RUMAH ANGKER JOGJA
Ini kisah nyata yang dialami olehku. Waktu itu sekitar tahun 2003, Papaku ditugaskan kerja di Yogyakarta di salah satu bank BUMN. Dan bertepatan dengan itu, merupakan tahun pertamaku kuliah di salah satu universitas negeri ternama di kota itu. Karena Papaku ditempatkan sebagai kepala cabang, maka kami dapat fasilitas rumah dinas dari kantor Papa, sebuah rumah tua di daerah Kota Baru.
Itu kali pertamanya aku harus tinggal terpisah dari Mama dan adik-adikku, karena saat itu adik-adikku masih bersekolah di Purwokerto dan Mamalah yang harus menjaga mereka di sana. Rumahnya sangat luas, dengan taman besar di bagian belakang rumah, dikelilingi kamar-kamar kosong. Sepertinya dulu rumah ini adalah sebuah kos-kosan. Rumah bagian depan terdiri dari tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga super besar di bagian tengah rumah, dan dapur di bagian belakang rumah. Awal masuk ke rumah itu, hawanya memang agak aneh, tapi tidak ku hiraukan karena aku terlanjur terpukau dengan besarnya rumah tersebut. Justru awalnya aku berpikir akan menyenangkan tinggal di rumah sebesar ini. Ternyata pikiranku itu salah besar jika aku tahu teror seperti apa yang akan menghantuiku.
Karena kesibukan Papa di kantor, maka Papa mempekerjakan pembantu rumah tangga di rumah kami. Tapi entah kenapa, tidak ada satu pembantu pun yang betah berlama-lama menetap di rumah itu. Alasannya sih karena mereka merasa selalu diteror dan ditakut-takuti oleh makhluk halus di rumah itu. Pembantu pertama bernama Mbak Siti, dia sering bercerita padaku bahwa setiap pagi buta, sekitar jam 2 atau jam 3 pagi, selalu ada suara orang memalu dinding dapur. Karena kamarnya langsung berbatasan dengan dinding dapur tersebut, Mbak Siti hampir setiap malam terbangun karena suara kencang dinding yang dipalu, tepat di samping kamarnya. Jika di-logika, mana ada sih orang yang pagi-pagi buta memalu dinding, hampir setiap hari pula.
Awalnya aku tidak percaya kalau itu perbuatan makhluk halus karena sampai beberapa lama aku tinggal di sana, tidak ada gangguan yang ku rasakan. Akhirnya sekitar 3 bulan kemudian, Mbak Siti berpamitan untuk pulang kampung karena dia melihat kursi di kamarku bergeser sendiri saat dia sedang menyapu. Pembantu kedua bernama Mbak Yuni, mengalami hal yang sama dengan Mbak Siti. Sama persis. Dia mendengar orang memalu di pagi hari dan benda-benda bergeser sendiri dari tempatnya. Tidak lama kemudian dia pun berpamitan. Hal yang sama juga terjadi pada pembantu lainnya.
Aku sebenarnya tidak terlalu percaya pada keberadaan makhluk halus, lebih tepatnya tidak mau percaya karena toh sampai saat ini aku belum pernah sekalipun melihat atau merasakan keberadaan mereka. Sampai suatu sore aku sedang sendirian di dalam rumah karena saat itu kami sedang tidak punya pembantu. Aku sedang tidur-tiduran di kamar Papa sambil belajar karena besok ada ujian. Di bagian kepala tempat tidur Papa ada semacam meja dipan dan di atasnya ada patung Bunda Maria yang besar. Saat aku sedang asyik belajar, aku seperti merasakan perasaan dingin dan bulu kudukku tiba-tiba merinding. Aku melihat ke bagian atas kepalaku ke arah patung Bunda Maria dan melihat bayangan super besar berwarna hitam seolah sedang menatapku dari atas.
Seketika itu juga aku bangun dan berlari ke luar kamar sambil ketakutan. Aku tidak mungkin salah lihat, itu benar-benar bayangan hitam besar yang ada di atas kepalaku tadi. Aku duduk di ruang keluarga, masih dalam ketakutan besar dan gemetar, aku menelepon Papa yang masih di kantor dan berteriak sambil hampir menangis dan memintanya untuk cepat pulang. Aku menunggu Papa di luar rumah sampai Papa pulang. Papa terlihat khawatir mendengar ceritaku dan berusaha menenangkanku. Hari-hari setelah itu, teror terus berlanjut. Aku mulai mendengar hantaman palu di dinding dapur setiap pagi buta dan benda-benda mulai berpindah tempat dalam penglihatanku.
Akhirnya Papa memutuskan untuk memanggil “orang pintar”. Agak aneh memang, karena keluargaku tidak pernah percaya hal-hal seperti itu sebelumnya. Pak Budi namanya. Setelah berkeliling rumah kami, Pak Budi bercerita kepadaku dan Papa, bahwa memang rumah itu ada penunggunya, yaitu seorang nenek tua dan tempat favoritnya adalah di kamarku sendiri. Aku merinding begitu mendengar ceritanya. Bayangan hitam besar yang ku lihat di kamar Papa kemungkinan adalah makhluk halus yang sama, yang mungkin di mata setiap orang bisa berbeda-beda wujud dan bentuknya.
Akhirnya Pak Budi melakukan semacam ritual dan menanam sebuah batu di bawah pohon palem di taman depan rumah. Katanya makhluk halus itu seharusnya tidak akan mengganggu lagi. Tidak lama setelah itu, Papaku pensiun dan pindah ke rumah di Purwokerto bersama Mama dan adik-adikku. Karena itu rumah dinas dari kantor, maka aku juga harus hengkang dari sana dan memulai kehidupan anak kost. Aku bersyukur karena akhirnya bisa pindah dari rumah itu. Dan sampai saat ini aku bertanya-tanya siapa lagi orang yang tinggal di sana setelah kami ya? Apakah mereka juga mengalami teror yang sama?


0 komentar:
Post a Comment