KISAH KAKEK HARI

Posted By Cerpen universal on Saturday, November 7, 2020 | November 07, 2020

KISAH KAKEK HARI

Sinar matahari menembus dari celah daun pohon rambutan di kebun Kakek Hari. Matahari mulai meninggi, banyak orang sudah berlalu lalang di jalan setapak desa yang ditempati Kakek Hari itu. Kakek Hari masih terlelap tidur. Mungkin karena usianya yang menginjak 70 tahun. Ia lebih suka uring-uringan di rumahnya. Kakek Hari dulunya bekerja sebagai penggali kubur, namun sekarang beralih ke perias mayat, karena usianya. Pekerjaannya memang lain dari yang lainnya, namun Kakek Hari sudah terbiasa oleh makhluk-makhluk yang sudah tak bernafas itu, karena orangtua Kakek Hari adalah tukang gali kubur. Kakek Hari sudah terbiasa oleh pengalaman mistis.

Pagi itu. Tok! Tok! Tok!
“Kakek Hari? Apakah Kakek ada di rumah?” Tanya suara yang mengetuk pintu rumah Kakek Hari. Kakek Hari langsung terbangun dari tidurnya, dan mengumpulkan kesadarannya.

“Kakek! Apakah Kakek di rumah?” Kali ini suara itu semakin keras. Setelah kesadarannya penuh, Kakek Hari melangkah ke arah pintu dan membukanya.

“Iya! Sebentar!” Kata Kakek Hari seraya membuka daun pintu.

“Oh, kamu mah! Ada apa?” Ternyata yang mengetuk pintu rumahnya adalah Gama, seorang tetangganya.

“Kakek dipanggil oleh keluarga Ardan, katanya anak perempuannya, Em, meninggal.”

“Ya Tuhan!” Kaget Kakek Hari, “Apa penyebabnya?”

“Katanya sih, sakit jantung, Kek!”

“Ya sudah saya akan segera ke sana,” Gama segera mengantar Kakek Hari ke rumah keluarga Ardan.

Terdengar suara tangisan dan dukacita.

“Saya ikut berdukacita atas kematian Em.” Kata Kakek Hari ke Ibu Ratna, Ibunda Em. Kakek Hari duduk di kursi kepunyaan Ibu Ratna. Peralatan hiasnya masih setia bersamanya. Tiba-tiba terdengar sirene ambulan. Ambulan datang dan menggotong mayat Em. Tangisan Ibu Ratna makin terpecah. Ternyata jenazah Em sudah dimandikan oleh pihak Rumah Sakit, dan langsung disemayamkan di sebuah peti mati yang sudah tersedia. Keluarga Ardan segera memasangkan gaun ke tubuh Em, setelah itu, Kakek Hari mulai mengerjakan tugasnya. Sebelum dirias, Kakek Hari memakaikan sarung tangan dulu. Namun, ketika ingin dipasangkan, tangan Em sangat kaku, sehingga Kakek Hari kesulitan memasangkankan sarung tangan itu. Kakek Hari berhenti sejenak.

“Kakek hanya mau pakaikan kamu sarung tangan, biar kamu kelihatan cantik,” Ucap Kakek Hari dalam hati seraya tersenyum.

Seketika, tangan Em perlahan-lahan menjadi lemas. Kakek Hari segera memasangkan sarung tangan. Setelah itu, Kakek Hari membedaki wajah Em. Kakek Hari membedaki wajah Em dengan hati-hati, dan teliti, serta cermat. Saat Kakek Hari membedaki wajah Em, tiba-tiba saja mulut Em terbuka. Kakek Hari terkejut, tubuh rentanya lemas. Tetapi sesaat kemudian, Kakek Hari meminta sebuah kain untuk mengikat mulut Em. Setelah itu, dia merias wajah Em lagi hingga selesai.

