PERBEDAAN

Posted By Cerpen universal on Friday, October 30, 2020 | October 30, 2020

PERBEDAAN

Aku sendiri di dunia ini, sendiri bukan berarti tidak ada orang di sekitarku, jiwakulah yang sendiri, sendiri dalam kerumunan banyak insan. Temanku hanyalah kesepian, dan hidupku adalah kehampaan. Semuanya berawal ketika terbangunnya aku di sebuah dunia hitam pekat nan gelap, aku tak dapat merasakan apapun di dunia itu. Aku merasa seperti mati, karena ‘dia’ saat ini sedang mengambil alih tubuhku. Dia adalah aku, aku adalah dia, jiwa kami sama, tetapi kepribadian kami bertolak belakang, dia yang lebih sering muncul ke permukaan. Aku hanya bisa termangu di dunia kegelapan tanpa batas ini, aku sama sekali tak menemukan secercah cahaya.

“Jane, bangun! ini sudah pagi!” Seru Ibuku dari lantai dasar.

“Tunggu, Ibu.. Sebentar lagii.. 5 menit!” Jawabku asal seraya menarik selimutku kembali.

Hari pertamaku sekolah memang membuat massa tubuhku terasa berkali-kali lebih berat dari biasanya, akibatnya aku kesulitan bangkit dari kendaraan pengantar mimpi. Pintu diketuk, aku kembali terlelap dalam tidurku. Suara Ibu pasti akan naik beberapa oktaf lagi. “Jan..” Ucapan Ibuku terpotong karena sudah melihat aku terbangun, tidak… itu bukan aku, melainkan dia. “Ibu? ada apa? aku sudah bangun kok.. hari ini adalah hari pertama masuk sekolah! aku sangat bersemangat!” ucap dia dengan senyuman lebar di bibirnya.

Oh sial.. kenapa dia selalu melakukan sesuatu yang bertolak belakang denganku? Aku kini yang berada kembali dalam kegelapan, kesadaranku yang sirna kini kembali menyatu seolah semuanya terlewat begitu saja. “Ibu.. aku akan mandi..” Aku mengucapkannya seraya melompat masuk ke dalam kamar mandi.

“Perilakumu aneh, hari ini,” komentar Ibu datar.

Ibu, tak bisakah engkau melihat perbedaanya? Dia itu bukan aku! Bahkan dia sama sekali tidak mirip denganku, kenapa Ibu tidak bisa membandingkannya? Ibu kembali ke lantai dasar, dengan raut wajah khawatir sekaligus heran. Aku menghabiskan roti selaiku dengan lahap karena aku kelaparan semenjak malam, semalam aku tertidur larut karena mengerjakan tugas yang rasanya sungguh berat ku lakukan, tapi entah kenapa tugas itu tiba-tiba selesai, aku tak sadar aku mengerjakannya dengan cepat, mungkin itu adalah ‘dia’. Tak terasa sarapan itu berlalu dengan cepatnya, aku menyalami tangan Ibuku, dan Ayahku, sedangkan Kakakku dia sedang bekerja di sebuah kedai roti.

Aku menaiki angkutan umum dan sampai di sekolah baruku, sekolah ini tidak buruk juga, bangunannya tertata rapi, tamannya terawat dan asri, dan ada sebuah pohon besar terletak di tengah taman itu, aneh sekali ada pohon sebesar itu ada di taman kecil. Aku tak menghiraukannya dan kembali berjalan. Kakiku melangkah naik menuju lantai dua dan menyusuri koridor menuju kelas baruku, aku mengetuk pintu kelas baruku. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu dan tersenyum menatapku.

“Kamu, anak baru itu ya? silahkan masuk,” tanyanya seraya mempersilahkanku masuk. Tanpa menjawab aku masuk ke dalam kelas dan memperkenalkan diri.

“Namaku adalah Jane Stargate, senang berkenalan dengan kalian..” Perkenalan singkat itu tidak mempengaruhi suasana kelas yang tetap hening, perkenalan yang buruk.

“Silahkan duduk saja, nak,” ucap wanita itu yang tidak lain adalah guru di kelas ini.

“E-ehehe.. b-baiklah bu.. maaf karena tiba-tiba mengenalkan diri tiba-tiba seperti itu,” ucapku gugup, aku berjalan menuju kursi kosong dan duduk di kursi kedua.

Aku memeriksa tasku, betapa malangnya diriku, aku tidak membawa alat tulis sama sekali! Dasar Bodoh!

Tiba-tiba, seorang anak laki-laki menyodorkan sebuah pulpen dari depan.

“Hey, namaku Mikael, ini aku pinjamkan pulpen untukmu,” ucap anak yang bernama Mikael itu. Aku menerimanya dengan senang hati, dan tersenyum kepadanya.

“Terima kasih,” ucapan terima kasih terlontar dari mulutku. Aku malu menerima bantuan dari orang yang baru ku kenal hari ini.

