THE LONELY
“2 am where do I begin? Crying of my face again, the silent sound of loneliness, want to follow me to bed, I’m a ghost of a girl that I want to be most, I’m the shell of a girl that I used to know well.” Lagu itu terus berputar di playlist ku entah kenapa rasanya lagu itu sangat pas dengan keadaanku saat ini. Ahh sudahlah lupakan
Namaku Rahmi Ramadhani biasa aku dipanggil Rara, saat ini aku kelas 2 SMA di sekolah ternama di daerahku, aku gadis yang terlahir di keluarga yang sederhana. Malam itu aku tak bisa tidur, jam sudah menunjukkan pukul 02:00 wib padahal semua sudah ku lakukan baca buku, novel, komik semua sudah ku baca sampai berulang-ulang akhirnya aku hanya bisa terdiam. Tak ku dengar suara apapun hanya kesunyian dan kesendirian, tiba-tiba ada rasa gelisah yang berkecamuk, seperti ada yang mengawasiku dari kejauhan.
Aku mulai takut, ku tarik selimut dan membaca ayat-ayat untuk menenangkanku. Akhirnya aku tertidur pulas. Paginya aku terbangun, aku bingung karena aku tidur di pinggir kasur seolah-olah ada yang tidur di sampingku semalam. Aku pun bergidik merinding tapi tak kuhiraukan, aku bergegas ke kamar mandi, air terus mengalir ke atas kepalaku yang bersumber dari shower sambil memejamkan mata aku menikmati dinginnya air tetapi tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang tampak di pejaman mataku seorang gadis yang ku kenal tapi entah siapa. Aku mulai mempercepat gerakan mandiku.
Aku pun bersiap-siap untuk ke sekolah, sebenarnya aku benci dengan kata “sekolah” seolah-olah seperti sedang mengalami mimpi buruk saat ada di sana, bukannya apa tapi karena aku benci orang-orang yang ada di sana mereka semua egois itulah alasan kenapa aku membencinya, di sekolah aku juga terkenal dengan “penyendiri”, ya inilah aku tapi sebenarnya aku adalah orang yang introvert tapi kebanyakan dari mereka malah menganggap aku asosial. Tapi aku punya seorang sahabat yang selalu menemani aku dalam keadaan apapun. Sesampainya di sekolah, Yura menyapaku.
“Woy, lama banget jam segini baru datang,” ketusnya.
“Yaelah lagian kalau dateng cepet mau ngapain juga,” timpalku.
“Ya udah ke kelas yuk,” ajaknya.
“Gak ahh kekantin aja dulu, males gue ketemu anak-anak,” balasku.
“Ya udah, ayo deh,” balasnya pasrah.
Selama perjalanan mau ke kantin aku melihat seorang gadis yang mirip dengan bayanganku sewaktu mandi tadi, karena penasaran akhirnya aku tanya sama Yura.
“Yu, lo kenal gak sama cewek itu,” tanyaku sambil menunjuknya.
“Yang mana sih ra?” jawabnya bingung.
“Yaelah itu yang lagi duduk di aula,” kesalku.
“Eh lo udah bangun apa masih mimpi haa? Jelas-jelas gak ada siapa-siapa kok di sana!” timpalnya.
Aku pun kaget atas jawaban Yura, aku tak mungkin salah lihat, bahkan sekarang gadis itu menatapku sinis, aku pun menatapnya. Yura mengagetkanku aku pun menoleh ke arahnya.
“Woy, lihat apaan sih, udah ah ayo ke kantin, keburu bel nih,” ajaknya.
Aku pun menoleh kembali ke aula tapi lagi-lagi aku dibuat bingung karena gadis itu sudah menghilang.
“Ya udah, ayo yuk,” ajakku kepada Yura karena mulai merinding.
Sesampainya di kantin aku pun memesan lemon juice untuk menenangkanku, sambil menikmati juicenya aku melamun memikirkan gadis tadi. Tiba-tiba bel masuk berbunyi, aku dan Yura pun masuk kelas. Pelajaran pun berlangsung dengan sangat membosankan. Aku tak memperhatikan apa yang guruku terangkan, padahal aku tahu saat ini si guru killer yang mengajar. Akhirnya guru killer itu menghukumku dengan mengusirku ke luar dan tidak boleh mengikuti pelajarannya. Aku tak membantah melainkan senang karena tak perlu mendengarkan ocehannya.
Aku pun ke luar dengan senang hati. Aku pun berdiri di luar kelas, pikir-pikir bosan juga lama-lama berdiri begini. Tiba-tiba aku melihat gadis itu lagi sedang duduk di bangku taman sekolah, sebenarnya aku bingung apa yang dilakukannya pada saat jam pelajaran aktif begini di sana. Apa dia juga dihukum? Karena rasa penasaranku yang besar akhirnya aku menghampirinya.
Aku ikut duduk di sampingnya, aku tanya ke dia apa yang dilakukannya di sini, tapi dia hanya diam tak berbicara. Aku pun merasa canggung, takut keberadaanku mengganggunya, kami hanya saling diam. Tiba-tiba terdengar bunyi bel istirahat, aku mencoba mengajaknya ke kantin, lagi-lagi dia hanya diam. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh seseorang, yaa Yura dia mengagetkanku dari belakang.
“Woy ngapain lo sendirian di sini?” tanyanya.
“Aissh lo mah ngagetin aja, sendirian mata lo picek jelas-jelas gue lagi sama…,” kata-kataku terhenti sadar bahwa gadis itu sudah tidak lagi di sampingku.
“Sama siapa? jelas-jelas dari tadi gue lihat lo sendirian, bahkan sejak tadi gue masih di kelas gue ngintip dari jendela lo sendirian tuh, dasar halu lo!” timpalnya.
Aku makin bingung dengan rangkaian peristiwa ini, tiba-tiba perutku keroncongan, akhirnya kami ke kantin. Setelah itu kami masuk ke kelas, kali ini pelajaran yang aku suka, jadi aku tak neko-neko dan bertingkah aneh. Aku mengikuti pelajaran dengan baik, lalu tibalah bel pulang sekolah. Semua berteriak gembira karena telah merdeka dari pelajaran. Begitu juga dengan aku, aku pun ke parkiran sekolah.

0 komentar:
Post a Comment