PENUH SESAK
“Pagi, Bunda!” sapaku dengan senyum yang terhias di sudut bibirku.
“Pagi..” jawab Bunda yang masih sibuk dengan masakannya.
Tak berselang lama, kakak lelakiku pun datang dengan seragam putih abu abunya yang rapih. Ayah dan kakak perempuanku pun juga.
“Bun, aku gak sarapan ya pagi ini? udah kesiangan soalnya,” ucapku pada Bunda dengan mata yang melirik arloji di tanganku.
“Bawa sarapannya aja gimana? berangkatnya di anterin Pak Jeje naik mobil, kan?” ucap Bunda yang menatapku penuh harap.
Pasalnya setiap kali aku bangun kesiangan, aku pasti berangkat sekolah menggunakan sepeda. Karena jarak rumah dan sekolah tak begitu jauh. Tapi tetap saja Bunda khawatir aku kenapa kenapa.
“Gak usah, aku berangkat naik sepedaku aja. kan sekolah deket,” jawabku keukeuh.
Kulihat Bunda menghela nafas beratnya.
“Pokoknya Bunda udah siapin sarapan buat kamu! Nih, bawa! Jangan lupa di makan” ucap Bunda menyodorkan kotak bekal berwarna biru padaku.
“Iya deh,” jawabku pasrah.
Lalu segera beranjak dari dudukku, mengucapkan salam pada Bunda dan Ayah.
“Pagi..” jawab Bunda yang masih sibuk dengan masakannya.
Tak berselang lama, kakak lelakiku pun datang dengan seragam putih abu abunya yang rapih. Ayah dan kakak perempuanku pun juga.
“Bun, aku gak sarapan ya pagi ini? udah kesiangan soalnya,” ucapku pada Bunda dengan mata yang melirik arloji di tanganku.
“Bawa sarapannya aja gimana? berangkatnya di anterin Pak Jeje naik mobil, kan?” ucap Bunda yang menatapku penuh harap.
Pasalnya setiap kali aku bangun kesiangan, aku pasti berangkat sekolah menggunakan sepeda. Karena jarak rumah dan sekolah tak begitu jauh. Tapi tetap saja Bunda khawatir aku kenapa kenapa.
“Gak usah, aku berangkat naik sepedaku aja. kan sekolah deket,” jawabku keukeuh.
Kulihat Bunda menghela nafas beratnya.
“Pokoknya Bunda udah siapin sarapan buat kamu! Nih, bawa! Jangan lupa di makan” ucap Bunda menyodorkan kotak bekal berwarna biru padaku.
“Iya deh,” jawabku pasrah.
Lalu segera beranjak dari dudukku, mengucapkan salam pada Bunda dan Ayah.
10 menit sudah aku sampai di halaman sekolahku. Sekolah yang sudah 2 tahun ini mengajarkanku banyak hal. Dengan wajah berseri aku berjalan menuju kelasku. Tiba tiba samar samar kudengar suara seseorang meneriaki namaku. Awalnya kuhiraukan teriakan itu, mungkin aku salah dengar, pikirku. Namun tak lama kudengar suara derap langkah yang berada dekat di belakangku. Siapa dia? gumamku dalam hati dengan perasaan kalut. Karena sekolah masih lumayan sepi. Tiba tiba, Bugh! terasa ada tangan yang mencekal pelan bahuku dengan nafas memburu. Segera kubalikan tubuhku. Dengan tanpa sengaja aku pun berteriak kaget.
“Kyaaaa!” teriakanku beradu dengan teriakan Tania.
Yaps! seseorang yang mencekal pelan bahuku itu ternyata Tania, sahabatku.
“Kamu ngagetin aku tau!” gerutuku kesal.
“Kamu juga sih! aku panggil panggil gak nyaut nyaut, aku pegang bahu kamu, kamu malah teriak bikin aku kaget! Kan bete!” timpalnya dengan wajah yang membuatku tak kuat menahan gelak tawa.
Aku tak pernah bisa berlama lama marah padanya.
“Yaudahlah, lupain. Kita masuk ke kelas sekarang! aku belum ngerjain tugas PKN, jadi aku minjem catetan kamu!” ucap Tania yang menarikku tak sabaran.
“Maksud kamu mau nyontek ke aku?” tanyaku memperjelas.
Ia mengangguk. Huh! kebiasaannya kumat deh! gerutuku dalam hati. Bell istirahat telah berbunyi 2 menit yang lalu. Aku dan Tania pun beranjak dari bangku kami dan pergi menuju kantin sekolah. Saat sedang berjalan di koridor kelas 7 Tania berkata, “Put, kamu tau kabar terbaru tentang idol sekolah ini?” tanya Tania yang menatapku dengan seksama. Dengan polos ku menggelengkan kepalaku tak tahu. Tania membuang nafasnya pasrah. Aku menatapnya dengan tatapan seakan aku berkata, “Kenapa?”.
