SI PENJAGA MAKAM

Posted By Cerpen universal on Thursday, July 30, 2020 | July 30, 2020

SI PENJAGA MAKAM

Hamja Mardiayana Daeng Tahir, atau orang-orang kampung memanggilnya Daeng Tahir, seorang penjaga makam yang telah lama mengabdikan hidupnya untuk “Orang-orang,” yang sudah tiada. Ia dengan senantiasa membersihkan makam dari daun-daun yang berguguran, memotong semak belukar, membakar sampah-sampah dan merawat kebersihan lingkungan pemakaman. Walaupun telah berumur 80 tahun, ia tetap cekatan dalam mengurus taman pemakaman umum (TPU) di salah satu sudut desa di kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Entah bagaimana wajah TPU ini jika Daeng Tahir tidak merawatnya.

Seperti biasa setiap sore, sepulang ngantor aku selalu melewati TPU ini menuju rumahku, sebenarnya aku bisa saja mengambil jalan alternatif menuju rumahku tetapi itu memakan waktu yang lama, harus mengitari jalan raya yang lumayan jauh, satu-satunya akses tercepat adalah potong kompas melewati TPU ini. Walaupun TPU ini tertata dengan rapi tetap saja aku selalu merinding jika melewatinya. Tapi entah mengapa perasaanku selalu lega jika melihat Daeng Tahir berada di sekitaran TPU ini, suasana sepi dan angker sedikit sirna akan kehadirannya.

“Assalamualaikum Daeng Tahir,” sahutku kepada penjaga TPU ini yang sedang membersihkan daun yang berguguran di sekitaran taman makam.

“Waalaikumsalam,” sahut Daeng Tahir, ia kemudian menghampiriku yang sedang berdiri di depan gerbang TPU.

“Bagaimana kabarnya Daeng?”

“Alhamdulillah Nak, Allah SWT masih memberikan saya kesehatan, kalau Haidir sendiri bagaimana kabarnya?” walaupun Daeng Tahir berumur 80 tahun dan seorang penjaga TPU, tapi fisik dan penampilannya sangat bersih dan memberikan kesan bahwa Daeng Tahir masih berumur 50-60 tahunan.

“Alhamdulillah saya juga sehat, baru pulang dari kantor,”

“Hmm, kenapa kalau ke kantor selalu jalan kaki, kenapa tidak naik mobil atau motor saja?” tanya Daeng Tahir kepadaku.

“Rumah dan kantorku dekat jadi sebaiknya saya jalan kaki saja ke sana, kalau naik motor atau mobil itu lebih memakan waktu yang lama dan jauh memutar.”

Sore itu aku banyak menghabiskan waktu bercerita dengan Daeng Tahir, bagaimana pengalaman hidupnya, termasuk beberapa peristiwa yang tak pernah ia lupakan. “Saya masih ingat dulu Nak waktu ditangkap oleh tentara di kawasan maros, Ayah saya dituduh sebagai simpatisan PKI, beliau ditangkap dan dipenjarakan tanpa proses persidangan dan di internerin di kamp konsentrasi moncongloe, beberapa bulan menjelang peristiwa itu, saya yang saat itu masih 15 tahun juga ditangkap dan dibawa ke kamp konsentrasi tersebut,” kami berdua duduk di bale-bale (pasabean/pendopo) depan TPU dinaungi pohon mangga yang sangat besar, ku dengarkan seksama cerita Daeng Tahir mengenai peristiwa penangkapan dirinya.

“Saya ditangkap karena Ayah saya yang dituduh PKI, kami sekeluarga di internerin di kawasan kamp konsentrasi di moncongloe, setelah beberapa puluh tahun keadaan menjadi kondusif kami dibebaskan, namun nasi sudah jadi bubur karena dicap sebagai tahanan politik yah saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di kota ujung pandang, makanya Nak saya ke rumah sanak famili di bantaeng dan beginilah Nak saya akhirnya menjadi penjaga TPU,”

“Hmm baru saya tahu Daeng, ini sejarah kelam dan sekaligus aib, oh iya Daeng saya pergi dulu sudah mulai gelap.” aku pamit ke Daeng Tahir dan meninggalkan Daeng Tahir melaksanakan kewajibannya sebagai penjaga TPU.

