HANTU DI JEMBATAN
Anto sedang duduk di teras depan rumahnya sambil baca koran dan juga minum kopi. Toni selesai membeli buah alpukat di warung Lastri, ya memutuskan main ke rumah Anto. Dengan berjalan santai Toni ke rumah Anto. Di jalan Toni melihat cewek cantik yang membuat ia terkesan, tapi sayangnya tidak kenal. Jadi Toni terus berjalan saja, ya mengabaikan cewek cantik itu.
Sampai di rumah Anto, ya Toni mengucap salam "Assalamualaikum."
Anto menghentikan baca korannya dan menaruh koran di meja.
"Waalaikumsalam," kata Anto.
Anto mempersilakan Toni duduk. Ya Toni duduk dan menaruh plastik berisi buah alpukat di meja.
"Apa yang di plastik itu Toni?" kata Anto.
"Buah alpukat," kata Toni.
"Beli apa di kasih orang?" kata Anto.
"Belilah," kata Toni.
"Ooooo beli toh," kata Anto.
"Anto kita makan buah alpukatnya!" kata Toni.
"Ok makan buah alpukat," kata Anto.
Anto dan Toni ke dapur lah untuk membuat minuman dari buah alpukat. Setelah jadi minuman alpukat, ya di bawa ke teras depan rumah. Anto dan Toni menikmati minuman alpukat tersebut.
"Enak buah alpukat," kata Toni.
"Iya," kata Anto.
"Ngomong-ngomong, kenapa Anto beli buah alpukat?" kata Toni.
"Karena berita di koran," kata Anto.
"Ooooo berita di koran toh," kata Toni.
Toni dan Anto terus menikmati minuman buah alpukat.
"Berita hari di koran. Ada hantu muncul di jembatan," kata Anto.
"Hantu muncul di jembatan. Kaya film 'Si Manis Jembatan Ancol' saja. Berarti tuh cerita klasik dong!" kata Toni.
"Iya juga ya. Aku tidak sadar. Ada kesamaan cerita, tapi memang sih jembatannya berbeda dan cerita di buat beda, begitu juga nama penokohannya. Seorang cewek kaya yang di bunuh sama pacarnya dan mayatnya di buang dari jembatan, ke aliran sungai yang deras. Cewek itu mati penasaran, jadi hantu dan bales dendam sama cowoknya. Ternyata tujuannya ceweknya di bunuh, ya merampas harta ke kayaannya dan juga menikah dengan cewek yang ia cintai," kata Anto.
"Ooooo begitu toh ceritanya. Beneran apa tidak ya, ada hantu di jembatan yang di tulis koran?" kata Toni.
"Mana aku tahu. Aku kan tidak membuktikan di jembatan ada hantunya?" kata Anto.
"Aku mengerti omonganmu Anto," kata Toni.
Toni dan Anto menghabiskan minuman buah alpukat dan gelas di taruh di meja.
"Gimana kita buktikan saja. Siapa tahu bertemu hantu?!" kata Toni.
"Siapa takut!" kata Anto.
"Kalau begitu aku cuci gelas dulu!" kata Toni.
"Iya," kata Anto.
Anto menunggu di teras depan rumah dengan sabar. Toni, ya kebelakang mencuci gelas yang telah di gunakan. Setelah gelas bersih, ya di taruh di rak. Toni segera ke teras depan rumah.
"Ayo berangkat!" kata Toni.
"Ayo!" kata Anto.
Anto dan Toni berangkat menggunakan motor yang bawa Toni ke tempat yang ada hantunya di sebuah jembatan. Perjalan itu cukup jauh banget. Singkat waktu, ya Toni dan Anto telah sampai di jembatan yang katanya ada hantunya berdasarkan berita di koran. Memang keadaan hari sudah sore.
"Kenapa jembatannya rusak?" kata Anto.
"Kalau di lihat dari keadaannya ini jembatan rusak karena banjir," kata Toni.
"Kalau begini mah. Tidak ada hantunya," kata Anto.
"Mungkin ada sih. Yang menarik itu hantunya cantikkan kaya di film 'Si Manis Jembatan Ancol'...," kata Toni.
"Memang sih di tulis koran, hantunya cantik. Tapi kan wujud aslinya kan serem," kata Anto.
"Aku paham wujud aslinya hantu itu serem," kata Toni menegaskan omongan Anto.
Toni dan Anto cukup lama di area jembatan tersebut untuk membuktikan ada hantu apa tidak? Hari pun menjelang malam, ya magrib.
"Toni pulang saja. Tidak ada hantu!" kata Anto.
"Ok lah kita pulang!" kata Toni.
Toni dan Anto, ya meninggalkan tempat tersebut. Toni membawa motor dengan baik, ya menuju tujuan arah pulang ke rumah. Hari menjadi malam. Hantu muncul dengan keadaan dirinya cantik. Hantu berjalan, ya dengan tujuan menakut-nakuti manusia hidup. Singkat waktu, ya Toni sampai di rumah Anto. Ya Anto masuk rumahnya dan Toni, ya membawa motornya sampai ke rumahnya. Sampai di rumah, ya segera Toni, ya santai di ruang tengah sambil nonton Tv. Sedang Anto, ya santai di rumah sambil baca buku.


0 komentar:
Post a Comment