PUCUK KEMUNING

Posted By Cerpen universal on Wednesday, November 18, 2020 | November 18, 2020

PUCUK KEMUNING

Pulang kerja Burkat segera memacu sepeda motornya dengan kencang, maklum dia ingat kalau hari ini dia hampir melewatkan janji untuk mengantar istrinya pergi melihat pasar malam di lapangan dekat kantor kecamatan bersama anak laki-laki dia satu-satunya yang berumur 3 tahun. Apalagi pekerjaan di kantor lagi padat-padatnya jadi ia pulang agak terlambat. Sebenarnya dia agak sungkan dengan istrinya dikarenakan beberapa hari belakangan ini banyak janji-janji yang tidak bisa dia tepati lantaran banyaknya pekerjaan.

Perjalanan menuju rumah dirasa Burkat sangat panjang dan lama, dia membayangkan wajah istrinya yang Nampak kecewa namun dibuat seanggun mungkin lantaran janji yang dia buat tak terlaksanakan lagi. Waktu sudah beranjak gelap ketika Burkat memacu sepeda motornya, sialnya jalan yang dilalui ditutup lantaran ada warga yang menggelar hajatan nikah. Ia pun mencari jalur alternatif untuk pulang, Meski sudah bertahun-tahun Burkat ditugaskan di pedalaman desa Kaitmoaja yang terletak di kaki gunung Gandaragen namun sebenarnya dia tidaklah terlalu paham mengenai seluk beluk wilayah tersebut.

Mulailah Burkat memasuki kampung-kampung desa Kaitmoaja, selama perjalanan Burkat tidak memiliki firasat buruk apapun. Dan perjalanan panjang pun dimulai. Tak terasa hari sudah semakin gelap, adzan Isya terdengar sudah berkumandang. Burkat memutuskan untuk istirahat sejenak di masjid sekaligus menunaikan sholat isya. setelah selesai sholat, ia pun melanjutkan perjalanan. semakin jauh ia melaju semakin larut malam yang menemani perjalanan.

Yang semula di awal perjalanan suasana di dalam kampung begitu ramai dan penuh canda tawa dan nyanyian anak-anak yang sedang bermain di teras teras rumah, kini suasana itu perlahan-lahan beruba menjadi suasana sepi dan senyap. Kini Burkat sadar kalau saat ini dia sedang tersesat, ia sudah mulai jauh meninggalkan kampung Kaitmoaja dan memasuki area persawahan penduduk yang luas membentang, dari kejauhan lolongan anjing liar terdengar bersautan semakin membuat bulu kuduk jadi merinding. Burkat yang di awal-awal perjalanan merasa biasa biasa saja kini perlahan-lahan mulai dihinggapi rasa takut.

Tiba-tiba kendaraan yang dinaikinya lampunya mendadak padam, rasa panik dan was-was semakin menjalar di tubuhnya, lebih-lebih langit tampak galap, bintang-bintang tak menampakkan keberadaannya karena tertutup awan dan sepertinya akan memuntahkan hujannya sebentar lagi, belum sempat rasa cemasnya hilang apa yang dikhawatirkan Burkat terjadi, hujan turun mengguyur sangat lebat.. Burkat memacu kendaraannya di tengah malam yang gelap gulita dengan jantung yang berdebar-debar tak menentu, dia berharap mudah mudahan dalam perjalanannya dia bisa menemui rumah penduduk untuk sekedar berteduh atau untuk membetulkan lampu sepedanya yang rusak.

Dan untunglah dari kejauhan terlihat ada sepercik cahaya lampu terlihat, suatu pertanda ada pemukiman penduduk. “Allhamdullilah.. Akhirnya sudah terlihat pemukiman…” Guman Burkat di dalam hatinya. Kali ini hatinya sedikit lega, setelah semakin dekat ternyata itu hanyalah sebuah rumah yang sangat sederhana sekali atau lebih tepatnya kalau disebut Gubuk, letaknya tepat di sudut tikungan di bawah pohon Asam yang Besar.

Untuk menenangkan suasana Burkat memutuskan untuk singgah sejenak. Burkat mengetuk pintu rumah, tidak seberapa lama keluarlah seorang gadis yang sangat cantik. Burkat sangat terperanjat sekali, gadis itu wajahnya sangat-sangat cantik, umurnya sekitar 17 tahuan, rambutnya hitam lurus, dan senyumannya sangat manis. Gadis tersebut menyambut Burkat dengan ramah tamah, dengan logat khas Kaitmoaja.

