GHOSTS IN THE SANATORIUM

Posted By Cerpen universal on Tuesday, September 15, 2020 | September 15, 2020

GHOSTS IN THE SANATORIUM

Spittle, Jenny, dan Eliza adalah 3 sahabat yang suka menyelidiki hal-hal yang berbau mistis. Tiga sahabat ini dikenal sebagai IMMC yang artinya: Investigator Matters Mystical Club. Mereka sering masuk TV dan tentunya, mempunyai banyak fans. Mereka sudah terkenal di muka bumi sebagai Pemberantas Hantu. Padahal, mereka baru berumur 12 tahun, loh. Spittle bisa melihat hantu, jadi dia mempunyai indera keenam. Jenny bisa merasakan kehadiran hantu, Jenny adalah Indigo. Eliza adalah medium, bisa berbicara atau berkomunikasi dengan hantu. Spittle berambut coklat ikal, dan diikat kuda. Jenny berambut pirang dan berkuncir dua. Eliza berambut merah, satu-satunya yang tingginya 130 CM, yang terpendek di IMMC.

Suatu hari, ada telpon dari HP Spittle.

“Halo?”

“Apakah ini IMMC?”

“Iya, anda siapa ya?”

“Ah, aku Carol.”

“Oh, Carol, kenapa menghubungi IMMC?”

“Aku mau minta tolong, tolong selidiki Sanatorium di Jalan Blue Street nomor 666 sebelah kirinya Blue Dragon Mansion.”

“Oh, baiklah. Kita akan bertemu di Green Mall, IMM Castle. Jam 03.00 AM sampai bertemu nanti esok hari!”

“Baiklah.”

Esoknya, Spittle, Jenny dan Eliza sudah berada di IMM Castle sebelum Carol tiba.

“Jadi ini, yang bernama Carol?” Bisik Eliza kepada Spittle.

“Mana kutahu. Sstt! Dia mendekat.” Bisik Spittle lagi kepada Eliza.

“Halo,” Sapa Spittle, “Ini aku, Spittle. Yang kau telepon kemarin sore.”

“Oh ya, di sebelah kiriku adalah Jenny dan yang ini, Eliza.”

“Salam Kenal!” Sapa Jenny dan Eliza.

“Juga,” Balas Carol. Carol segera duduk di seberang Jenny dan Eliza.

“Jadi, apa yang bisa dibantu?” Tanya Jenny dengan mukanya yang cuek.

“Begini, keponakanku, Callie pernah mengunjungi daerah di Blue Street, bersamaku dan pamanku. Saat itu, Callie merengek-rengek kepada paman Johnny untuk masuk ke Sanatorium yang terletak di Jalan Blue Street nomor 666 itu. Paman Johnny sempat menolak ajakan Callie. Tapi, Callie menangis, sehingga Paman Johnny terpaksa mengantar Callie masuk. Paman sempat berkata kepadaku, begini katanya, ‘Carol, tunggu di sini, paman mau mengantar Callie, 5 menit, OK?’ Lalu aku menganguk, namun setelah 1 jam berlalu, Paman Johnny dan Callie tidak keluar juga. Saat aku mau masuk menyusul Callie dan Paman Johnny, tiba-tiba saja Callie menjerit, sehingga kuurungkan niatku itu, dan menelpon Mom. Mom dan Dad melaporkan kejadian itu kepada polisi setempat, namun tidak ada polisi yang berani masuk ke dalam sanatorium itu. Lalu, yah beginilah. Aku menyuruh kalian untuk memeriksa keponakan dan pamanku. Bisakah.. Kalian membantu?” Cerita Carol.

“Tentu, sekarang?” Tanya Jenny.

“Ya, lebih cepat lebih baik.” Sambar Eliza.

“Ok, berangkat!”

Komandan Spittle. Akhirnya IMMC berangkat bersama Carol, menggunakan IMMC Car.

“Berapa hari kau menghubungi Spittle setelah kejadian itu?” Tanya Jenny.

“Oh, itu, Rabu 22 Maret, 4 hari yang lalu. Jam 15-19” Jelas Carol.

“Oh,” Jenny meng-oh-kan penjelasan Carol. Jenny memang cuek.

“Kita sudah sampai..” Seru supir Jean, kakak Jenny.

