LANTAI 66

Posted By Cerpen universal on Wednesday, January 13, 2021 | January 13, 2021

LANTAI 66

Namaku Hendra. Aku bekerja sebagai karyawan di PT Indah Sari. Aku bertugas di lantai 65 sebagai karyawan management. Saat gedung selesai direnovasi, aku dan temanku, Reza yang bekerja di bidang management dipindah ke lantai 66, karena pihak marketing di pindah ke lantai 65. Mau tidak mau kami memindahkan barang-barang serta komputer ke lantai 66.

“Eh, kok liftnya ndak ada ya?” Sebut Reza.

Aku membalas, “Ya iyalah, kan lantai baru liftnya juga belum dibuat.” Kami meletakkan barang-barang kami di ruangan management. Reza juga meletakkan komputernya di meja. Kami langsung menulis laporan tentang lantai 66. Lantai ini sepi, hanya kami yang bertugas di lantai ini. Pada jam 12 tepat tengah malam, kami bekerja lembur menyelesaikan laporan.

“Bro, kayaknya ada yang aneh di sini,” sebut Reza.

“Perasaan biasa-biasa aja kok,” ku balas.

“Lihat nih, bulu kudukku merinding, abis tadi aku lihat sosok putih di jendela,” kata Reza.

“Palingan cuma imajinasi lo aja.” sebutku. Kami bersiap pulang, Reza buru-buru membereskan barangnya. Lantai 66 ini dulu disebut lantai 13, karena banyak korban meninggal, maka diubah menjadi lantai 66. Aku juga merasakan bulu kudukku merinding mendengar cerita Reza tadi. Memang dulu ada cewek bunuh diri di aula dekat ruangan kami. Lalu, aula dekat ruangan kami direnovasi, dan diberi sesajen untuk memberi makan ruh gadis itu.

“Bro, kayaknya benar perkataanmu tadi, memang ada seorang gadis membunuh dirinya sendiri dengan cara menggantung diri di aula sebelah,” aku berkata.

“Berarti, sosok putih tadi memang benar ada, ndak palsu toh yo?” Jawab Reza dengan logat sok-jawanya. Saat kami selesai membungkus barang-barang kami, Reza berkata, “Bro, kemungkinan besar itu arwah gadis yang bunuh diri, sedang mencari sesajennya, cabut yok!” Kami ke luar dari ruangan dengan terburu-buru dan agak berlari, kami menuruni tangga dan cepat-cepat ke luar bangunan karena saking takutnya. Kos-kosanku dan Reza juga sama, jadi kami naik motor berdua menuju kos-kosan kami.

Setiba di kos-kosan, ibu kos sudah menunggu kami. “Loh, Kok Ibu belum tidur? ini sudah jam 1 pagi Bu,” sebut Reza.

“Ibu mendengar bahwa kalian dipindahkan ke lantai 66, lantai 66 itu, Ibu mau menceritakan tentang lantai itu. Dulu, lantai 66 dihuni oleh tiga sekawan, mereka bertiga perempuan, mereka sangat suka menginap di aula lantai 66. Sampai suatu ketika, salah satu gadis itu dipecat, karena sudah lama tidak menulis laporan yang bertumpuk, gadis itu tinggal sebatang kara, lalu gadis itu stres, dan menggantung dirinya sendiri di aula. Kebetulan, kedua gadis itu anak Ibu, dan gadis yang menggantung dirinya itu anak kos di sini sebelum kalian datang, dan biasanya hantu itu muncul jam sebelas malam jadi bergegaslah pulang sebelum jam 11 malam.”

Kami mendengar cerita bu Miranda dengan saksama, lalu kami pergi ke kamar masing-masing. Keesokan harinya, kami mengumpulkan laporan di kantor bos, dan kembali ke ruangan yang baru itu. Ruangan kami besar, sebesar ruangan SMP kami dulu. Mejaku dan Reza berhadapan, di belakangku ada jendela dengan pohon besar, jendela di mana Reza melihat sosok putih tersebut. Di dekat pintu terdapat beberapa buah-buahan dan bunga mawar untuk arwah gadis tersebut. Ada TV untuk menampilkan CCTV bangunan di dekat meja kami. Aku dan Reza diajak bos untuk mengamati pabrik kami yang baru, kami disuruh mencatatnya dan membuat laporan. Saat kami kembali ke kantor pusat, sesajennya telah hilang. Kami berpendapat bahwa kuntilanak gadis itu telah mengambil sesajen, tetapi ini baru pukul 10:30 malam.

Kemudian, terdengar suara perempuan meminta pertolongan, mereka cepat-cepat ke sumber suara dan ternyata, sumber itu berasal dari aula tempat gadis itu bunuh diri, mereka mengintip dari pintu aula, dan tidak melihat apa-apa. “Tadi tuh apaan?” Tanyaku.

“Perasaan tadi ku dengar orang minta tolong,” jawab Reza. Reza sadar bahwa itu adalah suara hantu ingin memancing kami. Jadi, kami bergegas lari ke ruangan management dan menyatukan kedua meja mereka, mengunci pintu, menutup jendela, dan bersembunyi. Ketakutan menyelimuti kami.

“Bro, gue takut, nih! Gimana kalau kita nginep aja, gue takut,” sebut Reza. Kebetulan, kami membawa selimut yang diambil dari kantin bawah tanpa sebab, istilahnya hanya iseng aja. Tepat jam dua belas malam, bel jam berbunyi. Kami teringat bahwa hantu itu telah ke luar dari aula. Kami terlentang dalam ketakutan, untungnya semua jendela dan pintu kami kunci dengan rapat. Tiba-tiba, handphoneku mengeluarkan suara dering.

