TERLAMBAT MENYADARI CINTA
"Kamu akan menyesali semuanya, saat kamu tau yang benar-benar tulus mencintaimu pergi dan takkan pernah hadir lagi di hidupmu."
***
Aditya Arcakra Negara seorang pemuda tampan yang sangat cuek terhadap seorang gadis, tetapi ternyata cueknya pemuda itu malah membuat semua gadis yang mengaguminya penasaran padanya Aditya, dengan mahirnya melempar dan memasukkan bola basket ke dalam ring, di bangku penonton ada seorang gadis cantik yang seumuran dengannya bernama Anggia Putri Ferahni atau biasa dipanggil Anggi, dan di kejauhan seorang gadis sedang mengawasi Aditya bermain basket, ia setiap hari akan datang pagi hanya untuk melihat orang yang ia sukai ralat mungkin ia cintai, karena menurutnya rasa yang ia miliki lebih dari sekedar rasa mengagumi, atau menyukai, gadis itu bernama Aliana Armata Ciptaningrum atau biasa dipanggil Liana. Liana masih terus melihat setiap gerak-gerik Aditya semuanya tak pernah lepas dari penglihatan seorang Liana, ia terlonjak kaget ketika ada yang menepuk pundaknya, ia refleks berbalik dan menemukan keempat sahabatnya sedang berdiri di belakangnya, sahabat yang sudah menemaninya dari ia kecil.
“Melihat Aditya dari kejauhan lagi Liana?.” Tanya seorang sahabatnya bernama Arfiti Arindah Cahyanti atau biasa dipanggil Fitri, di sebelah kanan Fitri berdiri lagi seorang gadis yang berhijab bernama Tafifi Afiqoh Ramadhani atau biasa dipanggil Fifi, di sebelah kiri Fitri juga terdapat seorang gadis bernama Arzahra Wine Febriandini, dan di sebelah Zahra berdiri gadis bernama Yunike Ayuning Tyas atau biasa dipanggil Tyas.
“Yang kalian tau seperti biasa apa yang gua lakuin di sekolah pagi-pagi.” keempat sahabatnya menatap jengah Liana ia sudah salah mencintai Aditya karena Aditya sudah memiliki cintanya.
“Aliana gua bahkan bukan cuma gua kita semua udah pernah bilang sama lo cinta lo itu salah Lin, Aditya sudah memiliki seseorang yang kini menggenggam hatinya.” Zahra mencoba memberi pengertian pada Liana, gadis itu mengalihkan pandangannya pada bangku penonton dan di sana terdapat Aditya dan Anggi yang sedang bercanda tawa bersama, hatinya terluka, bagaimana tidak? ia harus menunggu 3 tahun untuk bisa dekat dengan Aditya bahkan sampai sekarang pun Aditya tak pernah mau melihatnya, tapi gadis itu? ia hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk menaklukan hati Aditya, penglihatan Liana mulai mengabur karena air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya, dan tak luput isakkan kecil juga mengiringi tangisannya.
“Gua udah coba tahan rasa ini agar gak tumbuh lebih besar, tapi apa daya gua cuma manusia biasa yang gak bisa melawan takdir Tuhan.” Air bening masih terus keluar dari mata indah Liana mata indah yang selalu menampakkan binar kebahagiaan kini berbinar kesedihan dan hanya kesedihan yang terpancar dari mata indahnya, suara isakkan Liana membuat keempat sahabatnya kasihan pada Liana, selain itu suara isakkan itu juga membuat hati para sahabatnya seperti ditusuk dan digores dengan ribuan belati tajam, jantung yang biasanya mampu memompa darah dengan lancar kini tersumbat dan melambat seperti tak bekerja, Liana masih menatap nanar bangku penonton itu dan ia semakin lama semakin tak kuat ia berjalan menjauh, menjauh dari semuanya.