Hari telah menjadi sore. Kakek Hari pun pulang. Malam telah tiba. Kakek Hari tertidur di ranjangnya. Tiba-tiba, terdengar suara tangisan disela-sela suara binatang malam. Karena cape, Kakek Hari mengabaikan suara itu. Keesokan siang harinya, jenazah Em dikubur. Kakek Hari menitikan air mata. Baru saja 1 tahun Em menikah, namun ternyata ia sudah dipanggil Tuhan. Dalam hati dia berdoa agar Em diterima di sisi Tuhan. Setelah pemakaman selesai, Kakek Hari bergegas ke rumahnya.

Sesampainya ke rumahnya, hari telah malam. Kakek Hari bergegas untuk tidur. Namun, baru saja ia mau tertidur, tangisan itu terdengar lagi. Karena terusik, Kakek Hari ke luar.

“Saya tidak menganggu kalian, jangan ganggu saya!” Teriak Kakek Hari. Tangisan itu berhenti. Sebagai manusia, Kakek Hari juga takut. Tiba-tiba ranting pohon rambutan Kakek Hari patah. Kakek Hari mengarahkan pandangan ke pohon rambutannya. Sosok seseorang perlahan mendekat, makin lama makin dekat.

Kakek Hari tercekat. Kini sosok itu sudah 1 meter di hadapannya. Ia bisa melihat sosok itu -sosok Em! Lalu Em kembali menangis, tangisan yang sama yang selalu didengar Kakek Hari setiap malam. Kakek Hari diam.

“Buka pengikatnya, Kek.” Sosok Em berbicara, kemudian perlahan-lahan menghilang. Kakek Hari tidak berkutik. Tenaganya habis seketika. Tapi, dengan sekuat tenaga, ia masuk kembali ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, Kakek Hari berdoa untuk Em, supaya diarahkan jalannya.

Keesokan harinya, Kakek Hari mengambil beberapa hasil kebunnya. Setelah selesai, ia mendatangi keluarga Ardan, siapa tahu keluarga Ardan mau membeli hasil kebunnya. Namun, Kakek Hari melihat keluarga Ardan amat ramai. Ada polisi. Buru-buru Kakek Hari masuk. Dia kemudian bertanya kepada Adik Em. Adik Em menceritakan bahwa orangtuanya curiga dengan kematian Em, sehari setelah jenazahnya dikuburkan. Setelah melalui penyelidikan, ternyata Em sempat bertengkar dengan suaminya. Para tetangga Em bilang kepada orangtua Em. Kecurigaan mereka semakin kuat karena saat datang ke rumah Keluarga Ardan, jenazah Em sudah dimandikan. Orangtua Em juga tidak menerima laporan tentang penyakit anaknya. Saat itulah orangtua Em menelpon polisi.

Polisi akan menggeledah makam Em. Kakek Hari kaget. Kakek Hari pun juga ikut melihat autopsi ulang jenazahnya. Saat peti mati dibuka, jenazah Em sama persis seperti yang Kakek Hari lihat semalam. Petugas autopsi mulai memeriksa kulit jenazah Em, tapi tidak menemukan tanda lebam apapun. Seketika itu juga Kakek Hari tidak sadar mengucapkan, “Buka pengikat mulutnya.”

Ia sendiri kaget, seperti ada yang menggerakkan bibirnya.

Petugas autopsi mengikuti saran Kakek Hari. Seketika pengikat dibuka, mulut Em terbuka. Ternyata di dalam mulut Em ditemukan sebuah luka lebam. Keluarga Ardan kaget. Para petugas autopsi semakin yakin, mereka pun menindaklanjuti autopsi ini. Hasilnya sangat mengejutkan. Ditemukan luka di organ dalam Em, membuat organ dalamnya hancur. Hasil autopsi mengatakan, kematian Em akibat benturan keras yang merusak organ dalam. Polisi segera memburu suami Em. Suami Em tertangkap sehari setelahnya.

Di balik pohon di kuburan itu, Em tersenyum lalu perlahan-lahan hilang.

The end
Blog, Updated at: November 07, 2020

0 komentar:

Post a Comment