Burkat numpang permisi untuk benerin lampu motornya yang padam, saat benerin kendaraannya iseng iseng ia bertanya pada gadis cantik tersebut, “Tinggal sendirian mbak, apa gak takut?”, si gadis menjawab “Saya tinggal sama nenek saya. itu nenek saya pak”.

Burkat kaget bukan kepalang, hampir-hampir saja dia terlonjak dari tempat dia, sejak kapan ada orang yang berdiri di bawah pohon besar itu. padahal sadari tadi waktu masuk Burkat lewat dari arah yang sama dan sekitarnya hanya pohon besar.

Kembali perasaan cemas merayapi tubuh Burkat, pun demikian ia berusaha untuk tetap setenang mungkin, ya sudah lah Burkat tidak terlalu menghiraukannya, ia memaksakan senyumya agar mau muncul guna menyapa Nenek tadi, namun sang Nenek hanya diam dan expresinya sungguh sangat datar…

Setelah selesai membetulkan lampu sepedanya, Burkat numpang ijin istirahat di teras sebentar sambil menunggu hujan reda, entah karena terlalu letih atau suasana hujan yang membuat suasana jadi damai, tanpa disadari Burkat tertidur.

Ketika ia terjaga ia melihat jam tangannya, tepat pukul 03.00, ia kaget bukan kepalang, kemudian bergegas pulang, ia hendak berpamitan pada gadis cantik tersebut dan juga neneknya sebagai ungkapan terimah kasih karena sudah memberi tempat berteduh, namun gadis tersebut tidak dilihatnya, Burkat pun berfikir mungkin gadis tersebut sudah tertidur bersama neneknya, akhirnya ia pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya.

Perjalanan mencari arah pulang ke rumah dilalui Burkat penuh dengan lika-liku, tapi untunglah ia bisa tiba di rumah dengan selamat, ketika memasuki halaman rumahnya ia baru sadar kalau tas kerjanya ketinggalan di rumah gadis tadi.

“Ah biarlah.., besok besok aja di ambil,” guman Burkat dalam hati.

Ia mengetuk pintu beberapa kali, ketika pintu terbuka istrinya langsung merangkulnya erat dengan isakan tangis haru. Burkat jadi agak heran, memang dia terlambat pulang ke rumah, tapi ini kan bukan pertama kalinya, setiap ada pekerjaan kantor yang menumpuk ia sering pulang larut malam, tapi sikap istrinya kali ini benar-benar Ganjil.

Namun setelah masuk rumah dan istrinya bercerita dengan kondisi yang terjadi dia kaget setengah mati, hampir-hampir saja ia tidak percaya dengan apa yang barusan disampaikan istrinya, betapa tidak…!!!, ternyata dia sudah pergi selama tiga hari tiga malam, dan banyak teman-teman kerjanya datang ke rumah menanyakannya.

Keesekon harinya saat berangkat kerja Burkat berencana mengambil tas kerjanya yang tertinggal, ia menyisir jalan yang kemarin ia lalui, mulai dari kampung-kampung di desa Kaitmomaja sampai persawaan penduduk tempat dimana sepedanya lampunya mati, hingga pada akhirnya ia sampai tepat di sudut tikungan di bawah pohon Asam, akan tetapi ia heran sebab rumah kemarin yang ia singgahi tidak ada. Dan ketika ia melihat ke suatu pucuk pohon Kamboja yang berada tidak jauh dari pohon asam yang berdiri kokoh, hatinya jadi berdebar-debar, seketika bulunya kuduknya merinding. Hampir-hampir saja jantungnya copot, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya, Karena ia melihat tas kerjanya tersangkut di pucuk pohon kamboja, tepat di bawah pohon kamboja ada sebuah makam yang tak terawat yang banyak ditumbuhi rumput gerinting dengan batu nisan bertuliskan.

KEMUNING
Lahir: 14 Pebruari 1985
Wafat: 31 Desember 2002

TAMAT
Blog, Updated at: November 18, 2020

0 komentar:

Post a Comment