***
Hujan deras masih betah menyapa bumi yang gersang, sepertinya langit juga tau apa yang sekarang Liana rasakan, Liana masih betah berlama-lama melamun dan berdiam diri di balkon kamarnya ia tak peduli dengan angin dan hujan yang terus jatuh turun dari langit, mata Liana sudah mulai memanas dan penglihatannya mulai mengabur air mata sialan itu mulai berjatuhan lagi dan lagi, apa salah aku tak menahan rasa ini Tuhan? aku tau aku salah mencintai seseorang yang sudah memiliki kekasih tapi apakah takdirmu bisa ditentang kurasa itu takkan pernah bisa karena itu mustahil, batin Liana berbicara sembari menahan perih yang harus ia rasakan karena menerima kenyataan pahit, saat dirasa udara semakin dingin ia menyerah ia memasuki kamarnya dan mulai memejamkan mata karena memang hari juga sudah larut.
Pagi menyapa para insan yang beraktivitas seperti ini, pagi yang cerah tetapi tak secerah hati Liana dan ia juga masih murung, ia merutuki kebodohannya karena tidur terlalu malam jadi pagi ini ia datang terlambat ke sekolah dan ia takkan sempat untuk melihat Aditya bermain basket, saat sampai di sekolah ia langsung memasuki kelasnya dan di dalam kelas teman-teman perempuannya seperti biasa mereka sedang bergosip ria tentang berita terhangat pagi ini, Liana memilih bergabung dengan mereka tetapi ia tak mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena ia lebih memilih menelungkupkan wajahnya pada kedua tangan yang ia lipat di meja, salah satu temannya menepuk bahunya.
“Tumben lo Lin datang telat biasanya juga lo paling rajin.” Ucap salah satu teman Liana yang bernama Vika, Liana menatapnya dan tersenyum kecil.
“Gua bangun kesiangan gara-gara semalem tidurnya gak inget waktu jadi deh gua telat.” Ucap Liana teman-temannya hanya mengangguk mengerti, Liana yang sedari tadi tak mengikuti apa yang mereka gosipkan mulai bingung kemana arah pembicaraan mereka.
“Lo pada bicarain apaan sih?.” Tanya Liana penasaran, teman-teman temannya yang tadi sedang berbicara secara bersamaan mengalihkan pandangannya pada Liana, Liana menatap mereka bingung.
“Lo gak tau gosip terhangat di sekolah kita Lin?.” Tanya salah satu temannya dengan tatapan sulit diartikan, Liana menggeleng pelan.
“Emang apaan sih?.” Tanya Liana penasaran.
“Masa lo gak tau Aditya semalem putus sama Anggi.” Pernyataan temannya membuat Liana kaget bukan main, putus?, bukankah kemarin mereka masih baik-baik saja?.
“Putus?, kok bisa?.” Tanya Liana lagi.
“Katanya sih selama ini Anggi gak pernah cinta sama Aditya dia macarin Aditya hanya untuk membalaskan dendam masa lalu musuh bebuyutan Aditya si Randi itu loh.” Jelas salah satu temannya, Liana mengalihkan pandangannya pada Fitri sang sahabat palu memberinya kode untuk menemaninya keluar dari kelas, Fitri yang mengerti kode itu menganggukkan kepalanya.
“Semua gua keluar dulu ya sama Fitri, mungkin gua balik ke kelas agak telat ntar kalau pak Bahrun datang nanyain gua bilang aja gua lagi ada urusan, bye.” Liana berpamitan pada semua temannya lalu menarik tangan Fitri keluar dari kelas, mereka menuju rofftop sekolah, saat mereka sampai di sana mereka duduk di tepi rofftop tetapi tidak terlalu tepi, hanya ada keheningan antara mereka berdua Liana menatap lurus dengan pandangan kosong.
“now if I should be happy or even sad when Aditya break up with anggi, please answer me what should I do fit?.” Liana bertanya pada Fitri setelah mereka dilanda keheningan dan Fitri bingung untuk memecahkan keheningann.
“answer you need in your heart of the most in, listen to the word your heart Liana.” Fitri juga memberi pengertian pada Liana, lagi dan lagi hanya ada keheningan antara mereka berdua, Fiti tidak tau apa yang Liana pikirkan saat ini, Fitri bangkit dari duduknya.
“Gua akan kembali ke kelas apa lo mau ikut?.” Fitri bertanya kepada Liana yang masih betah dengan tatapan kosongnya.
