagi sama aku.” Ketusnya dengan menertawainya.

“Aku tahu, kamu pasti sangat terpukul dengan berita ini. Tapi kamu harus menerima kenyataan kalau Masmu itu sudah tidak aka Rit.” Tegas Evi.

Sesaat Rita terdiam. Walaupun tidak sepenuhnya ia mempercayai berita itu, namun tak dapat dipungkiri kalau hatinya dilanda rasa khawatir. Dadanya sesak.

“Ya sudah, aku tunggu di rumah sakit Soebandi ya.” Tanpa jawaban dari Rita, gadis itu sudah memutuskan teleponnya.

Rita menoleh ke tempat Dion duduk sebelum ia menerima telepon dari sahabatnya tadi. Tak ada seseorang di sana. Dada Rita semakin sesak. Kekhawatiran itu semakin menusuknya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan mencari sosok lelaki yang ada di sampingnya tadi.

“Mas Dion… Mas Dion kemana mas?” panggil Rita mencari lelaki itu ke semua sudut ruangan. Namun tak ada jawaban darinya.

Ia menghempaskan tubuhnya ke lantai. Air mata membanjiri kedua pipinya. Kata-kata sahabatnya di telepon tadi masih terap terngiang di telinganya.

“Kenapa Mas Dion tingalin aku.” Lirihnya. Menangis tersedu-sedu. Air mata menggenang di kedua pipinya.

Tiba-tiba, angin kencang itu kembali menerpa badannya. Terdengar bisikan dari arah kanannya.

“Aku datang, karena aku ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya sayang… selamat tingal.” Tangisannya semakin menjadi. Melihat kenyataan bahwa lelaki yang sangat dicintainya meninggalkan ia untuk selama-lamanya.

The End

23 April 2014
Blog, Updated at: November 08, 2020

0 komentar:

Post a Comment