“OK, all, turun.” Perintah Spittle, bos IMMC. Carol, Jenny, Eliza dan Spittle turun dari mobil sport Jean.

“Serem yah, di sebelahnya kosong, kayaknya kuburan..” Komentar Eliza.

“Aku bisa merasakan kehadirannya di sini, kesedihan yang teramat memilukan. Serta kebencian yang membara.” Kata Jenny, jutek. 

Spittle hanya diam. Carol pun begitu.

“Halo.” Sapa Eliza, rasanya kepada sosok di depannya.

“Dia bicara sama siapa, sih?” Senggol Carol kepada Spittle.

“Orang Belanda, deh, kayaknya. Pakaiannya jaman dahulu banget, rambutnya juga pirang,” Jelas Spittle kepada Carol.

“Oh,” Mukanya kayak gimana ya, pikir Spittle.

Muka noni belanda itu memang tertutup oleh Jenny. Tiba-tiba Spittle terlihat kaget, Jenny pun melirik ke arah Spittle. Tidak, bukan Spittle, melainkan sosok di depannya. Spittle terlihat takut setengah mati, Carol pun penasaran. Keringat dingin muncul dari balik rambut Spittle.

“KEMBALI! Jangan ganggu temanku!” Seru Eliza tiba-tiba. Spittle terlihat lega, lalu berpaling dan mengucapkan terima kasih tanpa suara kepada Eliza. Eliza menganguk.

“Emangnya tadi ada apaan, sih?” Tanya Carol yang dari tadi bingung, melihat aksi mereka.

“Kalian, untung, gak melihat hantunya,” Kata Spittle, masih dengan napas yang tersenggal-senggal.

“Hantunya, wajahnya sangat seram.. Kalian tahu? Wajahnya menghitam terbakar, matanya keluar, dan mata kirinya tidak ada, darah hitam mengucur dari balik mulutnya, belatung keluar masuk pelupuk mata dan mulutnya, tulang hidungnya sudah tak bertulang lagi. Tiba-tiba dia memuntahkan sesuatu dari mulutnya dan hampir saja belatung yang keluar dari tubuhnya itu mengenaiku. Ah, untung saja Eliza mengusir makhluk fana itu, Terimakasih Eliza..”

Mereka terdiam setelah Spittle mengatakan hal-hal itu. Sampai Jenny memecahkan keheningan. “Kurasa Callie dan Johnny sudah mati,” Bisik Jenny.


Callie, dan seorang lelaki paruh baya memasuki Sanatorium. Seorang perempuan sepertinya melihat mereka. Lalu membalikkan tubuhnya.

“Bisakah kita keluar dari sini, dan di sini selama 5 menit?” Tanya lelaki paruh baya itu.

“Tidak, Johnny. Aku ingat cerita Cinderella, Snow White, dan Beauty and The Beast kurasa ketiga tokoh itu di sini, percayalah!” Seru Callie.

“Oh, Itu tidak mungkin, Callie kecil. Ayolah, kakakmu menunggu.” Ujar lelaki yang bernama Johnny itu.

“Oh, kau tidak percaya? Sungguh menyedihkan.” Callie lalu melepas pegangan tangan Johnny dan berlari menyusuri Sanatorium itu.

“Tunggu, Callie!” Seru Paman Johnny sambil berlari mengikuti Callie.

Setelah sekitar 1 jam Callie berkeliling, Callie menemukan sebuah ruangan. Banyak kereta dorong yang biasa Ia temukan di rumah sakit. Serta tulisan-tulisan China. Dengan lihainya Callie menulis namanya dengan batu bata. Lalu, setelah itu, Ia mendengar seperti bunyi air jatuh. Callie berbalik ke belakang.

“Johnny… Aaahh!!” Sementara di luar, Carol kebingungan mendengar jeritan Callie dan menelpon Momnya.

“Callie? Callie?!” Panggil Paman Johnny. Ia khawatir sekali dengan teriakan Callie itu, sementara langit berubah menjadi sore. Sudah jam 6.

“Callie? Kau mendengarku. Oh, ayolah, Callie! Kukasih permen kesukaanmu, jangan bermain petak umpet sekarang, Callie! Callie!!” Seru Paman Johnny semakin takut.

