ASRAMA LILY 3

Posted By Cerpen universal on Monday, October 26, 2020 | October 26, 2020

ASRAMA LILY 3

Namaku Veila Laisha. Saat ini, aku tengah menjalankan pendidikanku ke tingkat perguruan tinggi. Aku bersyukur dengan apa yang telah ku capai hingga aku dapat masuk ke perguruan tinggi favoritku di sentral kota. Aku meninggalkan rumah, mencari asrama yang dekat dengan kampusku. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Hujan rintik-rintik semakin menderas, membuat bulu kudukku merinding. Dingin, sunyi dan gelap. Ku lajukan terus mobilku menerobos barisan air hujan yang belum berhenti. Tiba-tiba, ku lihat seorang perempuan memakai pakaian tidur tengah berdiri di depan mobilku. Ku hentikan laju mobil ini tepat di depan tubuhnya.

“Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Syukurlah kalau kau tidak apa-apa.” Perempuan itu mendongak ke arahku dan tersenyum miring. Deg! Aku tersentak, rasanya wajah perempuan ini tidak asing bagiku. Ah, tapi siapa? Kenapa aku tidak mengingatnya? Tatapannya sayu, bibirnya bergetar, wajahnya pucat ditambah dengan air hujan yang membentur tubuhnya. “Aku Lily, Velia! Apa kau masih ingat aku?” tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku tersentak kaget sekaligus bingung. Lily? Siapa dia?

“Maafkan aku, Lily. Namun aku memang benar-benar tidak ingat, maukah kau memberi petunjuk agar aku mengingatmu kembali?” ku lihat Lily yang menatapku sedih. Sambil bercucuran air mata, Lily menceritakan semua padaku. “Aku Lily, sahabatmu sewaktu kita masih berseragam putih biru! Kau tidak ingat? Aku pindah ketika akan naik ke kelas tiga!” Ah, sekarang aku baru ingat. Dahulu, kami bersekolah di Sekolah Menengah Pertama yang sama. Kami sangat dekat. Namun, dia pindah ketika akan naik ke kelas tiga. Semenjak itu, aku tidak pernah melihatnya lagi.

“Ah, Lily! Kau ke mana saja? Sudah lama kita tidak bertemu!” Ku peluk erat tubuhnya yang basah, dingin, dan kaku. Aneh, kenapa dia hujan-hujan seperti ini ke luar? Lily membalas pelukanku dengan gemetar. “Kenapa kau membiarkan hujan membasahi tubuhmu? Ayo, cepat, masuk ke mobilku!”

Di perjalanan, aku merasakan perasaan tidak enak. Lily terus saja diam seribu bahasa. Ku coba untuk mengajaknya bicara. “Lily? Kenapa kau hujan-hujan di luar?” Lily tersenyum tipis.

“Aku menunggumu, Velia! Aku rindu kepadamu, dan aku sudah merasakan bahwa kau akan datang ke sini!” jawabnya datar namun terasa sangat tulus.

Mobilku berhenti tepat di depan asrama dua tingkat yang terlihat sunyi. Ada papan kayu bertuliskan “Asrama Lily 3” di kanan pagar masuk. Aneh, nama asrama ini sama dengan nama Lily. Bangunan asrama ini terlihat kuno, tua, dan berkabut. Remang-remang cahaya dari lilin-lilin putih besar menyinari hampir tiap sudut asrama. Aku turun dari mobil, segera mengambil langkah. Mengikutinya yang berjalan terlebih dahulu.

“Ini Asrama Lily 3, aku sudah tinggal lama di sini!” Aku mengangguk paham.

“Ini kamarmu, Velia. Silakan nikmati fasilitasnya. Aku tinggal sendiri di sini, Velia.”

“Baiklah, Lily! Terima kasih, ya. Untung saja ada kau di sini, jadi aku tidak bingung mencari penginapan!” ujarku. Lily mengangguk dan segera meninggalkanku.

Matahari memunculkan sinarnya. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba menyesuaikannya dengan cahaya yang masuk. Segera ku bersiap untuk kuliah. Ini hari pertamaku.

“Lily, aku berangkat ya!” Lily tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Sampailah aku pada kampus baruku yang hijau dan indah. Bangunan yang terlihat kokoh, bercat abu-abu hitam.

“Hai, siapa namamu?” seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh, terlihat dua orang pemuda dan dua orang perempuan tengah tersenyum ke arahku.

