THE SHADOW
Sebuah bayangan yang akhir-akhir ini sering ku lihat. Bayangan apa itu? Sepintas pertanyaan terlintas di otakku. Seolah tak peduli dengan hal itu, aku kembali melanjutkan aktivitasku malam ini. Ku tatap jam dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 24.15 wib. Malam ini sangat sunyi dan sepi. Inilah waktu yang aku tunggu untuk menemukan sebuah inspirasi baru. Sayup-sayup suara binatang kecil begitu jelas di kamarku. Tak jarang hal seperti ini ku temui. Jari-jari tanganku semakin asyik menari-menari di atas laptop kesayanganku. Tanpa takut ketinggalan informasi aku membuka berita-berita terbaru di internet sekaligus membuka percakapan di dunia maya.
Ku buka twitter dan facebook-ku ternyata penuh dengan berita kecelakaan yang menelan banyak korban. Tak jarang dari mereka memasukkan foto beberapa korban naas itu. Bulu kudukku sempat merinding melihatnya. Seolah tak ingin terfokus dengan itu aku rasa lebih baik membaca cerita di blog-blog yang biasa aku kunjungi. Ketika sedang asyik membaca sebuah cerpen aku mendapat new massage di e-mailku. Ku buka dan ternyata itu hanya pesan pemberitahuan dari yahoo. Ku lanjutkan kembali membaca sebuah cerpen yang baru ku baca. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang gadis yang dibunuh oleh kekasihnya lalu jasadnya dibuang ke tong sampah. Cerita ini persis seperti film-film horor yang biasa ku tonton. “terlalu biasa.” decakku sedikit kecewa.
Karena merasa bosan aku melirik toko-toko online. Malam ini sunyi sekali. Bahkan tak ada terdengar suara sedikit pun. Aku memiliki penyakit susah tidur yang lebih dikenal dengan kata insomnia. Ku dapati sebuah tas dan sepatu yang unik. Aku klik dengan cepat agar tak ketinggalan. Setelah selesai membeli barang-barang online, aku membuka twitter dan facebook-ku kembali. Sebuah mention datang dari seseorang yang tak ku kenal. Aku balas dan percakapan kami terus berlanjut hingga akhirnya sebuah suara terdengar olehku.
“Suara apa itu?” bisikku mulai gelisah. Ku dengar baik-baik suara itu namun suara itu telah lenyap. Tiba-tiba ponselku berdering. Ku pandangi ponselku. Nomor itu tak terbaca di ponselku. Detak jantungku mulai tak karuan. Ku coba menekan tombol hijau. Namun tak terdengar suara apapun. “Mungkin cuma orang iseng.” pikirku.
Sekarang sudah mulai larut namun aku belum juga merasa kantuk. Ku baca sebuah novel online agar mataku merasa ngantuk namun nihil. Aku mulai bosan ku matikan laptop dan ku rebahkan badanku di kasur. Lalu ku ambil i-podku. mungkin dengan cara begini aku bisa tertidur. Tak lama mataku mulai mengantuk, tak sengaja terdengar olehku suara tangisan seorang wanita dari arah kamar mandi. Aku tak peduli dengan hal itu.
Tiba-tiba ponselku berdering. Aku angkat namun tak ada suara. Aku mulai gerah, ku cabut baterainya lalu ku tambah volume i-pod. Waktu sudah menunjukkan 03.00 wib. Aku belum tertidur sedikit pun. Ku coba untuk memejamkan mata dan sepintas bayangan lewat di depan tempat tidurku.
“Astaga, apa itu?” aku mulai penasaran.
Ku pandangi sekeliling ruangan kamar ini agar aku tak tertipu lagi. Ya, ternyata aku melihat sendiri bayangan itu. Sesosok bayangan perempuan lalu lalang di pintu kamar tidurku. Kini bulu kudukku mulai berdiri. Ku baca doa agar makhluk itu tak menggangguku lagi. Aku berusaha untuk berpikiran positif agar rasa takut ini bisa ku kendalikan. Matilah aku semua hal terdengar olehku, bayangan itu muncul lagi. Malam ini aku hanya sendiri biasanya dua orang temanku menetap di sini namun karena sekarang sedang libur maka kos-kosan ini begitu sepi.
Aku mulai berteriak dan ku tutup mataku rapat-rapat. Sebuah keanehan muncul pada pergerakan tubuhku. Badanku kaku seketika bahkan untuk mengeluarkan suara pun begitu susah.
“Ya Tuhan ada apa ini.” jeritku di dalam hati. Ku coba untuk membuka mata. Ternyata ini berhasil. Lalu ku coba untuk menggerakkan tanganku namun rasanya begitu berat. Tak berselang lama leherku tercekat. Aku mulai kesakitan. Tiba-tiba badanku bergerak dengan sendirinya seperti ada seseorang yang mengangkatku.
Aku terjatuh. Badanku tersungkur di lantai. Aku gontai. Pandanganku mulai tak jernih. Bayangan itu muncul lagi. Semakin lama ia mendekat ke arahku. Tanpa sadar badanku bergerak dengan sendirinya. “tolong.” aku begitu kesakitan. Sekarang di rumah ini hanya ada aku seorang. Aku mulai pasrah. Peluhku berjatuhan. Tubuh ini bergerak dengan sendirinya menuju sebuah tempat yang ku tahu itu sebuah gudang. Dulunya tempat ini adalah sebuah kamar entah mengapa seiring dengan berjalannya waktu kamar ini tidak terpakai dan akhirnya menjadi sebuah gudang.
Brukks!! Aku terjatuh. Pipiku mendarat di sebuah lantai berdebu. Darah segar berjatuhan di hidungku.
“Aww.” tiba-tiba ada seseorang yang menginjakku dari belakang. Aku kesulitan untuk bergerak. Ku rasakan kini tubuhku mulai memar dan terluka.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Tubuhku seperti dirasuki seseorang. Aku memburu napasku. Aku kesulitan untuk bernapas. “Ada apa ini?” pikirku membatin. Ku rasakan udara begitu dingin di ruangan ini. Aku ketakutan. Sangat ketakutan. Bagaimana tidak, malam ini aku hanya sendiri di kosan ini. Tak ada seorang pun yang bisa menolongku. Bulir air mata membasahi pipiku. Aku takut, aku sedih, dan aku bingung dengan apa yang terjadi. Hal yang selama ini ku takuti terjadi juga. Bayangan itu muncul dan badanku terpental ke dinding. Ku tutup mataku dengan kedua tanganku.
Bayangan itu berdiri tepat di hadapanku. Sesosok wanita yang memiliki bekas luka yang amat menyedihkan. Wajahnya begitu menakutkan. Aku tak sanggup melihatnya. Ku yakini itu sesosok iblis menyerupai wanita. Ia melonglong di depanku. Tak lama kemudian ia merasuki tubuhku. Aku sangat kesakitan. Kini di dalam tubuhku ada dua jiwa yang menyatu di dalam satu tubuh. Aku berusaha ke luar dari jeratannya. Aku tak mau ia menetap di dalam tubuhku.
Aku berperang dengannya hingga menyakiti tubuhku sendiri. Badanku menggeliat kesana kemari. Aku tetap berjuang melawannya. Kini ku sadari semua kesalahanku. Ku putar memori otak beberapa tahun yang lalu. Aku terhenyak. Badanku melayang di udara. Ku rasakan semua penyesalanku. Air mataku mengalir. “Maaf.” hanya itu yang bisa ku katakan. Dengan hitungan detik aku terhempas ke lantai hingga aku kehilangan kesadaran.
The End


0 komentar:
Post a Comment