“Gak usah gua masih pengen sendiri di sini, lo balik aja tolong izinin gua di mata pelajaran pagi sampai siang mungkin gua gak akan masuk kelas.” Fitri mengangguk menyetujui apa yang Liana bilang, memang Liana perlu waktu untuk semua ini, Fitri mulai berjalan menjauh dari rooftop sekolah menuju kelas, Liana masih betah melamun, sampai sebuah tepukan di pundaknya membuat ia tersadar dan kembali ke alam sadarnya ia mengalihkan pandangannya ke samping kanannya dan ia terkejut, ia mendapati Aditya sedang duduk di sebelahnya, kalau saja suasana hati Liana sedang bahagia mungkin ia sudah berteriak kegirangan tapi suasana hatinya sedang tak baik, ia hanya menatap Aditya sekilas lalu mengalihkan pandangannya lagi lurus tatapan kosong.
“Kok lo ada di rooftop sih, ini kan masih jam pelajaran?.” Tanya Aditya setelah hanya ada keheningan antara mereka.
“Gak papa gua cuma pengen menyendiri di sini.” Ucap Liana tanpa mengalihkan pandangannya, Liana sedikit tersentak ketika mendapati sebuah tangan terjulur di depan wajahnya, ia mengikuti araj datangnya tangan itu dan ya Aditya lah yang mengulurkan tangannya.
“Kita belum kenalan gua Aditya, kalau lo?.” Aditya mengenalkan namanya, oh ayolah siapa yang tak mengenal Aditya mungkin hanya orang bodoh yang tak mengenal pria tampan yang cuek itu, Liana perlahan membalas uluran tangan itu.
“Aliana atau biasa dipanggil Liana.” Liana berkata dengan Tutur kalimatnya yang lembut dan itu mampu membuat darah siapa saja yang baru mengenalnya merasa berdesir hebat, dan itulah yang Aditya rasakan darahnya berdesir hebat saat mendengar tutur kalimat lembut dari Liana, mereka melepaskan uluran tangan mereka ber-2.
“Lo juga ngapain di sini?.” Tanya Liana penasaran.
“Gua lagi males di kelas.” Ucapan Aditya membuat Liana menaikkan alisnya tanda bingung pada kalimat yang Aditya ucapkan.
“Maksudnya?.” Tanya Liana lagi.
“Ya males aja, gua putus sama Anggi berasa artis gua digosipin mulu.” Liana tertawa kecil dengan apa yang Aditya bicarakan.
“Mungkin karena kamu populer di sini Dit, jadi mereka gosipin kamu terus.” Liana masih menahan tawanya karena wajah merajuk Aditya sangat lucu, oh Tuhan bisakah Liana melihat wajah Aditya sedekat ini setiap hari?.
“Iya tapi kan gua bukan artis ngapain gua digosipin.” Liana tertawa tapi tidak terlalu keras, Aditya menatap bingung Liana, mengapa gadis ini tertawa?, tapi saat dia tertawa saat ini ia lebih cantik dari tadi, Aditya membatin.
“Ternyata seorang Aditya yang terkenal dengan kecuekkannya bisa merajuk juga ya?, Aditya maybe they need the truth of your mouth itself is not just a gossip.” Liana memberi pengertian pada Aditya dengan sabar, Aditya menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang gadis itu bicarakan, Liana bangkit dari duduknya.
“Gua harus pergi Dit, walaupun gua gak akan masuk kelas karena lagi males banget buat ngikut pelajaran jadi mungkin gua akan pulang.” Pamit Liana ia bersiap pergi tetapi sebuah tangan menahan tangannya untuk pergi alhasil Liana berhenti dan tak jadi melangkahkan kakinya, ia menatap bingung Aditya, ya dia yang menahan tangan Liana.
“Apa lagi Dit?.” Tanya Liana dengan mimik muka bingung.
“Gua ikut ya, gua juga males nih ngikut pelajaran.” Hampir saja Liana berteriak kegirangan kalau ia tak ingat siapa di depannya.
