AKU DAN BINTANG
Bagaikan guru yang mengajar di depan kelas membuat murid-muridnya mengerti. Waktu pun mengajarkanku untuk berhenti memunculkan dia dalam otakku atau mungkin lebih tepatnya menghentikan kemunculannya di otakku. pada kenyataannya waktu 2 tahun tak membuatnya kembali lagi padaku. Dia memilih berlabuh di hati lain untuk menetap, tak ingin kembali berlayar lalu berlabuh di hati lain.
Aku tak rindu nada ataupun musik yang lebih indah. Suara lembut dari bibir seseoranglah yang aku rindukan. Dan sekarang peluang mendengar suara itu sangatlah kecil atau bahkan itu tak mungkin lagi terdengar. Nada memang indah, alunan lagu membuat bibir berbicara dan membuat otak bisa menghafal liriknya. namun berbeda dengan suara lembut itu. Aku tak mungkin hafal kata per kata yang pernah terdengar oleh telingaku. tapi kefahamanku tentang pembicaraannya tak pernah terhapus dengan kepastian yaitu waktu.
30 januari 2015
Kali ini aku harus benar-benar kembali memahami bahwa bintang tak bisa diraih ataupun disentuh. Dia benar-benar tak akan kembali. Kesan pertama yang ia berikan sangat indah. Namun hanya kesan pertama setelah itu dia tinggalkan kesan menyedihkan yang banyak 1000 berbanding 1 dari kesan indah itu. Kembali berbicara soal bintang di angkasa, Pernahkah melihat bintang jatuh? Filosofi bintang yang ada di hati. Aku pernah melihatnya aku fikir dengan menutup mata dan berdoa maka bintang itu akan jatuh di hadapanku, tapi nyatanya jatuh jauh bahkan sangat jauh dari jarak aku berdiri. Akhirnya jatuh namun bukan keindahan yang aku lihat melainkan panas karena bintang itu meledak. Yap benar bintang itu telah jatuh di depanku, aku melihat dan merasakan keadaan bintang itu yang terus semakin dekat. tapi ketika bintang itu jatuh bukan keindahan yang aku lihat, tapi sakitlah yang aku rasakan. membuat ragaku hancur menjadi partikel-partikel kecil.
Aku tak seperti batu yang kokoh sulit berubah bentuk tanpa pelapukan, aku adalah makhluk tuhan yang mudah berubah-rubah seperti dunia yang berputar kadang di atas kadang di bawah. Kadang sangat cinta kadang jenuh kadang benci. Aku berfikir kembali tentang bintang itu Walaupun bintang itu telah menghancurkan ragaku. Tapi anehnya pengharapan tentang jatuhnya bintang itu tak pernah pudar. Bila ada jalan untuk bintang itu sampai di bumi, siang malam aku akan membuatnya untuk sekedar mempersilahkannnya menuju bumi. dengan harapan tak lagi meledak dan membuatku menjadi puing-puing dan akhirnya menjadi partikel-partikel kecil. Bila saja bintang itu memintaku untuk memberikan kesempatan kedua untuk melihat keindahan yang sempat ia tunjukan walau hanya kilauan di angkasa, walau ia telah menggantinya dengan ledakan yang menyakitakan, aku akan memberikan kesempatan kedua.
06 mei 2016
Aku kembali hancur menjadi partikel-partiket. Tidak, bintang itu tak jatuh. bintang itu bahkan jatuh ke planet lain. Aku hancur bukan kerena bintang itu meledak. Tapi hancur karena melihat bintang itu bersinar di plenet lain. Sungguh tak menyangka bintang itu jatuh di planet selain bumi yang gersang dengan panas yang menyengat, seandainya bintang itu bisa mendengar suaraku aku akan berkata “di bumi teduh, tapi kenapa memilih planet yang panas?”
Mengingat 28 juli 2014
Tanggal manis bagai gula. Bintang yang berjarak dekat dengan bumi, hampir sampai di bumi. Bintang itu berkilau seakan tersenyum padaku, untuk pertama kalinya bintang itu berkilau dengan kilauan yang indah walau jaraknya hanya dekat belum sampai di bumi. Gelap malam memang damai tapi dengan kilauan bintang itu membuat makin damai, meneduhkan sama sekali tak menyilaukan. Seperti bunga yang tumbuh di antara ilalang, walau satu tapi membuat indah. Bintang itu pun mengalahkan gelapnya malam dengan kialauan kecilnya. jantungku berdebar kencang ketika melihat kialauan itu, aku fikir setelah bintang itu berkilau hanya butuh waktu satu sekon untuk jatuh di hadapanku, tapi kelihatannya debaran jantungku itu tak berarti. Waktu itu bintang tak jatuh, hanya saja jaraknya dekat. Bagai hanya tersenyum manis padaku.
Hujan, kilat dan petir. Menyeramkan bukan? Tapi jika saja ada satu bintang yang berkilau, setidaknya membuat mata berbinar melihatnya. Bintang yang sangat pelit, hanya pernah berkilau sekali tak lagi berkilau. Mungkin tujuan bintang itu berkilau adalah hanya menunjukkan energinya bukan untuk menerangi malam gelap di bumi. Kilau sementara itu seperti harapan palsu, yap benar aku berbicara tentang harapan palsunya, yang membuatku terluka.
00:18 jam dimana bintang itu jatuh..
Yang kutunggu datang tak diduga. Bintang itu akhirnya jatuh ke bumi. Aku berbicara tentang bintang yang jatuh ke bumi untuk pertama kalinya. walau tak bersinar tapi bayangan sinarnya sudah terpotret di otakku yang berada dalam kepala. Terasa hangat ketika satu sekon keberadaannya di bumi. Membuat malam yang dingin menjadi hangat dengan suhu bintang itu yang agaknya panas, namun bukan berarti akan membakarku. Proses panjang kutunggu sangat lama. Mulai jarak beribu-ribu kilometer hingga sampai bintang itu di bumi yang kupijak. Aku salah besar, yah mengenai kedatangan nya di bumi bintang itu meledak di jam 00:18. Dia memutuskan hubungan tak jelas denganku, mematikan lampu kecil yang bersinar membuat peluang untuk bersinar itu pun musnah.
2 tahun sudah aku menunggu kedatangan bintang itu. Bintang tak kunjung jatuh di bumi. Banyak orang yang berkata kalau bintang itu telah tinggal di palnet lain dan tanpa kujawab pun aku sudah lebih tau akan hal itu. Aku sudah katakan kalau planet yang menjadi tempat bintang bersinar itu panas, tapi seakan planet panas itu bagai pelabuhan bagi kapal nelayan. Yah menunggu 2 tahun lama bukan? Menunggu bintang itu jatuh kembali, tak banyak orang mengharapakan bintang jatuh karena khawatir akan meledak, namun tidak denganku, aku tak takut. Yang membuat aku menyerah menunggu bintang itu karena mungkin aku akan tenggelam berlarut-larut dalam pengharapan yang tak kunjung menjadi nyata. Bintang itu adalah dia, dia yang membuatku menunggu lama walau berkali-kali tersakiti olehnya.


0 komentar:
Post a Comment