“Aku ceritain nanti setelah kita selesai makan,” ucap Tania dengan wajah yang serius.
Ada apa sebenarnya? Mengapa Tania seserius itu? Tak seperti biasanya, gumamku dalam hati.
“Kyaaaa!” teriakanku beradu dengan teriakan Tania.
Yaps! seseorang yang mencekal pelan bahuku itu ternyata Tania, sahabatku.
“Kamu ngagetin aku tau!” gerutuku kesal.
“Kamu juga sih! aku panggil panggil gak nyaut nyaut, aku pegang bahu kamu, kamu malah teriak bikin aku kaget! Kan bete!” timpalnya dengan wajah yang membuatku tak kuat menahan gelak tawa.
Aku tak pernah bisa berlama lama marah padanya.
“Yaudahlah, lupain. Kita masuk ke kelas sekarang! aku belum ngerjain tugas PKN, jadi aku minjem catetan kamu!” ucap Tania yang menarikku tak sabaran.
“Maksud kamu mau nyontek ke aku?” tanyaku memperjelas.
Ia mengangguk. Huh! kebiasaannya kumat deh! gerutuku dalam hati. Bell istirahat telah berbunyi 2 menit yang lalu. Aku dan Tania pun beranjak dari bangku kami dan pergi menuju kantin sekolah. Saat sedang berjalan di koridor kelas 7 Tania berkata, “Put, kamu tau kabar terbaru tentang idol sekolah ini?” tanya Tania yang menatapku dengan seksama. Dengan polos ku menggelengkan kepalaku tak tahu. Tania membuang nafasnya pasrah. Aku menatapnya dengan tatapan seakan aku berkata, “Kenapa?”.
“Aku ceritain nanti setelah kita selesai makan,” ucap Tania dengan wajah yang serius.
Ada apa sebenarnya? Mengapa Tania seserius itu? Tak seperti biasanya, gumamku dalam hati.
Berhubung pelajaran terakhir hari ini free, gurunya tak masuk, Tania dengan puasnya menceritakan cerita yang ia gantung tadi.
“Ada apa sih? kok kamu serius banget!” tanyaku memasang tampang kebingungan.
“Aku tau kamu suka sama Fandy, anak kelas sebelah…” ucapnya yang membuatku duduk membeku.
Aku tak mengelak, karena faktanya memang benar, aku menyukai Fandy sejak 1 tahun lalu. Kemudian Tania melanjutkan ucapannya, “Aku gak ada maksud buat bikin kamu patah hati, atau apalah itu!” ucap Tania gantung. Yang kali ini membuatku merasakan perasaan tak enak.
“Kamu kenapa sih, Tan? tiba tiba kamu nanyain aku suka sama Fandy, terus bahas soal dia dan sekarang kamu bilang gak bermaksud buat aku patah hati? maksudnya apa sih??” tanyaku yang sungguh mulai sesak. Entah mengapa, tiba tiba saja aku merasakannya. Tania menghela nafasnya panjang, aku menantikan kelanjutan ceritanya. “Dia udah punya pacar!” DEG! dengan lantang Tania mengeluarkan kalimat semacam petir bagiku. Sakit, sungguh sakit! Pria yang selama ini aku puja ternyata telah menjadi milik wanita lain?! Perih rasanya hati ini. Dengan seketika senyum getir terhias di bibirku.
“Yaudahlah, Tan.. itu emang hak dia buat punya pacar. Hak aku ngelarang dia apa? aku cuma pengagumnya, mencintainya diam diam tanpa apa niat buat ngungkapin perasaan ini ke dia,” jawabku yang aku tau Tania menatapku penuh rasa iba.
“Kamu gak benci sama dia?” tanya Tania menatapku dengan ragu.
Aku menghela nafasku, lalu tersenyum dengan anggukan kecil. Tiba tiba Tania memelukku sangat kencang, hingga aku merasa dadaku semakin sesak. 1,2,3 dan seterusnya aku merasa ada tetesan air mata yang jatuh di bahuku. Aku mengerti, Tania merasakan perasaanku saat ini. “Kamu harus tau! kalo aku akan selalu ada buat kamu disaat semua orang menyakitimu!” ucap Tania yang membuatku menjatuhkan air mataku di bahunya. Aku tak berbicara apa apa, aku hanya bisa mengangguk.
“Ada apa sih? kok kamu serius banget!” tanyaku memasang tampang kebingungan.
“Aku tau kamu suka sama Fandy, anak kelas sebelah…” ucapnya yang membuatku duduk membeku.
Aku tak mengelak, karena faktanya memang benar, aku menyukai Fandy sejak 1 tahun lalu. Kemudian Tania melanjutkan ucapannya, “Aku gak ada maksud buat bikin kamu patah hati, atau apalah itu!” ucap Tania gantung. Yang kali ini membuatku merasakan perasaan tak enak.