Bercak darah di mana-mana, tiba-tiba terdengar suara cakaran pintu. Bunyi cakaran pintu itu dekat sekali dengan tempatnya sekarang. Paman Johnny hanya diam di tempat. Tiba-tiba suara jeritan terdengar. Bukan jeritan Callie, namun jeritan perempuan yang tidak dikenal. Tidak ada orang di Sanatorium ini. Tiba-tiba di depan Paman Johnny, dia melihat seorang anak kecil berjalan terseok-seok menuju ke pintu di depannya. Paman Johnny yang menyaksikan apa yang dilihatnya hanya terpaku, betisnya bergetar.

Tidak mau melihat anak kecil itu, Paman Johnny menengok ke arah kanan, namun, yang dilihatnya adalah belatung. Namun, di atasnya, ada sebuah jari dengan darah berceceran. Paman Johnny tidak bisa berteriak. Diingatkannya kekuatan Tuhan, dan Ia gerakkan kakinya secepat mungkin, berusaha mencari jalan keluar. Tidak, ini jalan yang tadi, pikir Paman Johnny. Lalu dari pintu yang di depannya, muncul seorang perempuan Belanda. Paman Johnny bergerak mundur beberapa langkah dan mengambil langkah seribu ke belakang. Namun saat Ia menengok ke belakang, Noni Belanda itu tepat di depan wajahnya. Iapun pingsan seketika.


“Tidak, tidak, kita harus masuk,” Tegas Carol.
“Jangan! Kau ingin mati?!” Marah Jenny.
“Lebih baik jangan masuk, Carol..” Kata Eliza, juga mengikuti Jenny.
“Kita akan meminta pertolongan nenekku, dia indigo, medium, mempunyai indera keenam dan paranormal. Lebih baik kita meminta pertolongannya saja,” Usul Spittle.

Carol, Jenny dan Eliza menganguk mengikuti saran Spittle. Spittle segera menghubungi neneknya melalui telepon. Tidak lama kemudian, nenek Spittle datang, membawa semua perlengkapan paranormalnya. Nenek Spittle bernama Rose, masih terlihat muda, tidak seperti nenek-nenek lainnya.

“Ayo, Nek, kita masuk.” Ajak Spittle. Nenek Rose hanya mengangguk. Mereka pun masuk. Lima belas menit kemudian, mereka menemukan Paman Johnny.
“Paman!!” Jerit Carol.

Mereka membawa Paman Johnny keluar dan menyuruh ambulans untuk membawa Paman Johnny ke Rumah Sakit, jika dia nantinya muntah atau semacamnya. Mereka masuk lagi. Sebelum itu, Nenek Rose mengeluarkan alat paranormalnya. Ia membawa kacamata yang dilengkapi oleh sinar inframerah, yang bisa melihat hantu. Masing-masing menerima kacamata itu, kecuali Spittle karena memang bisa melihat hantu dengan langsung. Saat mereka masuk, mereka melihat banyak sekali hantu. Nenek Rose menyuruh mereka untuk tenang. Nenek Rose juga membawa bawang dan barang-barang lainnya agar hantu tidak mengganggu lainnya. Akhirnya, sampailah mereka ke ruangan mayat tempat Callie berkunjung. Ternyata, Callie sudah menjadi mayat.

“Pantas.. pantas saja,” Ujar Nenek Rose tiba-tiba, ” Dia menuliskan namanya di nama orang-orang yang sudah meninggal. Jadi dia ikut meninggal,” Jelas Nenek Rose lagi. Carol menangis histeris. Jenny, Eliza dan Spittle hanya bisa melihat dan mengangguk mendengar penjelasan Nenek Rose. Setelah itu, mereka keluar dan membawa jasad Callie, yang ternyata belum membusuk sama sekali itu.

Dua tahun sejak kejadian itu.

Sanatorium sekarang dijadikan Art Museum. Karena jasad-jasad para hantu itu sudah dimakamkan dengan layak. Dan pastor, biksu, pendeta, pedande dan romo sudah mendoakan mereka. Sehingga para hantu bekas pasien TBC itu tidak menjadi arwah penasaran lagi. Dan Sanatorium -Art Museum- itu tidak angker lagi, dan nama IMMC sudah terkenal di mana-mana, dan diberi gelar oleh presiden langsung, dan sering dipanggil untuk memecahkan masalah mistis.

THE END
Blog, Updated at: September 15, 2020

0 komentar:

Post a Comment