KERUDUNG BERDARAH
Kerudung itu pun kini terus berkeliaran dan mencari kepala-kepala pembunuh sang majikan. Kerudung itu berjalan terus-menerus hingga menemukan orang yang melenyapkan nyawa sang tuannya. Tiap malam di sebuah pohon besar, kerudung itu bergelantungan sambil menangis. Namun, ketika siang hari di pohon besar itu tidak pernah dijumpai kerudung yang bergelantungan.
Warga pun banyak yang heran ketika berjalan melewati pohon itu. Ketika malam hari, warga selalu mendengar suara tangisan dan menyangka yang menangis itu adalah pohon besar. Namun, ketika didengarkan dari jarak dekat ternyata kerudung merah yang bergelantung di pohonlah yang mengeluarkan suara tangisan. Hanya tiap malam kerudung itu bergelantungan di pohon dan menangis.
Ria Saputri, itulah namannya. Usianya baru dua puluh tiga tahun. Perempuan itu menjadi ‘kembang desa’ di kampungnya. Tak salah jika dia menjadi kembang desa, wajahnya yang begitu elok, berkulit putih, bibirnya yang merah merona dan selalu memakai kerudung kemana pun ia pergi. Menambah daya tarik yang begitu kuat bagi para kaum adam. Tak heran jika satu kampung tertarik padanya, mulai dari yang sudah berkeluarga hingga yang masih berusia sebaya. Perilakunya yang santun, ramah dan juga taat beribadah. Lelaki mana yang tidak tergila-gila dengan perempuan yang seperti itu.
Bukan hanya memiliki paras yang begitu elok tetapi untuk masalah agama tak kalah bagus dengan parasnya. Selain beribadah tepat waktu, dia juga pandai membaca kitab. Setiap kali berjalan-jalan di kampungnya, orang-orang tak henti-hentinya memuji kecantikan Ria. Bahkan warga kampung yang sudah beristri pun tak mau ketinggalan untuk memberikan rayuan gombal untuk menarik hatinya.
Bahkan sering juga, setelah menggoda si kembang desa tak jarang pula warga kampung bertengkar dengan istrinya. Para istri pun sering menghujat si kembang desa. Ria pun tak pernah mempedulikan hujatan Ibu-ibu yang menganggap dia wanita yang kurang baik. Ria yang selalu senyum kepada setiap orang terasuk lelaki yang sudah berkeluarga. Dia bermaksud hanya untuk menyapa para lelaki. Ibu-ibu memandangnya dengan mata sinis. Api cemburu pun merasuki hati mereka yang tidak suka melihat suaminya menggodai Ria.
“Ri, kamu ini wanita seperti apa sih. Selalu memakai kerudung tetapi digodain lelaki mau saja,” tanya Bu Wati.
“Saya tak bermaksud apa-apa bu, hanya untuk menyapa saja,” sahutnya lirih.
“Halah, menyapa atau cari perhatian saja,” nada Bu Wati menjadi naik.
“Kalau kelakuan kamu seperti ini terus, copot saja kerudungmu itu,” sahut Ibu-Ibu dengan serentak.
“Iya gara-gara kamu suamiku sekarang jarang di rumah.”
Ria saputri hanya tersenyum dan tertunduk lesu. Sambil berjalan dia berkata dalam hati.
“Mengapa Ibu-ibu selalu menyalahkan saya, padahal kan saya hanya menyapa mereka bukan ingin digoda,”
Pada suatu ketika, dia berjalan di sebuah gang yang cukup sempit. Bertemulah ia dengan seorang pemuda yang menarik hati Ria. Pemuda itu berperilaku sangat sopan, ramah dan memiliki wajah yang tampan. Mereka saling menyapa walaupun sama-sama tidak kenal. Hati Ria pun berdebar-debar dan memerahlah mukanya ketika menatap wajah pemuda yang berada di depannya. Dalam perjalanannya, Ria masih teringat akan ketampanan wajah pemuda yang ditemuinya di dalam sebuah gang. Keesokan harinya, ketika melewati jalan yang sama tanpa disengaja Ria bertemu lagi dengan pemuda itu.
