HAY

Posted By Cerpen universal on Sunday, October 11, 2020 | October 11, 2020

Hay

“Hay”, kata inilah yang membuat perjalanan hidup seorang remaja seumuranku seakan lupa akan kehidupan nyata. Yapp, bagaimana tidak? seorang yang mengucapkannya adalah wanita pujaan di hidupku. Aku yang sedang berdiri sendiri, terasa bagaikan burung yang sedang terbang mengelilingi langit nan biru. “Hay juga” sapa balikku padanya, aku terdiam sendiri tak tahu harus melakukan apa di hadapannya. Begitulah sekiranya persapaan pertamaku padanya.

Hatiku semakin tak menentu, bagaimana tidak? bukan hanya menyapaku namun ia telah mengajakku pergi bersamanya. Hari-hari yang menyenangkan, hingga aku telah lupa aka kewajibanku sebagai pelajar, tak hanya membolos, aku semakin jarang mengerjakan tugas pribadi maupun tugas kelompok. Prestasiku jatuh, teman-temanku menjauhiku, aku tak peduli aku hanya berpikir kepadanya dan terus yakin bahwa ia akan terus bersamaku.

Hingga di hari praktek kerja kelompok, aku tak menyadari bahwa hari ini ada waktu praktek. Aku merasa kebingungan teman-temanku tak ada satu pun yang mengajakku bahkan mempedulikanku. Dengan perasaan kesal aku pergi meninggalkan kelasku, aku berlari menuju ke kelasnya. Namun apa yang kusaksikan membuatku semakin meningkatkan emosiku pada hari ini yang terus melegak-legak! Yapp, aku sedang menyaksikan ia sedang bermesra bagai bumi milik berdua dengan seorang lelaki dan tak lain adalah gurunya sendiri. Aku tak dapat berkata apa-apa lagi, aku semakin buta akan keadaan. Aku pergi dengan memecahkan kaca jendela kelasnya!

Diriku berlari menuju kamar kecil dan mengurung diri di dalamnya, aku bagaikan seuntai tali yang mengambang tak tahu dan tak bisa apa-apa. Aku mencoba menelepon Ibuku, namun tak ada jawaban darinya. Aku lupa, aku telah pergi meninggalkan rumah 3 bulan lamanya!!, aku pergi meninggalkan rumah disebabkan olehnya. Ibuku melarangku berpacaran dengannya, ia memang lebih tua setingkat dariku dan memang dia tak memiliki attitude yang sopan kepada Ibuku sendiri. Semua kacau, berantakan dan tak ada yang bisa kuperbaiki lagi! aku semakin putus asa oleh keadaan ini.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi, “Tak ada nama” begitulah tampilan nama yang timbul di notifikasi handphoneku. Aku lupa, aku tak tahu siapa ini karena handphoneku selama ini ia yang memegangnya. Aku tak berani menjawab, namun nomor ini terus menghubungiku dan kuberanikan diriku untuk menjawabnya. “Hay” sapa kecil dari penelepon ini, suaranya begitu sayu dan menyedihkan. Tak ingatkah kamu hari ini? tanyanya. Air mataku menetes, ini adalah Ibuku!! bagaimana bisa, aku melupakannya hanya karena seorang wanita kotor? aku merintih kecil, dan terus meneteskan air mataku.

“Ini adalah hari ulang tahunmu nak” sayu kecil suara Ibuku, “maafkan Ibu yang tak bisa menjagamu, tak bisa memperhatikanmu hingga akhirnya kelalaian Ibulah yang membuatmu begini. Kita tak bisa sehangat dulu sebagaimana dulu kamu selalu membanggakan nilai-nilai tesmu yang begitu memuaskan. Kau sudah besar nak, kuatkanlah dirimu kokohkan pendirianmu. Jangan pernah salah lagi kamu menentukan pilihan untuk hidupmu kelak.” Aku tak mampu berbicara sepatah kata pun, “cepatlah kau besar, dan jangan pernah kau lupakan Ibumu lagi”.

Dan serentak ucapan terakhir Ibuku, putuslah teleponnya. Aku menangis, meronta bagaikan manusia yang sedang kesurupan dan akhirnya aku tak sadarkan diri. Aku tak tahu sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Dan sudah berapa lama aku terbaring di kasur putih ini, yang kutahu sekarang semua hanya berwarna putih seragam di mataku. Yahh, di sinilah di akhir kebodohanku sendiri, aku yang dulu seorang remaja cerdas mempunyai Ibu bak malaikat harus hancur di dalam kamar “RUMAH SAKIT JIWA” Aku hanya selalu tersenyum sendiri mengingat kebodohanku yang menghancurkan hidupku sendiri.
Blog, Updated at: October 11, 2020

0 komentar:

Post a Comment