Aku melewati pelajaran demi pelajaran dengan malas, saat bel istirahat berdering, aku memejamkan mataku dan perlahan terjun ke dunia mimpi. Sungguh damai, di kegelapan mencekam ini. Hening, tanpa ada apapun, tiba-tiba aku melihat setitik cahaya, dan perlahan cahaya itu membesar.

Terlihat dua sosok sedang menantiku dari cahaya tersebut, itu adalah Kakakku Elbereth dan satunya adalah, Mikael. Kami bermain dengan akrab layaknya sahabat yang baru bertemu lagi setelah sekian tahun berpisah, momentum itu terasa sangat nyata, indah sekali. Pertama kalinya dalam hidupku aku dapat merasakan kehangatan dari orang-orang yang menyayangiku. Perlahan aku kembali tersadar, itu bukan mimpi kan? aku yakin itu bukan mimpi, kejadian itu bisa diingat olehku sepenuhnya, aku mengingat seluruh kejadian indah itu. Tapi, kini apa yang terjadi padaku? aku ada di sebuah ruangan putih, hanya ada satu meja, kursi. Aku memakai jaket putih pengikat dan didudukkan di sebuah kursi. Apa yang terjadi sebenarnya?

Apakah, yang aku alami tadi adalah kejadian di dunia kegelapan itu? Seorang lelaki yang terlihat seperti dokter memasuki ruangan yang ku tempati, dia mengambil kursi dan duduk di hadapanku. “Apa yang terjadi pak? kenapa aku ada di sini?” tanyaku pada pria tersebut.

“Namaku adalah Clef, aku dokter yang ditanggungjawabkan untuk merawatmu, kenapa kamu ada di sini karena…” Dokter Clef bercerita apa yang menyebabkan aku berada di sini.


Dia membacakan puisi di depan kelas dengan sangat indahnya, dia sangat percaya diri, berbeda denganku yang penakut dan pemalu, ini perbedaan yang benar-benar jauh berbeda, layaknya hitam dan putih. Wajah datarnya memikat hati banyak pria di kelasku. Dengan percaya diri, dia kembali ke tempat duduknya dan Mikael menawarinya sebuah tos.

“Hey! kau sangat hebat, tos!” Seru Mikael.

“Aku tidak mau,” tolakan pedas terlontar dari mulutnya. Mikael tampak kecewa dengan tolakannya.

“Yah, sayang sekali.. sifatmu tiba-tiba berubah, ada apa?” tanya Mikael penasaran.

“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawabnya dengan nada datar, dia benar-benar berbeda.

“Kamu benar-benar berbeda dari sebelum bel istirahat,” sahut Mikael.

“Memangnya kenapa?” Tanyanya.

“Aku hanya heran saja,” jawab Mikael singkat.

“Kamu tidak berhak untuk heran,” ucapannya semakin aneh.

Dia perlahan meraih pena yang Mikael pinjamkan kepadaku lalu menusukkan ujung penanya ke mata Mikael. Mikael menjerit kesakitan karena retina matanya ****** ********* oleh ujung pena berlumur tinta. Mikael mengerang-erang, murid-murid berhamburan ke luar kelas dan histeris karena apa yang dilakukannya pada Mikael. Guru bahasa Indonesia berusaha menghentikannya, tapi dia meraih gunting dan ******* kerongkongan sang guru dengan brutal. Mikael tersungkur, kehabisan darah. Dia **************** ujung penanya ke kedua mata Mikael.

Saat itulah Elbereth datang, dia hendak membawakanku bekal yang aku tinggalkan. Dia berlari menuju Elbereth dan *********** telinga kanan Kakakku. Oh, gadis itu, membunuh Kakakku. Elbereth tak sanggup melawan, Dia ************ satu persatu jari tangan dan kaki Elbereth, aku tak sanggup membayangkannya lagi, dan…

Dia Adalah Aku!

Oh sial, air mata terus mengaliri kedua pelupuk mataku. Aku tak sanggup menahan embun di mataku, Dr. Clef menghentikan ceritanya, aku menangis sejadi-jadinya, teman baruku yang bahkan baru ku kenal beberapa jam lalu, guru yang telah mengajar murid, Elbereth.. Kakakku satu-satunya, dibunuh olehnya. Si Alter Ego sialan yang menggaungi tubuhku selama ini. Aku tak sanggup menahan derita ini, hukuman yang dijatuhkan kepadaku adalah hukuman mati.

Dia yang berbuat tapi aku yang harus memanggul hukuman ini, bahkan aku tidak sadar dengan kejadian itu. Seharusnya aku tidak dihukum bukan? Seharusnya aku dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena bukan aku yang melakukannya, melainkan dia. Aku dihukumi tembak hingga mati, peluru demi peluru menembus jaringan tubuhku. Secara perlahan dan rasa sakit yang teramat sakit, aku mati. Dunia memang tidak adil bukan?
Blog, Updated at: October 30, 2020

0 komentar:

Post a Comment