SELAMAT BERBAHAGIA
“Aku mulai bosan dengan semuanya, semuanya sudah berbeda, kita tidak cocok,”
Aku cuma dapat terdiam mendengar ocehan dari dia, tatapan dia yang sangat dingin membuatku tidak dapat berkutik sama sekali.
Entah apa yang membuatku berkata “Terserah, pergi sana!”. Namun, hati menangis seraya berkata “Jangan pergi!”. Kemudian ia pun pergi meninggalkan cafe ini.
Seminggu kemudian.
Aku mengajak kembali ke cafe yang dulu menjadi cerita pahit antara kita berdua, bukan untuk melepas rindu kepadanya. Hanya ingin meminta maaf yang tak sempat tersampaikan.
“Kamu sibuk? Aku mau ajak kamu besok ke cafe tempat kita selalu berdua an,” Kataku melalui via telepon.
“Oke!” jawabnya.
Hari esok tiba, aku menunggu di cafe tersebut sekilas terbayang kata maaf yang tepat kepadanya. Langkah kakinya menuju kemari bersama kenangan yang sudah larut. Dia pun duduk, aku tidak mau basa-basi dengannya.
“Aku mau meminta maaf,” ucapku dengan terbata-bata. “Aku yang salah,”
“Iya.”
“Aku minta maaf.”
“Iya, aku memafkanmu.”
“Aku menyesal."
“Terserah.”
“Aku mau ba…” belum selesai pembicaraanku, tiba-tiba ia memotongnya, seakan ia telah mengetahui apa yang akan aku katakan.
“Aku enggak bisa Ri, aku sudah memiliki pacar”
Aku terkejut mendengarnya. Betapa hancurnya hati ini saat mendengar kata-kata tersebut, seakan bendungan yang ada di hati ini roboh.
“Aku pergi, pacarku sudah jemput tuh, selamat tinggal” ucapnya tanpa memikirkan kata-kata yang telah dia katakan.
Aku sangat menyesal, menyesal dengan permintaan maafku kepadanya. Sia-sia aku mencintai seseorang yang selama ini ternyata hanya mementingkan dirinya sendiri. EGOIS, ya.. itu kata yang cocok buatnya. Selamat berbahagia!


0 komentar:
Post a Comment