“Assalamualaikum,” kata sang pemuda.
“Wa..waalaikumsalam,” jawab Ria dengan sedikit gugup.
“Nama kamu siapa dan rumah kamu di mana?” tanya pemuda.
“Nama saya Ria Saputri, rumah saya di jalan Janggal.”
“Loh, rumah saya juga di jalan Janggal. Bersediakah kalau saya mengantarkan kamu pulang?” Ria hanya mengangguk dan tersenyum saja tanpa berucap sedikit pun.
Selama di perjalanan mereka pun berbincang-bincang. Mereka pun terlihat sangat akrab. Para warga lelaki yang melihatnya tidak senang karena pemuda itu merebut Ria dari mereka. Pemuda itu bernama Rizky Saputra yang baru lulus sekolah dari Australia. Walaupun rumah mereka berdekatan, tetapi mereka tidak pernah tahu. Karena dia juga baru pertama kali singgah di kampungnya Ria.
Semakin hari mereka berdua terlihat semakin akrab dan membuat hati para lelaki di kampung itu geram. Para lelaki ketika melihat sang pemuda menjadi naik darah dan menjadi emosi. Sebulan kemudian, pemuda itu melamar Ria. Mendengar berita itu Ibu-ibu di kampung Sobek senang. Berbeda halnya dengan para warga lelaki yang tak suka mendengar berita tersebut. Dari sekian banyak lelaki yang dari dulu pernah melamarnya, ternyata pemuda itulah yang beruntung yang bisa mendapatkan hati kembang desa. Pak Joko, Pak Budi, dan Pak Darman yang pernah ditolak lamarannya berencana untuk menghabisi nyawa Ria. Dan rencana itu dilaksanakan dua minggu kemudian setelah proses pelamaran. Mereka marah karena dulu Ria menolak lamaran mereka bertiga. Pantas saja Ria menolaknya, sebab mereka sudah berkeluarga.
Pada waktu malam hari setelah Ria pulang dari masjid. Dia berjalan sendirian tanpa seorang pun yang menemaninya. Ketiga Bapak yang sudah berencana untuk membunuhnya, langsung melaksanakan aksinya ketika melihat Ria pulang sendirian di jalan yang sangat sepi. Mula-mula Pak Joko berpura-pura jatuh dan pingsan tepat di jalan yang dilalui Ria pulang. Ria berteriak minta tolong kepada warga. Teriakan Ria tak ada satu pun yang didengar oleh warga. Niat mau menolong menjadi malapetaka bagi Ria.
Di belakang sudah ada Pak Budi dan Pak Darman yang membawa pisau. Pak Darman dan Pak Budi mencekik leher Ria dan kemudian sebilah pisau yang sudah terasah tajam diterkamkan ke tubuh mulus perempuan ini. Tubuh yang putih mulus menjadi merah, darah pun menetes dan mengalir deras dari tubuhnya, bukan hanya itu saja. Mereka bertiga menguliti tubuh wanita berusia dua puluh tiga tahun itu hingga tinggal tulang belulang saja. Yang masih utuh hanyalah kerudung merah yang masih melekat di kepalanya. Mereka bertiga pun puas melihat apa yang telah dilakukannya. Jika mereka tidak bisa memiliki, lelaki lain pun tak boleh memilikinya. Para warga lain pun tak ada yang mengetahui jika Ria telah tiada. Karena sekarang barang bukti yang tersisa hanya tulang belulang saja.
Setiap malam hari ketika warga yang melewati tempat di mana Ria terbunuh, mereka selalu mendengarkan suara tangisan, namun yang dilihat hanyalah sebuah kerudung merah yang tersangkut dan bergelantungan di sebuah pohon yang besar. Kerudung itu selalu menangis tiap malam hari. Yang menangis itu adalah kerudung milik Ria Saputri. Tapi warga pun tak pernah mempedulikan jeritan di dalam kerudung tersebut.
