BUKAN CINTA YANG SALAH

Posted By Cerpen universal on Thursday, July 30, 2020 | July 30, 2020

BUKAN CINTA YANG SALAH

Ofii tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Rasa yang selalu sesak, membuatnya kewalahan setiap kali rasa itu datang. Membuatnya hampir menangis ketika rasa itu menyapanya lagi. Tapi rasa itu tidak bisa ia hilangkan, karena hanya ini yang mampu ia rasakan.

Bel sekolah berbunyi tepat pada waktunya, semua murid memasuki kelas mereka masing-masing. Mengikuti pelajaran dengan seksama. Ofii memandangi lapangan dari balik jendela. Berharap sebuah hal mustahil itu muncul lagi, walau kadang tidak selalu sesuai harapannya. Sepanjang jam pelajaran dia benar-benar fokus pada lapangan sekolah. Menunggu hal tidak terduga. Namun belum juga tiba.

Bel istirahat berbunyi, membuat muridnya berhamburan ke luar kelas. Sementara perempuan berjilbab putih sederhana hanya mampu terpaku pada jendelanya. Dengan susah payah sahabatnya menarik lengan perempuan itu. Vina hampir mengomel tidak mau berhenti, kalau saja Ofii masih sibuk memandangi jendela kelasnya. Apa istimewanya sih jendela itu, bentuknya masih persegi empat warnanya juga tidak menarik fikir Vina melihat perilaku sahabatnya itu.

Dengan malasnya Ofii berjalan menuju kantin, dia tidak merasa lapar saat ini. Mana mungkin dia lapar saat sedang menunggu sesuatu seperti ini. Tapi Vina sekali lagi terus saja memaksanya.

“Kamu kenapa sih? Sakit ya?”

Ofii tidak menjawab hanya dengan memandangi wajah Vina saja seharusnya dia sudah paham.

Ofii berjalan di depan sahabatnya itu, lalu berbelok ke arah kantin. Dengan tergesa-gesa. Pandangannya baru saja menemukan sebuah objek yang dia cari sedari tadi. Hatinya berubah menjadi penuh dengan bunga. Dengan senyum yang merekah, Ofii menghampiri kantin cantik di sekolahnya.

Vina dengan wajah herannya menyusul Ofii dari belakang. Dan dia mendapati Ofii duduk di bangku kantin dan bahkan sudah memesan makanannya. Bukannya dia tadi tidak semangat sama sekali ke kantin, kenapa dengan tiba-tiba moodnya berubah, bahkan hanya dalam hitungan menit.

“Makan dulu Vin, nanti bisa sakit perut” ucap Ofii ketika sahabatnya sudah ada di depan nya, “Iya, tapi..”

Ofii tersenyum, “Jangan bicara jika sedang makan”

Vina menepuk jidatnya, sahabatnya memang sedang terkena virus. Kenapa pula dia baru sadar sekarang. Seharusnya dia tinggalkan saja sahabatnya ini di kelas biar murung seharian. Tapi dia tidak mungkin sejahat itu.

“Coba aja aku enggak ajak kamu ke sini, pasti kamu bakal menyesal kan?” goda Vina,
Ofii tersenyum sumringah, dia bersyukur Vina telah memaksanya ke tempat ini. Hal mustahil bahkan sudah menjadi kenyataan. Siapa bilang semua itu mustahil, buktinya kemustahilan itu menghampiri dengan sendirinya.

“Hai Ofii, Vina. Kita duluan ke kelas ya” sapa laki-laki yang tadi duduk di meja dekat mereka berdua, Ofii sambil tersenyum melambaikan tangannya, “Iya,”

“Dia ngomong sama kita berdua, bukan kamu aja” sindir Vina, Raut muka Ofii seketika berubah, “Biarin, yang penting dia sapa aku hari ini.”

Vina cekikikan. Pasti senang sekali Ofii hari ini.

Waktu istirahat berakhir sepuluh menit lalu, pelajaran kembali berlangsung. Ofii tidak uring-uringan lagi, dia bahkan duduk di bangku paling depan. Ada sebuah suntikan semangat untuk belajar saat ini. Yang pasti itu merupakan suntikan semangat yang positif untuk dirinya.

