WIYANGGAH

Posted By Cerpen universal on Tuesday, October 27, 2020 | October 27, 2020

WIYANGGAH

Di sebuah Desa yang masyarakatnya masih menganut adat istiadat zaman dahulu, hujan masih saja mengguyur bumi pertiwi. Petir menggelegar disertai badai yang besar. Seorang wanita duduk di bangku tua dekat pintu. Pandangannya mengarah ke luar. Ruangan di dalam sangat gelap karena mati lampu. Ia terlihat kesal sesekali berdecak kesal. Jari jemarinya saling bertautan.

Merasa bosan, ia pun bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke dapur. Baru beberapa langkah, terdengar suara ketukan pintu. Wanita itu segera berbalik arah dan membuka pintu. Didapatinya seorang anak laki-laki berseragam merah putih yang sudah basah kuyup. Tangan kanannya memegang sepasang sepatu. Kemudian wanita itu membawakan handuk dan kain bekas untuk Serbet.

“Kamu dari mana saja, Noval? jam tiga sore begini baru pulang? Ibu khawatir, nak,” ucap wanita itu yang ternyata Ibu dari bocah berseragam merah putih itu.

Bocah kelas 6 SD itu menghela napas sambil berlalu menuj kamar mandi tanpa mempedulikan pertanyaan sang Ibu. Wanita itu bernama Yanti. Ia tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana bersama anaknnya, Noval dan Ayahnya yang sudah sakit-sakitan. Sudah tiga tahun ini ia menjanda.

Suaminya meninggal saat Noval msih berusia 9 tahun. Akibat memancing di pinggir sungai yang pada saat itu sungai sedang mengalami banjir. Ia jatuh dan tenggelam hingga terseret arus yang begitu deras. Sampai saat ini jasadnya belum ditemukan. Hujan di luar sana masih saja belum puas melaksanakan aksi terjunnya. Sebuah baskom yang tergeletak di ruang tengah itu kini sudah tak sanggup lagi menampung air yang sedikit demi sedikit turun melalui celah-celah genting. Noval pun menggantinya dengan sebuah ember kemudian baskom yang berisi air ia buang di kamar mandi.

“Val… Noval..,” panggil Kakeknya yang terbaring lemah di ranjang kamar. Noval yang mendengar panggilan dari Kakeknya bergegas menghampiri.

“Ya, Kek,” jawabnya.

“Sini tolong pijitin Kakek,” perintahnya. Noval menuruti permintaan sang Kakek.

“Tadi kamu pulang jam berapa?” tanya Kakeknya dengan suara yang serak. Sesekali diiringi dengan batuk yang terdengar begitu menyiksa.

“Pulang jam tiga kek,” jawab Noval.

“Kenapa pulangnya sore sekali?”

“Tadi Noval ada les buat ujian Kek.”

“Oh. Begitu ya. Kamu jangan coba-coba main di sungai ya.”

“Tidak kek, Noval tidak pernah bermain di sungai.”

“Nah, begitu baru cucu Kakek.”

“Memangnya kalau main di sungai kenapa?”

“Nanti kamu tenggelam seperti Ayahmu, mau? kasihan Ibumu nanti tidak ada temannya. Kakek kan sudah tua.”

Aroma telur goreng tercium sudah. Yanti menyiapkan makanan untuk Noval dan Ayahnya. Diletakkannya tiga buah piring di atas meja dan seperangkat alat makan lainnya. Yanti menghampiri anaknya yang berada di kamar sang Kakek. Ia menyuruh anaknya untuk makan lebih dulu.

Esok hari pun tiba. Matahari perlahan muncul di ufuk timur. Ayam jantan saling berkokok. Dedaunan yang mulai menguning secara bergantian berguguran. Buung-burung bertengger di ranting-ranting pohon. Mereka saling bersiul satu sama lain. Seorang bocah lak-laki seusia Noval dengan seragam batik yang ia kenakan, tas ransel yang digendongnya, serta sepatu yang ia pakai. Bocah itu menghampiri rumah Noval.

“Noval, berangkat Val,” teriak bocah itu. Ia berdiri di halaman rumah Noval.

“Sebentar Jhon!” teriak Noval dari dalam rumah.