“Kamu kenapa sih, Tan? tiba tiba kamu nanyain aku suka sama Fandy, terus bahas soal dia dan sekarang kamu bilang gak bermaksud buat aku patah hati? maksudnya apa sih??” tanyaku yang sungguh mulai sesak. Entah mengapa, tiba tiba saja aku merasakannya. Tania menghela nafasnya panjang, aku menantikan kelanjutan ceritanya. “Dia udah punya pacar!” DEG! dengan lantang Tania mengeluarkan kalimat semacam petir bagiku. Sakit, sungguh sakit! Pria yang selama ini aku puja ternyata telah menjadi milik wanita lain?! Perih rasanya hati ini. Dengan seketika senyum getir terhias di bibirku.
“Yaudahlah, Tan.. itu emang hak dia buat punya pacar. Hak aku ngelarang dia apa? aku cuma pengagumnya, mencintainya diam diam tanpa apa niat buat ngungkapin perasaan ini ke dia,” jawabku yang aku tau Tania menatapku penuh rasa iba.
“Kamu gak benci sama dia?” tanya Tania menatapku dengan ragu.
Aku menghela nafasku, lalu tersenyum dengan anggukan kecil. Tiba tiba Tania memelukku sangat kencang, hingga aku merasa dadaku semakin sesak. 1,2,3 dan seterusnya aku merasa ada tetesan air mata yang jatuh di bahuku. Aku mengerti, Tania merasakan perasaanku saat ini. “Kamu harus tau! kalo aku akan selalu ada buat kamu disaat semua orang menyakitimu!” ucap Tania yang membuatku menjatuhkan air mataku di bahunya. Aku tak berbicara apa apa, aku hanya bisa mengangguk.
Bell pulang berbunyi, aku berjalan lebih lambat hari ini. Entahlah, rasanya hati ini membuat energiku terkuras. Tania terus saja membujukku untuk pulang bersamanya, tapi terus saja juga aku menolaknya dengan halus. “Aku bawa sepeda, Tan” alasan yang aku berikan pada Tania. Aku tak bohong. “Oke, aku ngalah. Aku pulang duluan ya, Put? jangan banyak mikirin yang gak pasti!” pesan Tania sebelum ia menghilang masuk ke dalam mobil mazda hitam jemputannya. Aku membalas lambaian tangan Tania.
Terhitung 5 langkah lagi aku sampai di tempat aku memarkirkan sepeda kesayanganku. Namun padanganku melihat 2 manusia yang berbeda jenis sedang bercanda dan tertawa di depan sepedaku. Kuberanikan diri untuk maju, mengambil hakku atas sepedaku yang menjadi saksi kemesraan mereka.
“Permisi, saya mau ngambil sepeda saya,” ucapku saat mereka menatapku penuh keheranan.
“Oh? ya, silahkan.” ucap manusia yang berjenis kelamin sepertiku.
Pria itu, tatapan itu, menatapku tajam penuh arti. Aku tak mengerti. Setelah kuambil sepedaku, aku segera menggoes kencang hingga aku menjauhi mereka. Entah salah dengar atau tidak, aku mendengar pria itu, atau lebih tepatnya Fandy bergumam, “Aku cinta kamu, Put” tapi mana mungkin! Ya, jelas! Sepertinya aku salah dengar! Segera kutancap goesanku untuk lebih cepat pulang, menangis menumpahkan segala sesak di dada. Hatiku penuh sesak atas cinta yang kuberikan setulus ini pada pria yang telah menjadi milik orang.
“Permisi, saya mau ngambil sepeda saya,” ucapku saat mereka menatapku penuh keheranan.
“Oh? ya, silahkan.” ucap manusia yang berjenis kelamin sepertiku.
Pria itu, tatapan itu, menatapku tajam penuh arti. Aku tak mengerti. Setelah kuambil sepedaku, aku segera menggoes kencang hingga aku menjauhi mereka. Entah salah dengar atau tidak, aku mendengar pria itu, atau lebih tepatnya Fandy bergumam, “Aku cinta kamu, Put” tapi mana mungkin! Ya, jelas! Sepertinya aku salah dengar! Segera kutancap goesanku untuk lebih cepat pulang, menangis menumpahkan segala sesak di dada. Hatiku penuh sesak atas cinta yang kuberikan setulus ini pada pria yang telah menjadi milik orang.
Dan kini aku mengerti, bahwa dia tercipta bukan untukku. Aku hanya mampu mencintainya dalam diam, tanpa syarat. Melukai hatiku dengan ulahku sendiri.
Terimakasih, pernah memberiku seulas senyum di pagi hari. Secarik kisah cinta yang penuh arti. Penantian yang terpampang jelas, bahwa kini aku akan berhenti. Mengikhlaskan kamu dengan wanita pilihanmu.
Terimakasih atas segalanya,
untuk kamu


0 komentar:
Post a Comment