Keesokan harinya ku mulai aktivitas seperti biasa, bangun subuh, salat kemudian mengenakan celana dan kemeja yang rapi, sepatu hitam dan bersiap-siap menuju kantor. Seperti biasa aku selalu lewat di depan TPU. Selain karena akses dari rumah dan ke kantor sangat dekat jika melalui daerah ini, kawasan yang asri dan rimbunnya pepohonan di kiri kanan jalan membuat suasana tenteram dan damai, ku lihat Daeng Tahir yang sedang duduk-duduk di bale-bale sambil memegang sapu lidi yang besar.

“Assalamualaikum Daeng, selamat pagi,” sahutku sembari menghampiri Daeng Tahir.

“Waalaikumsalam Haidir, apa gerangan wajahmu sumbringah hari ini?”

“Iya Daeng, hari ini baru dapat rejeki dan juga saya mau serahkan ini ke Daeng, titipan dari istriku untuk Daeng Tahir, siang hari tadi Iis Dariyanti istriku membawakan dua buah bekal makanan, satu untuk suaminya yang ganteng ini dan satu untuk Daeng, yah hitung-hitung ucapan terima kasih atas bantuan Daeng yang sudah memperbaiki saluran got di depan rumah,”

“Tidak usah repot-repot Haidir,”

“Tabe (permisi) Daeng, nanti saya ke sini lagi ambil rantangnya, saya berangkat dulu.”

***

Matahari mulai pergi dari peraduannya, cahaya jingga di ufuk barat mulai menampakkan pesonanya, temaram malam mulai menghampiri, dan sekali lagi ku berjalan menyusuri setapak-setapak jalan ini yang ditumbuhi pohon yang rimbun, sebuah jalan pintas yang menghubungkan kantor dan rumahku, sesampainya di depan TPU ku lihat Daeng Tahir yang sedang berdiri di depan gerbang. Kebetulan sekali rantang nasi kemarin belum aku ambil.

“Assalamualaikum Daeng,” sahutku.

“Waalaikumsalam Haidir,”

“Bagaimana kabarnya Daeng, sepertinya kurang sehat wajah daeng pucat, apa Daeng sakit?” tanyaku kepada daeng.

“Tidak, saya sehat ayo masuk ke pondok itu ambil rantangnya istrimu, Iis Dariyanti,” Kami berdua memasuki pondok didalam kawasan TPU tempat Daeng Tahir beristirahat, ku lihat beberapa meter dari pondok itu terdapat makam yang nampak basah seperti makam baru. 

“Ada yang meninggal tadi yah Daeng?” sahutku kepada Daeng Tahir.

“Oh iya Haidir seusai salat jumat ada yang meninggal, warga di sekitar makam ini,” Daeng Tahir memberikan sebuah rantang berwarna oranye. Kami terlibat obrolan ringan, dan memutuskan pamit kepada Daeng Tahir mengingat langit mulai malam dan suara adzan maghrib mulai menggema.

Sesampainya di rumah ku lihat istriku Iis Dariyanti memakai pakaian seba hitam, sangat kontras dengan kulitnya yang putih. “Sayang kamu mau ke mana malam-malam begini?”

“Aku mau ke rumah Pak RT, di sana ada tahlilan,” sahut istriku.

“Memangnya siapa yang meninggal sayang?” tanyaku.

“Kamu tahu kan penjaga TPU di lingkungan ini Bapak Hamja Mardiayana Daeng Tahir, siang tadi seusai salat jumat beliau meninggal.” sahut istriku yang sontak membuatku kaget.

“Kamu jangan bercanda deh, aku barusan ketemu sama Daeng Tahir di depan TPU tadi, kau lihat kan yang ku pegang rantang oranye kepunyaanmu, Daeng Tahir sendiri yang menyerahkannya,” sahutku yang juga membuat istriku kaget.

“Ini mustahil.. tapi siang tadi kampung ini heboh loh karena Daeng Tahir meninggal usai salat jumat, warga juga kaget akan berita ini, sore tadi juga aku menghadiri pemakaman Daeng Tahir. Sekarang Pak RT sedang mengundang semua warga ke rumahnya untuk tahlilan hari pertama berpulangnya Daeng Tahir.”

Sejenak aku duduk, merasa lemas, atas penjelasan istriku, sungguh siapa gerangan yang ku lihat tadi. Begitu jelas dia adalah Daeng Tahir. Aku hanya menghela napas mendengarkan penjelasan istriku yang menceritakan seksama kronologi kepergian si penjaga makam. Di bawah sayup-sayup lantunan adzan maghrib, kami berdua hanya saling memandang mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Blog, Updated at: July 30, 2020

0 komentar:

Post a Comment