I HATE YOU
Hai, namaku Handayani Brad Kyano. Aku kelas 10. Gue punya pacar. Namanya Amelia Putri Rahmat. Aku punya temen. Namanya Lala, Dhee dan Alifah. Walaupun nggak punya teman cowok 1 pun. Ya gue ikhlas-ikhlasin aja. Kalian jangan anggap gue playboy ya! Seumur hidup gue tuh nggak ngelakuin yang ‘gitu-gituan’ tau! Oke, kembali ke topik pembicaraan. Mari kita mulai ceritanya.
“Dani, keliling lapangan 2 kali!” perintah Bu Shelly.
“I.. i.. iya buuu” ucapku dengan terpaksa.
“Udah sabar aja bro” ucap Alifa menyemangatiku.
“Makasih ya Fa” ucapku.
Tapi ini memang salahku sendiri sih, pelajaran dimulai jam 7 kok aku sampainya jam 8. Hihihihi.
Setelah keliling aku pergi ke toilet untuk menghilangkan keringat. Setelah itu aku ke kelas. Okey, pelajaran setelah ini adalah Fisika. Pelajaran yang paling kubenci seumur hidupku.
Pak Prana pun masuk ke kelas.
“Selamat pagi anak-anak, hari ini buka halaman 19 dan kerjakan uji kompetensi nomor 1 sampai 50” ucap Pak Prana.
Seluruh isi kelas pun melongo mendengar perkataan Pak Prana.
‘Nomor 1 sampe 50, bagus juga tuh’ kataku dalam hati. Tak tahu apa yang sedang kupikirkan. Mungkin otakku mulai tak waras?
“Hei, bro lamunin apa sih?” tanya Dhee.
“Bukan apa-apa kok” ucapku senyam senyum sendiri.
“Kayaknya lagi ngelamunin Amel nih!” ucap Lala tiba-tiba.
“Iya, bener tuh!” timpal Alifa.
Pipiku langsung memerah.
“Tuh kan bener!” ucap Lala.
“Udah, makan yuk!” ucapku menyela.
“Ah, Dani gitu sih!” ucap Dhee.
“Apaan sih?” ucapku.
Kami pun ke kantin. Setelah itu kami ke kelas. Pak Yana masuk. Ini adalah pelajaran Biologi. Pelajaran kesukaanku.
Pulang sekolah aku menjemput Amel tapi apa yang kutemukan… Dia berpegangan tangan dengan cowok lain. Dan cowok itu juga merangkul Amel. Hatiku pilu dan sedih mengingat apa yang terjadi saat ini. Buru-buru aku pulang. Ketika sampai aku langsung menghapus chat dan nomor telepon dia. Aku benci dia! Bisa-bisanya dia mengkhianatiku. Apakah dia sekejam itu? Ternyata benar, kalau Alifa bilang dia akan mengkhianati siapapun yang menjadi pacarnya jika itu jelek.
Pagi harinya aku memutuskan untuk menyatakan cintaku pada Alifa.
“Lif aku suka sama kamu, ma.. mau nggak ka… ka.. kamu jadi pa.. pa.. pacarku” ucapku gugup.
“Mau kok” dia menjawab.
“Apakah kamu ng.. ng.. nggak akan ngekhianati aku lagi kayak amel dulu?” tanyaku.
“Nggak kok” jawabnya.
“Makasih” ucapku dan memeluknya.
“Sama-sama” ucapnya dan membalas pelukanku.
Aku sadar kalau aku sebenarnya sudah berjodoh dengan Alifa. Di saat umurku 20 tahun aku menikah dengannya dan mempunyai 2 anak.
Tamat


0 komentar:
Post a Comment