“Hai juga, namaku Velia Laisha, kalian bisa memanggilku Velia,” jawabku sambil tersenyum.

“Aku Hana. Ini Dion, ini Rissa dan ini Yuan dari China,” Aku mengangguk dan menjabat tangan mereka satu-persatu.

“Kau tinggal di mana, Velia?” tanya Dion.

“Di Asrama Lily 3,” jawabku. Mereka saling menatap bingung.

“Kau tidak salah alamat, Velia? Setahu kami, tidak ada nama asrama seperti itu!” Aku kaget sendiri.

Ah, masa iya? Tapi aku tidak menghiraukan kata-kata mereka. “Sudahlah, ayo kita masuk saja,” ajakku.

Panas terik terasa membakar kulitku, segera ku kendarai mobil dan pergi dari lingkungan kampus. Sampai di asrama, ku lihat Lily yang tengah duduk di teras.

“Lily? Kenapa ada di sini?” tanyaku. Lily mengajak masuk dan duduk di kursi jati tua.

“Velia, apa kau pernah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati oleh sahabatmu sendiri?” aku menggeleng heran.

“Lalu apa yang kau rasakan? Kebahagiaan? Kesenangan dalam hidup sepanjang waktu hingga kau melupakan seseorang yang dahulu dekat denganmu?” Mataku membulat, melihat ke arah Lily yang berbicara aneh.

“Aku tidak mengerti, Lily. Apa maksudnya?” Lily menjawab.

“Aku telah menghilang dari dunia ini, Velia! Aku sudah mati karenamu!” Aku menutup mulutku dengan kedua tangan.

“Tega, kau Velia! Kenapa kau meninggalkanku? Aku sahabat yang tak pernah kau anggap! Aku kecewa padamu. Sebegitu lupakah kau terhadapku? Aku dan keluargaku dibunuh secara brutal di dalam rumah baru kami sendiri, Velia! Aku telah membalaskan dendamku pada penjahat itu, tapi belum denganmu!” Lily dengan air mata yang semakin menderas, dia semakin mendekat ke arahku dan mencoba menancapkan pisau lipatnya ke dadaku.

“Lily, aku mohon jangan kau lakukan itu! Kau sahabat baikku, Lily! Apa kau tidak mengingatnya? Aku ingat ternyata kita telah melalui semua kenangan itu selama 2 tahun lalu. Aku rindu, aku coba mencari kabar tentangmu tapi tidak ada yang tahu!” Aku menjerit sekuat mungkin. Aku sangat ketakutan dan histeris. Lily sahabat baikku dahulu, telah menjadi hantu yang mempunyai dendam meluap terhadapku. Tiba-tiba, dia berhenti dan memelukku erat.

“Aku pikir kau melupakanku, Velia! Maafkan aku,” tangisku semakin menjadi-jadi.

“Aku tidak akan melupakanmu, Lily! Meskipun kau telah tiada, kau akan selalu menjadi sahabatku,” Aku menangis memeluknya, tak sadar aku sampai tertidur.

Setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Hujan rintik-rintik kembali turun. Membasahi tanah dengan nisan bertuliskan nama sahabatku. Membasahi tubuhku, bercampur dengan aliran air mata. Aku haru. Selamat jalan, sahabatku tersayang. Aku harap kau bahagia di SurgaNya. Aku tidak akan melupakanmu, percayalah. Aku pergi ya, Lily. Aku harus segera mencari asrama baru. Asramanya akan ku bersihkan. Hujan telah berhenti dengan sempurna. Begitu pula dengan air mataku. Pakaian terakhir telah ku masukkan dalam koper. Ku perhatikan setiap sisi asrama ini. Tempat sahabatku menghembuskan napasnya yang terakhir. Tempatnya menghabiskan sisa umurnya dengan cara tragis.

Sekarang dia telah tenang. Tidak ada lagi masalah antara kami. Tidak ada lagi kesalahpahaman itu. Semua sudah berakhir. Perlahan, asrama itu menghilang dan berganti menjadi tanah dengan rerumputan. Di antara rimbunan pohon akasia yang menghias taman kampusku, ku lihat wajah bahagianya tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Aku pun membalas senyum dan lambaian tangannya. Perlahan, sosok itu menghilang seiring dengan mahasiswa-mahasiswi baru yang mulai berdatangan.
Blog, Updated at: October 26, 2020

0 komentar:

Post a Comment