“Ya udah deh, terus tas lo gimana?.” Tanya Liana dan ia juga baru saja menyadari bahwa ia juga tak membawa tas, tapi itu mudah ia hanya tinggal meminta tolong Fitri sang sahabat untuk membawakannya nanti.
“Gampang itu mah ntar gua bisa minta tolong temen gua buat nitip bawa pulang, terus tas lo?.” Liana menganggukkan kepalanya mengerti atas penjelasan Aditya.
“Gampang ntar minta tolong Fitri.” Aditya mengangguk mengerti.
“Ya udah yuk Dit, tapi ke rumah sapa nih?.” Liana bertanya bingung karena memang dari tadi mereka belum tau kemana tujuan mereka.
“Rumah lo gimana Liana?.” Aditya memberi saran.
“Okey, ya udah yuk.” Mereka ber-2 berjalan beriringan ke arah motor Aditya yang setiap hari Aditya bawa, mereka menaiki kuda besi itu dan perlahan kuda besi itu berjalan menjauh meninggalkan pelataran parkiran sekolah dan melaju menembus jalanan.
***
Motor sport itu berhenti di depan rumah bergaya minimalis dengan arsitektur yang kental dengan negara Inggris, Liana turun dari motor Aditya kemudian membukakan pagar untuk Aditya, motor Aditya memasuki pelataran rumah megah itu ia melepas helmnya kemudian turun dari motor, Liana membuka pintu utama rumahnya lalu mempersilahkan Aditya masuk ke dalam setelah Aditya masuk ia menutup pintu lalu berjalan ke arah ruang tengah.
“Lo disini dulu gua mau ganti baju, eh bay the way, mau minum apa nih?.” Tanya Liana, Aditya sedang berpikir dan Liana mulai jengah.
“Serah gua ya m, yaudah tunggu sini.” Liana berucap dan membuat Aditya kaget bukankah Liana yang menawarkan dan ia juga yang menanyakan mengapa sekarang ia yang menjawab?.
“Lha kok lo yang jawab, kan lo nanya ke gua?.” Aditya kebingungan, Liana memutar bola matanya jengah terhadap Aditya.
“Kelamaan lo mikirnya, 1 tahun kali baru kelar.” Ucap Liana kesal, sedangkan tersangka utama hanya menampilkan cengiran kudanya, dengan kesal Liana berjalan menuju dapur meminta tolong Bi Rani untuk membuatkan Aditya minuman sedangkan ia berjalan menuju kamarnya untuk mengganti baju, setelah selesai ia turun lagi ke bawah dan saat ia sampai di anak tangga terakhir suara pekikan beberapa orang membuatnya hampir terjatuh terjungkal ke belakang kalau saja ia tak berpegangan pada pembatas tangga, ia mengalihkan pandangannya pada pintu utama dan menatap mereka semua tajam, dan keempat sahabatnya tadi hanya menampilkan cengiran kudanya.
“Kalian semua mau bunuh gua ya?.”
keempat sahabatnya tak menghiraukan apa yang Liana bicarakan, mereka malah berjalan ke arah sofa ruang tamu dan menghempaskan tubuh mereka di kursi sofa, Liana yang melihat itu hanya mempunyai menggelengkan kepalanya, kenapa punya sahabat gini banget Tuhan? Tanya batin Liana, ia lalu melanjutkan langkahnya menuju keempat sahabatnya dan juga Aditya yang masih menatap mereka bingung.
“Mereka memang gini udah lo gak udah bingung gitu Dit.” Aditya hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti, lalu Liana ingat satu hal ini masih jam 09:00 seharusnya sekolah belum pulang, apakah sahabatnya membolos?.
“Lo berempat bolos ya?.” Tanya Liana curiga keempat sahabatnya hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Liana.
“Lagian ya Lin kalau lo gak ada di sekolah sapa yang bakalan nyontekin kita-kita fisika?, lo tau sendiri nilai gua gimana.” Alasan Fitri, Liana menatap jengah keempat sahabatnya.
“Kan ada sih Fifi, dia gak jauh beda nilai fisikanya sama gua kok.” Liana tak habis pikir para sahabatnya ini selalu saja mencari alasan untuk membolos sekolah.