“Halo? Kalian sedang apa, ini sudah hampir jam 12 malam, kalian tidak menjawab telepon Ibu, jadi Ibu mengirim pesan suara. Kalian tahu, kan bahwa hantunya akan segera keluar? Cepatlah, dan jangan tertidur! Jika kalian tertidur maka hantu itu akan datang untuk kalian,” pesan suara dari ibu Miranda. Padahal, tidak ada yang menelepon pada saat itu. Lalu, telepon kembali berdering. “Kalian pasti lagi tidur, aku seneng banget ngelihatin kalian tidur, aku ada di belakang kalian, loh! lihat ke belakang, dong kita main yuk!” Kami menoleh ke belakang, tetapi tidak ada apa-apa.

“Ih, palingan anak si bu kos yang iseng” sebut Reza.

“Emang kurang ajar, ya!” Balasku.

Saat kami bosan, kami bermain COC di handphone kami, kami sudah melupakan tentang hantu itu. Saat kami lagi asyik main Clash of Clans, lalu kami iseng-iseng melihat CCTV, karena sudah jam 1 pagi. Pagi masih buta dan orang-orang belum beraktivitas. Kami melihat jalan raya melalui CCTV, Reza melihat seorang perempuan, yang sedang bersandar di tiang lampu, lalu tiba-tiba CCTV jalan rusak. Entah mengapa, tetapi sambungannya terputus dan kami tidak dapat melihatnya lagi.

“Eh, Bro kamu merasa aneh, gak? Tadi ada cewek yang nyender di tiang listrik, terus CCTV-nya rusak?” tanyaku.

“Iya, ding aku jadi teringat tentang Ibu Miranda dan telepon iseng itu,” kata Reza. Tiba-tiba, Reza teringat untuk melihat kebelakang dan… tidak ada apa-apa. Imajinasi Reza itu sangat tinggi. Lalu, saat aku melihat CCTV, di koridor terlihat sosok putih berbaju hitam, sedang berlari dari ujung pintu WC ke depan pintu dan menggeram, karena CCTV kami dilengkapi oleh Sound System kami merinding, Reza keringat dingin dan kami bingung mau melakukan apa.

Setengah jam telah berlalu, bel berdentang menunjukkan jam 1.30 pagi, saat kami melihat CCTV, hantu itu pergi. Kami menyangka ini sudah berakhir. Tiba-tiba Kuntilanak tersebut sudah berada di depan pintu kami. Keringat dingin bercucuran, lampu mulai padam kecuali CCTV kami, karena dilengkapi dengan baterai cadangan. Lampu Emergency terpadam, entah mengapa. Terdengar suara gembok perlahan-lahan mulai terbuka. Suara angin dan suara rantai gembok bersatu menyiptakan suasana horor yang tepat, itu membuat kami bergetar setengah mati. Lalu, terlihat dari CCTV di atas kepala kami.

Hantu itu terlihat masuk ke dalam dengan tangannya yang lurus, tetapi kami tidak melihat hantu itu dengan mata sendiri, kami berusaha untuk kabur, tetapi hantu itu kembali mengunci pintu, sehingga kami tak bisa kabur. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan, Reza menelepon ibu kos, tetapi tidak dijawab sama sekali. Batrai HP Reza habis, dikarenakan main COC tadi. Aku berusaha menelepon bos dan polisi, tetapi hanya suara dering yang terdengar adalah. “Sisa pulsa anda adalah Rp. 55 penelepon terakhir anda adalah 086666666*** diharapkan segera mengisi pulsa sebelum menelepon lagi, terima kasih.” Kami sudah membayangkan nasib kami, meninggal digantung hantu. Aku sudah pasrah, tetapi Reza tidak.

Reza berusaha untuk membentengi kami dari hantu itu, menggunakan kursi, meja dan komputer, ia berjuang untuk menyelamatkan kami. Aku memikirkan suatu ide untuk ke luar dari tempat ini dan pulang dengan selamat. Kami sudah memikirkan untuk melompat dari jendela di dekatku, karena ada pohon besar yang dapat dipanjat untuk menyelamatkan kami. Reza berusaha memecahkan jendela itu, tetapi ia gagal dan tanpa sengaja melukai tangannya sendiri. Aku juga berusaha mengangkat kursi, dan berhasil memecahkan kaca. Kami ke luar melewati jendela, dan menuruni tangga Emergency karena tangganya kurang panjang.

Dari lantai tujuh kami melompat menuju pohon beringin, para petugas pemadam kebakaran dan ibu Miranda sudah menunggu kami di luar bangunan, kami diturunkan dengan selamat. Hantu itu melambai dengan raut senang. Reza dan aku pulang dengan selamat, tetapi saat Reza ke kamarnya, dia menghilang entah mengapa, ia tidak masuk kerja lagi sehingga hanya aku sendiri yang berada di lantai 13 alias 66 tersebut. Kemudian aku dipindah ke lantai bawah, ke pihak marketing. Aku hanyalah pekerja di bidang management yang tunggal, sehingga pekerjaanku menumpuk. Lalu, lantai 66 ditutup dan ruanganku di ubah menjadi gudang yang berisi barang bekas dari pihak marketing. Semuanya menjadi sediakala. Tetapi, di manakah Reza?
Blog, Updated at: January 13, 2021

0 komentar:

Post a Comment