Beberapa saat kemudian Noval ke luar dari dalam rumah. “Yuk!” ucapnya yang berarti mari kita berangkat.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Yanti harus menjadi tulang punggung keluarganya dengan bekerja di sebuah kebun teh milik lurah desa setempat. Meski penghasilan tak seberapa. Tak sedikit pula Ibu-Ibu menjadi pemetik teh seperti dirinya. Pekerjaan ini ia lakukan semata-mata demi menghidupi anak dan Ayahnya. Kala waktu menginjak tengah hari, semua pekerja pulang. Mereka berjalan beramai-ramai. Tampak jauh di sana seorang Bapak yang membawa cangkul serta mengenakan caping di kepalanya, berlari tergopoh-gopoh. Laki-laki itu berhenti di hadapan Ibu-Ibu yang tengah berjalan pulang. Napasnya tampak tak beraturan.

“Kenapa pak? kok lari-lari begitu?” tanya salah satu Ibu.

“Itu bu, di pinggir sungai ada mayat anak sekolah yang mengapung. Saya hendak mencari bantuan Bapak-Bapak yang lain,” Tukas laki-laki itu seraya berlalu mencari pertolongan.

Para Ibu-Ibu yang baru saja mendengar ucapan laki-laki tadi langsung berlari menuju sungai. Mereka semua resah. Takut jika mayat itu anak salah satu dari mereka. Begitu pun Yanti. Sampai di tepi sungai banyak orang berkerumunan. Yanti menerobos di antara orang-orang yang mengerumuni mayat yang telah tertutup daun pisang itu. Tangannya bergetar. Ia mencoba membuka daun pisang yang menutupi bagian kepala mayat tersebut. Namun wanita yang ada di depannya lebih dulu membuka daun pisang itu lebih dulu.

“Jhon!” Seru wanita yang tadi membuka daun pisang itu. Wanita itu menangis histeris. Dipeluknya mayat yang sudah terbujur kaku di hadapan orang banyak. Yanti menghela napas lega. Ia amat sangat bersyukur karena jasad itu bukan mayat anaknya. Yanti celingukan mencari-cari keberadaan anaknya. Ia paham betul dengan Noval. Dimana ada Jhon pasti di situlah ada Noval. Didapatinya sang anak bersama dengan kerumunan warga lainnya. Yanti menghampiri Noval.

“Wiyanggah telah memakan korban lagi,” ucap salah seorang yang berada di antara kerumunan orang paling belakang.

“Iya, apakah sesajen yang kita sediakan masih kurang?” ucap orang yang di sebelahnya.

“Kalau begitu kita harus memperbanyak sesajen. Supaya Wiyanggah tidak memakan korban lagi.”

Malam harinya, Noval dimarahi oleh sang Ibu. Ibunya memegang sebilah gagang sapu yang sudah patah. Sedangkan Noval duduk di atas kursi tua sambil menunduk.

“Kenapa pulang sekolah tadi kamu ada di sungai?” tanya Yanti. Suaranya tak lagi besahabat. Artinya ia sedang marah.

“Tadinya aku dan teman-teman ingin mencari ikan Bu.”

“Ngapain kamu cari ikan, ha?! Ibu bisa membelikan kamu ikan di pasar. Asal kamu jangan ke sungai!” bentak Yanti.

“Lihat temanmu Jhon, kan? apa kamu mau jadi tumbal seperti dia?!” lanjut Yanti. Noval menggeleng pasti.

“Besok, kalau kamu masih berani ke sungai Ibu tidak segan-segan memberi hukuman,” ancam Yanti.

Setelah semua sedikit reda, dan Ibu Noval sudah lelah memaki anaknya, ia menuju kamar Kakeknya. Noval diceritakan semua tentang Wiyanggah oleh Kakeknya. Semenjak saat itu, Noval tahu bahwa Wiyanggah dulunya merupakan sang Nenek yang di bunuh oleh beberapa preman dan kepalanya dibuang di sungai. Kata warga sekitar, arwahnya penasaran. Dan, sejak saat itu, Noval tidak pernah bermain di sungai lagi.

The End
Blog, Updated at: October 27, 2020

0 komentar:

Post a Comment