“Pusing dia katanya.” Pernyataan Tyas membuat mata Liana melotot, para sahabatnya yang kaget akan perubahan Liana langsung menunduk takut, karena kalau Liana sudah marah bisa-bisa mereka akan didiamkan 1 Minggu.
“Terus kalau Fifi sakit kenapa malah kalian bawa kesini?,mendingan sekarang kalian pulang deh anterin Fifi dulu baru pulang.” Marah Liana, para sahabatnya langsung bangkit dari duduk dan berjalan sedikit berlari menuju rumah masing-masing, Liana menghela nafas panjang lalu di hembuskan dengan kasar, dia langsung duduk di sebrang Aditya.
“Sorry Dit, sahabat-sahabat gua emang gitu.” Liana merasa tak enak pada Aditya yang tadi mendengarnya marah-marah.
“Santai aja Lin, gak papa kok.” Ucap Aditya santai lalu ia menatap jam tangannya sebentar lalu berdiri dari duduknya.
“Lin gua harus pamit nih soalnya gua mau ada urusan.” Pamit Aditya pada Liana.
“Ya udah deh, hati-hati lo.” Liana memperingatkan Aditya, dan Aditya hanya menganggukkan kepalanya, setelah Aditya pulang Liana segera memasuki kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk, ia tersenyum bagaimana tidak setelah 3 tahun tak pernah dekat dengan Aditya, sekarang ia sangat dekat dengannya.
***
1 bulan sudah berlalu dari hari dimana untuk pertama kalinya Liana dan Aditya dekat dan akrab, dan 1 bulan ini juga mereka menjalin persahabatan dan tentunya rasa cinta yang masih dimiliki Liana terus berkembang dan bertambah besar seperti sekarang ini, entah kenapa Liana 1 Minggu ini uring-uringan karena sudah 1 Minggu pula lah Aditya menghilang seperti di telan bumi tak ada kabar, dan yang lainnya. Hari ini sepulang sekolah Liana sengaja berjalan-jalan ke mall hanya untuk menenangkan pikirannya yang akhir-akhir ini tak tenang karena kepergian Aditya yang seperti ditelan bumi, saat Liana memasuki tempat makan yang ada di mall itu ia terkejut melihat sosok yang selama 1 Minggu ini memenuhi pikirannya sedang bersama teman-temannya dan juga Anggi dan mereka sedang bercanda tawa ria, Liana mendekati Aditya di salah satu bangku tapi belum mencapai bangku Aditya ia harus menahan sesak di dada karena pernyataan memilukan yang ia terima dari perkataan salah satu teman Aditya.
“Gimana Dit, apa lo udah bisa naklukin hati si Liana, karena memang selama ini dia gak pernah deket sama cowok mana pun.” Ucap salah satu teman Aditya, Liana langsung bersembunyi di pilar dekat meja mereka.
“Iya gimana tuh sandiwara lo putus sama Anggi terus deketin si Liana, udah jadi pacar belum, pokoknya kalau udah berarti kita siap-siap kalah taruhan sama lo.” Kata itu kata yang tak ingin Liana dengar dari siapapun kata ‘taruhan’, jadi selama ini Aditya tak benar-benar mendekatinya dengan ikhlas dan Aditya mendekatinya hanya karena taruhan ini keterlaluan, air mata itu yang sudah menumpuk di pelupuk mata perlahan tapi pasti mulai menetes sedikit demi sedikit dan lama kelamaan menjadi deras seperti air hujan yang tak bisa dibendung oleh daratan dan menjadi banjir, suara isakkan itu begitu memilukan di hati siapa pun yang mendengarnya, saat Aditya hendak menjawab semua pertanyaan teman-temannya tiba-tiba saja meja mereka dipukul dengan keras, sontak semua orang yang ada di meja itu berdiri dan menatap 4 orang yang tengah menatap mereka tajam.
“Lo tega Dit, ternyata selama ini lo bersahabat sama Liana hanya karena taruhan?, gua benar-benar kecewa sama lo.” Teriak Fitri di hadapan Aditya, ya 4 orang tadi adalah sahabat dari Liana mereka berlima memang berjanji akan bertemu di tempat makan di salah satu mall tapi tadi saat mereka sampai mereka mendengar perkataan salah satu teman Aditya hati mereka panas seketika.