Ketika Pak Joko melewati jalan di mana tempat dia menghabisis nyawa Ria, dia melihat kerudung merah. Dengan lekas mengambil dan membuang kerudung untuk menghilangkan barang bukti tersebut tetapi usaha itu tidak berhasil. Kerudung itu malah kembali ke tempat semula. Lalu, kerudung itu membuntuti Pak Joko dari belakang. Tak lama kemudian kerudung merah itu pun langsung mengikat leher Pak Joko hingga meninggal dan menjulurkan lidah ke luar. Tewasnya Pak Joko sama ketika Ria Saputri juga tewas dicekik dengan lidah menjulur. Kerudung itu tampak seperti hidup kembali. Di dalam kerudung itu ada nyawa sang pemilik yang belum terbalaskan dendamnya. Kerudung itu sepertinya ingin balas dendam terhadap orang-orang yang pernah membunuh Ria.
Ketika pagi hari, di depan pintu Pak Darman dan Pak Budi menerima sepucuk surat yang isinya, “Saya akan membunuhmu, nyawa dibayar nyawa dan darah dibayar darah.” Tak lama kemudian, surat itu mengeluarkan bau yang kurang sedap. Surat itu berubah menjadi merah. Surat itu berubah menjadi tetesan darah segar dengan bau yang kurang sedap.
Pada malam hari di rumah Pak Darman ada sebuah kerudung berwarna merah. Pak Darman pun kaget mengapa di dalam rumahnya ada sebuah kerudung, padahal istrinya tidak pernah memakai kerudung. Akhirnya kerudung itu pun dibuang. Ketika Pak Darman merebahkan badan, di samping bantal kerudung itu kembali lagi. Pak Darman kaget karena kerudung itu telah dibuangnya. Namun, kok bisa kembali lagi. Dia bertanya dalam hati. Kerudung itu langsung megikat leher Pak Darman hingga tewas.
Melihat dua temannya yang sudah meninggal akibat kerudung merah. Hati Pak Budi menjadi tidak tenang. Karena kedua temannya mati dengan keadaan yang sama, yaitu muka memar dan juga lidah menjulur ke luar. Pak Budi menjadi sering merasa ketakutan karena sering mendengar suara Ria. Yang berkata, “kembalikan nyawaku,” yang terdengar lirih. Muka Pak Budi pun menjadi pucat dan rasanya tulang-tulangnya telah terpisah dari tubuhnya.
Setiap malam yang didengar hanyalah suara Ria yang begitu lirih seperti hidup kembali. Bukan hanya itu saja, setiap pagi di depan pintu rumah Pak Budi selalu mendapatkan surat yang berisi, “kembalikan nyawaku, nyawa ditukar dengan nyawa.” Mula-mula surat itu berwarna putih, setelah dilihat terus-menerus berubah menjadi warna merah darah. Darah ke luar dari sebuah pucuk surat dan baunya tidak sedap.
Pada malam harinya, Pak Budi melihat ada seorang wanita yang memakai kerudung merah sedang tertidur pulas di ranjangnya. Ketika dilihat dari jarak yang dekat, ternyata wanita itu adalah Ria Saputri. Betapa kagetnya Pak Budi dan mukanya pun menjadi pucat. Karena merasa wanita itu dia bunuh beberapa hari yang lalu. Setelah dilihat lagi, ternyata wanita itu hilang dan yang terlihat hanyalah sebuah kerudung merah. Pak Budi pun meninggalkan tempat tidur dan pergi ke luar. Dimana ada Pak Budi di situ pasti ada kerudung merah. Ketika berjalan terus-menerus, akhirnya sampailah ia di tempat di mana Pak Budi membunuh Ria, di situlah kerudung merah beraksi dan menghabisi nyawa Pak Budi.
Setelah Pak Joko, Pak Budi, dan Pak Darman sudah meninggal, kerudung merah yang selalu dilihat warga di dekat pohon besar dengan mengeluarkan suara tangisan sekarang pun tidak pernah terdengar lagi. Pemilik kerudung merah itu telah terbalaskan dendamnya dan hidup tenang di alamnya sendiri.

0 komentar:
Post a Comment