MITOS KUPU-KUPU
Pagi ini seperti biasa.....saya membawa gitar...saya ke padang rumput, saya duduk di bawah pohon besar. Di padang rumput itu hanya ada satu pohon besar yang....saya duduki saat ini, perlahan...saya memetik senar gitar yang mengeluarkan alunan yang indah. Ory, itulah nama....saya. Saya tinggal di rumah kecil dengah sawah hutan, beberapa KM dari rumah....saya terdapat jalan raya yang menghubungkan ke kota. Saya tinggal bersama nenek...saya, dimana desa ini masih percaya dengan mitos-mitos zaman dahulu. Namun saya....tidak mempedulikan itu. Gitar yang ku bawa ini, saya beli sendiri ke kota. Saya....memang jago bermain gitar.
Petikan gitar...saya ini mengundang seekor kupu-kupu yang indah. Berwarna putih dengan garis hitam mengikuti garis sayapnya. Baru pertama kali.....saya melihat kupu-kupu seindah itu. Kupu-kupu yang bercahaya! Cahayanya berwarna putih, menambah keindahan kupu-kupu itu. Lalu saya memberhentikan sejenak alunan gitar....saya. Saya menangkapnya dan mengajaknya ngobrol.
Seperti anak kecil saya, maklumlah di desa....saya ini tidak ada remaja yang seusia...saya. Jadi...saya selalu pergi ke kadang rumput untuk menghibur diri. Saya juga tidak bersekolah karena faktor biaya, namun sehari-hari nenek...saya selalu mendapat uang dari hasil kerja kami. Saya bekerja membantu nenek dengan cara menjual hasil panen ke kota, seharusnya diusia....saya yang masih terbilang muda ini bersekolah di tingkat SMA. Selain menjual hasil panen ke kota, saya juga mengajar ngaji anak-anak kecil di desa. Jangan heran jika....saya pandai bermain gitar, karena saya selalu mendapat buku-buku bekas dari orang kota. Di desa....saya ini juga ada banyak ustadz yang mengajari...saya mengaji.
Saya lanjutkan petikan gitar...saya, kupu-kupu yang indah itu seakan menari-nari di hadapan...saya. Subhanallah! Dengan indahnya kupu-kupu ini seakan mengerti arti alunan musik gitar... saya ini. Setelah berlama-lama di padang rumput, saya pulang ke rumah. Saya mengerjakan pekerjaan....saya sehari-hari.
Hingga sore pun tiba, setelah lelah bekerja pulang pergi ke kota. Saya pergi ke padang rumput itu lagi sambil membawa gitar. Lagi-lagi, kupu-kupu itu datang lagi. Sepertinya ia menyukai...saya hehehee. Kejadian bertemu kupu-kupu itu membuat....saya tak bisa tidur, masih terngiang-ngiang di benak...saya. Berhari-hari, berminggu-minggu saya memang selalu menemui kupu-kupu itu. Hingga saya tak nyaman dengan keadaan ini karena kupu-kupu itu selalu datang tepat waktu ketika saya membunyikan senar-senar gitar...saya, kemudian kupu-kupu itu selalu mengikuti...saya kemana..pun saya pergi. Sangat mengganggu bukan? Kemudian saya....menceritakan hal ini pada nenek.
"Nek, akhir-akhir ini...saya selalu diikuti kupu-kupu Nek. Dan anehnya lagi, setiap.....saya pergi ke padang rumput setiap pagi dan sore, kupu-kupu itu datang tepat waktu!" kata.. saya.
"Kupu-kupu? Bagaimana ciri-cirinya?" tanya nenek yang sambil meramu jamu.
"Kecil sih, warnanya putih bersih banget, terus ada garis hitam di pinggir sayapnya, dan bercahaya putih!"
"Kupu-kupu ituuu..." nenek terlihat sedang mengingat sesuatu, saya semakin bingung dengan nenek. Bukannya memberi....saya solusi, ia malah termangu.
"Sebaiknya, kamu bawa kupu-kupu itu ke sungai! Lalu, kamu cepat-cepat pulang!"
"Kenapa begitu? Aneh," kata...saya.
"Kamu tidak tahu cerita soal kupu-kupu bercahaya itu?" nenek bertanya pada...saya yang membuat saya semakin penasaran, sebenarnya ada apa di balik semua ini?
"Cerita apa sih Nek? Itu kan kupu-kupu biasa,"
"Kupu-kupu itu sebenarnya di desa ini hanya tinggal satu-satunya," kata nenek yang masih tetap meramu jamu.
"Emang nenek pernah ngitungin banyaknya kupu-kupu? Apa-apa sajaa," saya menanggapinya dengan cuek.
"Kamu tidak tahu ya, mau nenek ceritakan? Di desa ini ada mitos tentang kupu-kupu itu! Dan anehnya lagi, mitos itu terkadang masih itu terkadang masih dipercaya sama orang di desa ini,"
"Cerita nek ceritaa!" dengan senangnya saya mendengar cerita soal mitos desa, sambil mendengarkan nenek bercerita, saya merapikan rambut yang berantakan karena habis mandi.
"Dahulu, pas nenek masih muda, masih gadis, masih cantiiiikk jelita," kata nenek dengan PDnya.
"Lh nenek genit banget deh,"
"Iya, dulu pas nenek masih muda. Di desa ini pernah ada seorang laki-laki yang usianya sama kayak kamu Ry. Dia itu hobi berfoto ke padang rumput sampil nyanyi, memang suaranya bagus. Terus ada kupu-kupu seperti apa yang kamu ceritakan barusan, kupu-kupu in selalu menari-nari di depan si laki-laki itu, namun ia juga cuek. Beberapa hari kemudian kupu-kupu itu jadi selalu mengikuti laki-laki itu kemanapun ia pergi, sampai akhirnya."


0 komentar:
Post a Comment