AMMAR JALEN
Ammar Jalen, orang biasa memanggilnya Ammar. Lelaki tampan, anak dari saudagar kaya di sebuah kota kecil. Paras yang mendekati sempurna membuat pria ini terkenal seantero kota. Bisa dibilang termasuk dalam nominasi terbesar incaran para wanita di dunia. Dan seperti dilemparkan ke dalam jurang yang berisi jutaan emas dan batu-batu berharga lainnya. Issabel Valerie. Seorang gadis yang mungkin bisa dikatakan benar-benar beruntung. Berkencan dengan Ammar. Mengingat Ammar bukanlah pria penebar pesona sehingga cukup sulit untuk mendekatinya. Tapi apa? Alam berkata lain, sekarang seseorang gadis sudah ada di sampingnya.
Bukan berarti hal itu mudah, cemoohan tajam selalu tertuju pada gadis malang ini. Menjadi bahagia berada di samping Ammar, hmm.. Itu rasanya tidak ada dalam option. Seperti kejatuhan buah durian, entah harus bahagia atau malah sedih. Mendapat seorang pendamping sempurna sambil dibarengi dengan cemoohan sempurna, satu paket. Tapi mau dikata apa, cinta sudah bertindak tidak ada lagi yang bisa menolak. Hari-hari menyenangkan pun mereka lalui dengan berbagai kisah romantis. Membuat kedua insan ini terbalut erat selimut asmara. Sampai pada saatnya, hari kelam pun datang berkunjung pada keduanya. Seperti sebuah sisi gelap dari alam yang memaksa mereka harus berlari sejauh mungkin dari pusat kota. Dan mungkin hutan adalah satu-satunya pilihan terakhir sampai mereka berhenti pada sebuah gubuk tua di tengahnya.
Dengan sangat hati-hati mereka memasuki bangunan itu. Rasa ketakutan yang mendalam terus saja menghantui hati mereka berdua. Gemuruh napas keduanya bahkan sampai terdengar satu sama lain. Tidak ada penerangan di dalam sini. Hanya sebuah jendela tua -yang tulang penopangnya pun sudah hilang entah ke mana- dan sebuah meja panjang. Tapi keganjalan sedikit terasa di dalam sini. Entah apa itu. Hari mulai beranjak malam, dan sama sekali tidak ada keberanian bagi mereka untuk ke luar dari bangunan itu. Udara dingin yang mengusik dalam kegelapan mulai menyelimuti. Sepertinya mereka harus bermalam di sana.
“Ammar bagaimana ini, aku takut?"
Valerie tersandar lemas dalam dekapan Ammar. Wajahnya pucat pasi setelah 8 jam terselimuti oleh ketakutan tidak pasti dan masih tetap berlanjut hingga sekarang.
“Tenang, dia tidak mungkin mengejar kita di malam seperti ini,” ucap Ammar berusaha menenangkan kekasihnya. “Di sini kita aman. Lagi pula ada aku.”
“Tapi bayangan itu–”
“Ssttt.. Kau lelah bukan, ini sudah larut, sebaiknya kau tidur.”
Ammar membaringkan Valerie di atas meja panjang tersebut dan melepaskan jaket mantelnya untuk menyelimuti Valerie. “Terima kasih.” Dia mencium kening gadis itu lembut.
Valerie merasa aman dengan perlakuan pria tampan ini. Sampai-sampai lupa dengan apa atau siapa yang mengejarnya.
***
Pagi-pagi buta, Valerie terbangun dan mendapati dirinya terikat kuat di atas meja, tempat di mana semalam ia terbaring tidur. Panik. Tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan. Dan betapa kagetnya gadis ini setelah menyadari bahwa hanya ada sehelai kain tipis putih yang membalut tubuhnya. Bahkan sekarang di matanya bukan lagi isi pemandangan dari sebuah gubuk tua, melainkan sebuah ruangan dengan berbagai ornamen-ornamen aneh sebagai pajangannya. Seperti, ‘Apa yang terjadi denganku, di mana ini, dan di mana Ammar?’ Belum sempat pertanyaannya terjawab, tiba-tiba seseorang yang sudah tidak asing lagi baginya datang mendekat sambil membawa sebilah pisau tajam. Berperangai serba hitam, beringas, dan yang pasti menakutkan untuk dilihat. Tatapan membunuh penuh amarah, seperti kehausan akan darah segar yang mengalir deras.
“Ammar.. Apa yang kau lakukan?” Pertanyaan terakhir dari gadis ini sebelum pria yang ia cintai menebaskan pisau tajam ke perutnya.

0 komentar:
Post a Comment