NIKMATI HIDUP
Setelah hujan berhenti. Toing duduk di teras kos-kosan.
"Wah...hujan hari ini bikin semuanya basah semua," celoteh Toing melihat keadaan.
Toing menggunakan teropong untuk melihat Yuli, ya di rumah gitu. Terlihat sih Yuli pake teropong. Tiba-tiba Yuli menghilang dan terlihat Ibu Yuli dengan menunjukkan kepalan tangan kanan ke arah Toing.
"Astaga Ibu Yuli...marah," kata Toing.
Toing, ya tidak lagi meneropong Yuli.
"Dingin," kata Toing yang merasakan keadaan.
Heru yang selesai masak gorengan di dapur...ya membawa sepiring gorengan ke depan teras kos-kosan untuk duduk bersama Toing.
"Toing gorengannya!" kata Heru.
"Iya," saut Toing.
Toing mengambil gorengan di piring dan segera memakannya, ya begitu juga dengan Heru. Lalu Heru mengambil teropong dan berkata "Toing. Ini teropong untuk melihat apa?".
"Biasa. Melihat Yuli," kata Toing yang jujur.
"Yuli. Aku teropong ah ke rumahnya!"
Heru meneropongnya dengan baik, eee terlihat Ibu Yuli yang menunjukkan kepalan tangan kirinya.
"Waduh, Ibunya Yuli marah."
Heru pun menghentikan meneropong ke rumah Yuli.
"Ibunya Yuli...galak!" kata Heru.
"Galak Ibunya, tapi anaknya cantik kan!" kata Toing.
"Iya, jangan-jangan kamu, Toing suka sama Yuli!" kata Heru.
"Suka sih, tetap aku tidak berani menyatakan rasa suka ku," kata Toing.
"Aku sebagai sahabat ngerti kamu, tipe pemalu...kalau dekat cewek yang kamu sukai. Kalau jauh kamu, berani Toing," kata Heru.
"Masalahnya aku sih sadar dengan keadaan aku, Heru. Belum punya apa-apa sudah berani menyukai anak gadis orang? Malu tahu!" kata Toing.
"Iya, sih," saut Heru.
"Jangan-jangan kamu, Heru...menyukai Yuli!" kata Toing.
"Sebagai teman yang baik sih aku jujurlah, memang menyukai Yuli. Jadi kita rival mendapatkan cinta Yuli," kata Heru.
"Rival, ogah....rivalan urusan cinta nanti merusak pertemanan kita. Aku Ikhlasin aja Yuli untuk di dapetin kamu, Heru!" kata Toing.
"Aku dapetin Yuli, males ah. Ibunya galak banget. Aku ingin berjuang dulu mengubah nasif hidup ku, agar bisa menikmati hidup lebih baik dan mendapatkan cinta yang baik. Ya bisa menerima kekurangan dan kelebihan aku," kata Heru.
"Omongan mu, Heru...kaya orang yang sadar dari semua kesalahannya," kata Toing.
"Alhamdulilah...kalau aku sudah bilang sadar. Padahal kebodohan ku masih banyak!" kata Heru.
"Sudalah, jangan ngomongin kebodohan. Semua orang punya kebodohan ini dan itu, pada akhirnya belajar untuk pintar demi kebahagian dunia ini," kata Toing.
"Iya, Pak Ustad," saut Heru.
"Amin...aku di bilang Pak Ustad. Padahal belajar di pondok pesatren juga enggak, cuma nonton di TV...ya ceramah saja," kata Toing.
"Ya, aku tahu lah kebiasaan kamu, Toing demi hoby nonton TV....ya ceramah," kata Heru.
Heru, ya menikmati gorengan dan juga Toing.
"Oh, Iya Toing......jalan hidup kita kaya sinetron aja ya!!!"
"Kalau di pikirkan dan di rasakan...bener omonganmu Heru, jalan hidup kita kaya sinetron."
"Artis sinetron, ya kalau aku pikir sih aku suka siapa ya?"
"Elly Sugigi," kata Toing niat bercanda.
"Elly Sugigi, emang cantik sih...apalagi Keke," kata Heru mengikuti alur becandaan Toing.
Heru, ya menikmati makan gorengan begitu juga Toing.
"Aku, suka Nikita Willy...cantik sih. Gimana tanggapan kamu Toing?!"
"Nikita Willy. Cantik sih. Tapi seleranya aku Prilly Latuconsina, cantik..ya lucu gitu," kata Toing yang terus terang.
"Selera..cewek di sukai beda. Tetap aja makan kita sama, gorengan," kata Heru.
"Gorengan, nasif orang gak punya. Tetap aja obrolan tentang cewek menarik...menikmati hidup," kata Toing.
"Hidup, jauh lebih menarik cuma di obrolin aja!!! Bener omonganmu, Toing," kata Heru.
Heru dan Toing terus menikmati gorengan di piring sampai habis dan akhirnya masuk ke dalam kos-kosan untuk nonton TV.


0 komentar:
Post a Comment