Sepulang sekolah dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat Ofii setia menunggu hal mustahil itu terulang kembali. Dia duduk santai di dekat gerbang sekolah, hanya menunggu.
Dengan perasaan yang gundah Ofii melihatnya lagi, dia sang laki-laki berperawakan tinggi itu melewati gerbang sekolah. Dengan senyum yang melekat di wajahnya dia menyapa Ofii di depan gerbang sekolah.

“Kamu enggak pulang?”

“Pulang kok, lagi nunggu jemputan”

“Oh, aku duluan ya. Kamu hati-hati nunggunya” dan berlalu pergi dari hadapan Ofii, Ofii tidak bisa menyembunyikan perasaan yang bergejolak di hatinya. Senang sekali bisa mengobrol dengan sosok idamannya. Hingga membuat virus cinta menyebar ke seluruh bagian tubuhnya.

Laki-laki itu mampu merobohkan pertahanan hatinya, mengukirkan rasa rindu yang banyak padanya. Dan dia tidak mampu menolaknya. Ofii tersenyum tipis sekarang, hanya sesederhana itukah perasaannya? dengan melihatnya saja dia sudah merasa bahagia dan dengan melihatnya saja dia dapat menggugurkan rindu ini. Ini sama sekali tidak sesederhana itu, ini sungguh lebih rumit dari soal matematika.

Vina sudah berkali-kali berkata lembut bahkan menenangkannya. Pagi yang cerah sebenarnya. Namun suasana itu mendadak berubah, tidak ada angin tidak ada badai hujan pun turun dengan derasnya. Bukan hujan di langit, namun hujan di dalam UKS sekolah.

“Jangan nangis lagi ya, memangnya kenapa sih? Coba cerita sama aku”

Ofii tidak bergerak dari tempatnya, dia ingin sendiri saat ini. Vina dengan sabar menemani temannya ini di UKS. Pagi ini Ofii mendadak ingin ke UKS, Vina dengan cekatan membawanya. Dia fikir Ofii tengah sakit sekarang, tapi kenyataannya ini bukan sakit yang biasa, itu dugaan Vina saat ini.

Lima belas menit. Akhirnya Ofii duduk juga dengan matanya yang sembab. Vina menyondorkan tisu untuknya.

“Aku benar-benar tidak ingin jatuh cinta lagi” ucap Ofii lirih, “Kenapa? Apa yang salah dengan jatuh cinta, itu fitrah Fii”

Ofii dengan muka cemberutnya meneguk segelas air di atas meja, “Fitrah yang bikin sakit hati saja, sudah enggak mau lagi”

Vina meraih tangan sahabatnya itu, “Kalau sudah ditakdirkan jatuh cinta mau bagaimana lagi? Biarkan aja perasaan itu berjalan dengan semestinya”

“Tapi kenapa Tuhan biarkan aku jatuh cinta sama orang yang salah, seharusnya cinta itu indah”

“Enggak selamanya salah, cinta kamu bukan cinta yang salah. Bukan karena kamu enggak ditakdirkan sama dia itu tandanya cinta yang salah. Lagipula jodoh pasti bertemu kok”

Ofii mengecek ponselnya lalu menunjukkan sebuah gambar, “Dia bahkan jadian sama teman sekelas kita, terus perasaan aku sama dia selama ini gimana? Kita berdua bahkan akrab baik di sekolah maupun di media sosial. Kenapa coba dia harus bersikap manis sama aku? Mending dari awal aku enggak usah suka sama dia”

Vina menghela napas, sahabatnya sudah patah hati tingkat kuadrat sekarang. Lantas apa yang seharusnya dia lakukan?

“Kamu tahu kisah Fatimah sama Ali?”

Ofii mencoba mengingatnya lalu mengangguk pasti, kisah romantis yang pernah dia dengar.
Blog, Updated at: July 30, 2020

0 komentar:

Post a Comment