“Lo benar-benar gak punya perasaan apa lo tau kalau selama ini Liana itu CINTA sama lo apa lo pernah nyadar semua itu, 3 tahun dia memendam rasa itu sama lo, dan saat lo baik sama dia jadi sahabat dia tapi lo malah jadiin dia bahan taruhan sama teman-teman lo gua gak percaya lo jahat Dit, lo orang terjahat yang pernah gua temui.” Emosi Fifi, Liana yang melihat hal itu langsung berlari ke arah sahabatnya.
“Udah gua gak papa kok, udah ya.” Liana mencoba menenangkan para sahabatnya yang tersulut emosi.
“Tapi Lin…” Ucapan Tyas terpotong karena Liana menatapnya tajam, Liana berbalik badan ke arah Aditya.
“Dit lo dengar sendiri kan apa yang temen gua omongin, iya gua cinta sama lo dan lo harus tau itu Dit.” Setelah berucap seperti itu Liana langsung pergi begitu saja dari sana para sahabatnya mengejarnya Aditya hanya menatap sendu punggung Liana yang mulai menghilang dari penglihatannya.
***
1 minggu sudah kejadian itu terjadi dan 1 minggu juga lah mereka berdua tak pernah bertemu, dan 2 hari yang lalu Aditya putus dari Anggi karena Anggi ketahuan bermain hati di belakang Aditya, sedangkan Liana?, entahlah gadis itu seperti ditelan bumi. Hari ini seperti biasa Aditya sedang berada di taman belakang sekolah, hari ini perpisahan sekolah tapi ia juga tak menemukan gadis itu di acara ini tepukan di pundak Aditya memecahkan lamunannya ia berbalik dan menatap keempat orang yang sedang berdiri di belakangnya.
“Dit ini ada titipan dari Liana, kita mau lo baca surat ini Dit.” Ucap Zahra, ya mereka adalah para sahabat Liana.
“Tapi kemana Liana?.” Tanya Aditya.
“Lo akan tau saat lo selesai baca surat itu, kita pergi dulu.” Mereka berempat meninggalkan Aditya di taman sendirian, dengan tak sabar Aditya segera membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya.
To: Aditya Arcakra Negara
Hai apa kabarmu?, Maaf 1 minggu ini aku tak bertemu denganmu, ada yang perlu kau tau aku memang terluka saat mendengar kalau kau hanya menjadikan aku bahan taruhan, tapi aku tak berhak marah padamu karena aku saat itu belum mendengarnya sendiri dari mulutmu. Aditya aku tau aku hanyalah sebutir pasir yang tak berguna yang bisa kapan saja dihebus Angin sedangkan kau adalah bintang di langit yang menyinari kegelapan, aku ingin bilang sesuatu padamu, sebelumnya aku ingin meminta maaf, maaf karena aku sudah mencintaimu dalam diam selama 3 tahun, tapi sekarang aku sudah ikhlas jika kau dengan yang lain, aku harus pergi dan menetap di Inggris hingga waktu yang tak bisa ditentukan.
Salam Hangat
Yang selalu mencintaimu setiap detik.
Aliana Armata Ciptaningrum.
Aditya hanya tertegun membaca surat itu ia bahkan tak menyangka bahwa gadis itu sudah mencintainya selama 3 tahun, dia menyesal, menyesal karena telah menjadikan gadis itu bahan taruhan dan menyakiti perasaannya.
“Arrgghhhh… Gua bancii… Gua bancii karena udah nglukain perasaan seorang wanita.” Teriak Aditya, ia terduduk di rerumputan air mata penyesalan itu luruh begitu saja dari kedua bola matanya, hujan mengguyur bumi dan mengguyur tubuh Aditya yang masih betah tak berkutik kemanapun tubuhnya ia biarkan terguyur hujan yang semakin deras.
"Terlambat bagiku menyadari betapa tulusnya Cintamu, aku adalah orang bodoh yang tak menyadari semua itu" -Aditya Arcakra Negara-


0 komentar:
Post a Comment