THE LAUGHING CORPSE

Posted By Cerpen universal on Friday, October 30, 2020 | October 30, 2020

THE LAUGHING CORPSE

“Brarr.. Brarr!!”

Terdengar suara petir yang saling menyambar. Kilatnya terlihat sangat menakjubkan namun menakutkan. Aku yang sedang duduk di kursi, perlahan terbuai rasa kantuk yang hebat. Musim hujan seperti ini memang sangat tepat untuk, ‘berhibernasi’.

“Marc!!” bentak seseorang yang berseragam sama sepertiku. Dialah Fredd rekan sepekerjaanku.

“Huhh.. Kau ini! Membuatku kaget saja,” gerutuku sambil memukul pelan lengan kanan Fredd.

Dia hanya tertawa usil karena melihat reaksiku yang konyol saat digubris tadi.

“Hahaha.. Kau ini, tidur saja kerjaanmu. Ini lihat! Aku mendapat info dari pacarku,” ucap Fredd menunjukkan ponsel pintarnya yang berisi pesan singkat dari kekasihnya, Bertanya. Ku usap-usap mataku karena masih terasa buram, lalu ku baca dengan perlahan dan seksama.

“Hei! Ini bagus! Ternyata pacarmu itu memang berguna,” ujarku dengan nada bahagia. Fredd hanya menunjukkan ekspresi belagunya sambil mengotak-atik ponselnya.

“Bagaimana kalau sekarang kita cepat-cepat bergegas kesana Fredd,” ajakku sambil meminum Cappucino yang hanya tinggal setengahnya lagi.

“Mmm.. Baiklah sebelum wartawan lain lebih dulu ke sana. Bettany bilang, belum ada wartawan yang ke sana,” ujar Fredd dengan perlengkapan kamera yang sudah lengkap. Tanpa banyak bicara lagi. Kami berdua pun bergegas menuju lokasi kecelakaan yang menurut kekasih Fredd bilang sangat parah, dan belum terjamah media.

Sesampainya di sana, ku lihat memang sangat parah. Aku dan Fredd sampai bergidik ngeri menyaksikan puing-puing bekas kecelakaan dua mobil besar yang sepertinya saling tertabrak ini. Aku dan Fredd berjalan perlahan mendekati puing-puing itu. Kerumunan polisi pun perlahan mulai meninggalkan lokasi dan terdengar seorang polisi berkata bahwa insiden ini sudah usai ditangani. Kami pun akhirnya berkesempatan mewawancarai salah seorang pimpinan polisi tentang kronologis kecelakaan ini.

Usai mewawancarai, kami pun tersenyum puas karena kamilah media yang pertama kali meliput insiden kecelakaan ini.

“Fredd, kita kembali ke kantor untuk melaporkan ke pimpinan,” ucapku sambil melihat hasil wawancara di kamera yang dipegang Fredd.

“Baiklah,” ujar Fredd. Tapi, tiba-tiba pandanganku terarah ke sebuah bangkai mobil bagian depan. Ku perhatikan, ternyata ada sebuah tangan terkulai bersimbah darah. Aku pun mengajak Fredd untuk memastikan itu apakah ada mayat yang tersisa.

“Marc.. Ini memang mayat, ayo kita bantu keluarkan,” ucap Fredd sambil menaruh kameranya.

Aku hanya menganggukkan kepala lalu bahu-membahu mengeluarkan mayat yang terjepit itu. Awalnya aku merasa takut dan ngeri, tapi perasaan ibaku mengalahkan ketakutanku. Kami akhirnya berhasil mengeluarkan mayat itu dari dalam kap depan mobil yang sudah tak karuan lagi bentuknya. Aku dan Fredd pun menghela napas karena tak mudah mengeluarkannya. Fredd lalu hendak mengambil kameranya sementara Aku sibuk menggunakan ponsel untuk menelepon polisi. Sebuah tawa tiba-tiba saja menghentak dan mengagetkan kami. Dengan perlahan kami pun menoleh ke arah belakang, di mana mayat yang tadi kami keluarkan tergeletak di sana.

“Hehehehe.. hehe.. hehehe.. haaahaahaa,” suara tawa itu muncul dari mulut mayat itu yang sudah hancur, penuh darah dan tampak tak sedap dipandang mata. Seketika darah kami seolah membeku dan berhenti mengalir. Tubuh serasa sulit untuk digerakkan dan mulut ini terasa kaku tak dapat berucap sepatah kata apapun. Aku memandang Fredd yang tampak memucat penuh keringat. “Hehehe.. hehehe..” tawa itu kian membesar seolah memecah heningnya malam. Entah kekuatan dari mana aku dan Fredd pun akhirnya bisa berlari dan menjauhi tempat itu.

Gemetar!
Terkejut!
Trauma!

Semenjak kejadian itu, aku berhenti bekerja sebagai seorang wartawan dan ku putuskan untuk pindah ke Kota seberang dan mencari pekerjaan lain di sana. Sementara Fredd, dia sangat menyedihkan. Ku dengar dari Bettany, ia kini dirawat di rumah sakit khusus kejiwaan. Dia bahkan enggan berbicara pada siapapun termasuk Bettany. Dan jika mendengar suara tawa, Fredd bertingkah aneh dan histeris. Separah itukah Fredd teman sekaligus mantan partnerku saat kerja dulu. Aku sangat terpukul mendengarnya. Saat ku jenguk ke rumah sakit tempat ia dirawat. Dia langsung memelukku erat dan berbisik.

“Tawa itu.. Tawa itu.. Selalu terngiang di kepalaku.. Marc.. Aku takut sekali.. ”
Blog, Updated at: October 30, 2020

0 komentar:

Post a Comment